Rakyat Merdeka Online

Home   

Share |

Sardan Marbun: Tokoh Agama Hendaknya Tidak Bermain Politik
Selasa, 18 Januari 2011 , 00:21:00 WIB

SARDAN MARBUN
  

RMOL.Staf  Khusus Presiden bidang Komunikasi, Sardan Marbun mengatakan, bahwa dirinya belum mendengar pendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait adanya isu pemakzulan yang dilontarkan para tokoh agama.

“Saya belum dengar pendapat beliau secara spesifik. Tapi beliau (Presiden) nanti (Senin,17/1) malam akan mengumpulkan to­koh-tokoh agama untuk ber­dialog,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.  

Sebelumnya juga, politisi PKB Effendi Choirie berpendapat pe­makzulan merupakan solusi ter­akhir, apabila rakyat merasa ke­cewa kepada pemerin­tah. SBY.

“Pemak­zu­­lan ka­lau dari DPR/MPR, saya tidak yakin. Tetapi rakyat ber­gerak dan kekece­waan­nya bisa dikoordi­nasikan dan konsolida­sikan. Itu kan bisa seperti Soe­harto yang akhir­nya mundur dari kursi Pre­siden,” kata pria yang akrab disapa Gus Choi ini saat ditanya apakah kekece­waan rakyat bisa berakhir pemak­zulan kepada SBY.

Hal ini disampai­kan Effendi usai menghadiri acara Perte­muan Meja Bundar 100 Tokoh Pergera­kan 2011, kemarin, di Gedung Juang 1945, Jalan Men­teng Raya, Jakarta.

Menurutnya, rakyat selama ini kerap mengkritik kebijakan pe­merintah namun tidak ada res­pons yang berarti. Gus Choi menilai pemakzulan bisa menjadi solusi jika rakyat telah sangat kecewa.

“Diingatkan selama ini oleh LSM, Pansus kan tidak ada peru­bahan. Solusi yang langsung di­ambil oleh suatu gerakan untuk pemakzulan solusi ter­akhir. Tidak ada solusi lain. Pemak­zu­lan akan lebih mudah di­capai,” paparnya.

 Sardan Marbun selanjutnya mengatakan, kritikan dari tokoh agama tentu akan didengarkan SBY. Tapi kalau bicara pemak­zulan itu tentu tidak masuk akal.

“Soal pemakzulan, memang apa masalahnya. Setiap perma­salah tentu ada solusinya, ini akan diatasi pemerintah. Jadi, nggak perlu pemakzulan,’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Sejauhmana reaksi Presiden terhadap kritikan yang disam­pai­kan tokoh agama?

Presiden terus mendengarkan kritikan dan pemikiran yang di­sampaikan tokoh agama itu. Sesungguhnya, beliau akan terus memikirkan sesuai dengan sistem dan logika yang benar.

Bagaimana tanggapan peme­rintah tentang adanya isu pe­mak­zulan?

Segala sesuatunya kan sudah diatur oleh Undang-undang, se­hingga tidak segampang itu mela­kukan pemakzulan. Tentu ada dasarnya untuk sampai ke sana (pemakzulan). Kita ikuti saja peraturannya.

Pemakzulan melalui DPR/MPR memang agak berat, te­tapi kalau rakyat bergerak dan  dikoordinasikan tentu bisa ter­jadi pemakzulan, bagaimana ko­mentar Anda?

Sejauh ini kita (pemerintah) melihat rakyat tidak serta merta  melakukan sesuatu kalau tidak ada penyebabnya. Rakyat pada umumnya dapat menerima kon­disi ini.

Pemerintah sudah bekerja ke­ras, displin, dan semua sistem di­benahi semaksimal mungkin. Walaupun ada kekurangan, tapi semua masih dalam proses. Pe­me­rintah tidak mungkin ber­leha-leha dan berpangku tangan. Ne­gara kita sudah semakin maju. Bukti­nya negara luar saja me­muji.

Apakah kritikan dari tokoh agama dan kritikan  dari rakyat selalu direspons secara positif?

Ya, tentu dong. Setiap surat dan SMS yang diterima, selalu kita tanggapi. Tapi kalau orang-orang­­nya yang mengkritik itu hanya mencari-cari kesalahan dan orangnya itu-itu saja, tentu tidak perlu harus ditanggapi terus. Tapi kalau rakyat yang meng­kritik de­ngan pertanyaan yang logis sesuai fakta, tentu patut ditanggapi.

Apa SBY tidak khawatir kon­disi ini bisa berakhir seperti tahun 1998?

Janganlah  berandai-andai, ter­buai-buai, dan terombing-ambing dengan isu-isu yang beredar di luar.  Isu-isu itu memang jadi ma­sukan dan harus kita pelajari.

Yang jelas,  Presiden selalu ya­kin dong dengan apa yang dilaku­kannya. Ini semua positif dan sudah banyak perbaikan.

Berarti sampai saat ini Pre­siden masih tenang-tenang saja menghadapi kritikan itu?

Ya, tenang dalam arti berpikir dan  bekerja keras untuk rakyat. Sebab, yang memilih beliau ada­lah rakyat. Jadi, yang menentu­kan juga harus  rakyat.

Tapi kalau ada yang mengatas­namakan rakyat, tentu harus dilihat siapa yang mengaku itu, kan begitu.  Apakah omongannya itu betul atau jangan-jangan me­ngaku saja atas nama rakyat.

Beliau memang tidak bisa tidur karena pekerjaan untuk rakyat. Tapi kalau karena gangguan-gangguan, ya nggak usah kita pikirin.

Kalau gerakan moral yang disampaikan tokoh agama ini di­terima mahasiswa, bagai­mana tanggapan Anda?

Itu harus dikaji, dipelajari, dan dievaluasi secara mendalam. Sebab, saya dapat dari beberapa sumber, bahwa sebagian konsep­nya tidak begitu. Tapi sebagian yang kumpul di situ memang ada pula interest politik.

Kalau tokoh agama sudah mem­punyai interest politik, me­nurut saya, sudah nggak benar, dan tanda tanya. Harusnya, tokoh agama yang mempunyai suatu pendapat, datanglah memberi solusi,  ini yang harus dikerjakan, dan ini kekurangannya. Tidak bermain politik

Oh ya, apa Anda sebelumnya mengetahui isi pemakzulan?

Itu kan yang keluar ke permu­kaan tentang adanya putusan Mahkamah Konstitusi. Itulah diangkat-angkat dan dikaitkan dengan pemakzulan. Kita ini ha­rusnya konsentrasi ke pembangu­nan. Bukan masalah politik yang didengung-dengungkan. Kalau politik kan nanti di 2014.

Rakyat kecewa dengan pe­nanga­nan kasus Gayus, ini ber­dampak terhadap penilian ter­hadap pemerintah yang dinilai kurang serius dalam pembe­ran­tasan korupsi?

Soal kasus Gayus Tambunan tidak bisa dijadikan patokan bahwa korupsi itu bertambah. Te­rus terang dengan adanya kasus Gayus, itu bukan sebuah kegaga­lan. Buktinya,  satu per satu kasus Gayus terungkap sesuai dengan sistem. Jadi, ini bukan kegagalan.  Perlu kita ketahui bahwa pem­be­ran­tasan korupsi itu memerlukan waktu yang panjang. Mungkin 15 atau 20 tahun. Jadi, ya harus bersabar.

Kalau soal kemiskinan be­lum bisa diatasi pemerintah, ba­gai­mana komentar Anda?

Masalah kemiskinan sudah ada pengurangan dari tahun ke tahun. Kemiskinan itu bukan saja di Indo­nesia, tapi masalah negara lain juga. Ada pengangguran bu­kan berarti tidak ada kemajuan.

Dari tahun ke tahun sesuai de­ngan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Ren­cana Kerja Pemerintah (RKP) ada kemajuan yang dicapai.

Memang belum dicapai secara keseluruhan. Sebab, semua kan masih dalam proses. Jadi, kalau dikatakan kritikus bahwa kemis­kinan masih ada. Memang masih ada. Itu tidak bisa sekejap mata untuk dihilangkan. Memang be­lum sejahtera semuanya. Tapi kondisi sekarang ini lebih bagus dari pemerintahan sebelumnya. Kan kita menganut, hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan hari esok lebih baik dari hari ini. [RM]



Baca juga:
Solahuddin Wahid: Nggak Niat Ikut Capres 2014 Kami Hanya Mengkritisi Saja
Tjahjo Kumolo: Kami Tidak Pada Posisi Berjuang Masuk Kabinet
Said Aqil Siradj: Meski SBY Memuji NU Kami Tetap Lakukan Kritik
Tjatur Sapto Edy: Polisi Belum Menyentuh Orang Yang Memberi Uang ke Gayus
Darmono: Ini Masalah Waktu saja Adrian Bakal Diekstradisi


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Depe Dipolisikan Bos Lamborghini

Johnson yang sudah beranak-istri merasa tercoreng. Depe bakal dilaporkan d ...

 

Maudy Ayunda, Kuliah Di Inggris Sering Digombali Bule

Maudy Ayunda menjalani pendidikan di Oxford University, Inggris. Meski ...

 

Lee Min Jung, Ngumpet Di Prancis Setelah Suami Digosipin Selingkuh

Kabar perselingkuhan Lee Byung Hun menjadi sorotan publik Korea Selatan. A ...

 

Avril Lavigne, Pengen Punya Anak Malah Mau Cerai

Pernikahan Avril Lavigne dengan Chad Kroeger tengah berada di ujung tanduk ...

 

Aura Kasih, Nangis, Digosipin Simpanan Pejabat

Sampai sekarang mengaku masih jomblo. Ogah dipacari duda, takut bermasalah ...


Berita Populer

Puteri Bung Karno: Jokowi Tak Layak Dilantik Jadi Presiden!
Jokowi Sangat Beralasan Tak Dilantik, JK yang Jadi Presiden
Soal Pilkada Langsung, Ray Rangkuti Ungkap Tipu Muslihat SBY