Senin, 19 September 2011 , 16:31:00 WIB
![]() DENNY JA/IST | |
RMOL. Hasil survei tidak bisa dijadikan patokan untuk melakukan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II. Karena memang citra pemerintah naik turun tergantung situasi yang berkembang pada saat-saat tertentu. Di samping itu juga, responden hanya diajukan pertanyaan tunggal.
"Itu kan sama juga, bukan satu analisa yang kemudian diambil garis-garis kesimpulan. Tapi hanya langsung pertanyaan orang per orang dan kemudian orang itu jawab sesuai pertanyaan. Misalnya, bagaimana pemerintahan bagus atau tidak," papar Ketua Fraksi Demokrat, Jafar Hafsah di gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (19/9).
Jafar mengakui, memang kepercayaan terhadap pemerintah bisa diopinikan tidak puas. Tapi, kata dia menekankan, bukan berarti hasil itu menunjukkan kepercayaan publik terhadap pemerintah rendah.
Penjelasan Jafar ini menanggapi riset terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) besutan Denny J.A yang mengenai tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah SBY yang anjlok hingga 37,7 persen. Dengan temuan ini, LSI menyarankan SBY segera merombak susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.
Kendati begitu, Jafar tidak menampik jika dikatakan hasil survei LSI tersebut mencerminkan performa pemerintah secara keseluruhan.
"Mencerminkan, tapi itu adalah opini masyarakat tentang pada situasi tertentu. Misalnya di benak dia bagaimana persoalan hukum, mungkin saja dia merasa ada keinginan-keinginan atau ketidakpuasan pada aspek hukum maka dia akan menjelaskan," terangnya.
Artinya hasil survei menjadi penguatan untuk reshuffle?
"Oh, kalau itu terkadang ada terkait, terkadang tidak. Tetapi yang pasti kalau soal reshuffle itu adalah hak prerogatif presiden," jawabnya. [zul]
















