Rakyat Merdeka Online

Home

Share |

Gayusisme, Dhanaisme dan Patologi Birokrasi
Oleh: Dewi Aryani
Senin, 05 Maret 2012 , 15:05:00 WIB

GAYUS TAMBUNAN/IST
  

GAYUS Tambunan dan Dhana Widyatmika tiba-tiba saja mendadak menjadi orang yang terkenal saat ini di Indonesia. Bukan karena prestasinya di birokrasi meningkatkan penerimaan pajak, tetapi justru karena perbuatannya telah memperkokoh keyakinan tentang buruknya birokrasi Indonesia. Tidak semua birokrat seperti Gayus dan Dhana tetapi kelemahan sistem organisasi seperti dituliskan oleh Caiden, seorang pakar ternama reformasi administrasi, telah membentuk citra menyeluruh mengenai buruknya birokrasi Indonesia.

Tulisan singkat ini akan menjelaskan bagaimana menjelaskan fenomena Gayusisme dan Dhanaisme sebagai salah bentuk penyakit birokrasi terparah di negeri ini.

Vices, maladies, and sickness of bureaucracy constitute bureaupathologies. They are not individual failings of individuals who compose organizations but the systematic shortcomings of organizations that cause individuals within them to be quilty of malpractices. (Gerald E. Caiden, 1991).

Maladministrasi dan Penyakit Birokrasi

Apa yang terjadi dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh Gayus dan Dhana sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam birokrasi di Indonesia. Selain itu, jumlahnya pun tidak begitu besar dibandingkan dengan kasus-kasus serupa yang belum atau tidak terungkap. Tetapi tetap harus disyukuri bahwa akhirnya kesadaran tentang korupsi dalam birokrasi semakin terbuka lebar dengan terkuaknya kasus Gayus dan Dhana juga kasus kasus lainnya.

Maladministrasi yang saat ini mungkin dapat disebut dengan Gayusisme dan Dhanaisme atau nama lain yang barangkali akan segera muncul sebenarnya bukanlah kesalahan yang bersifat individual, tetapi timbul karena kelemahan sistematik dari organisasi birokrasi. Rumah tahanan, penjara dan lembaga pemasyarakatan mungkin akan penuh dengan birokrat-birokrat yang merupakan golongan Gayusisme dan Dhanaisme. Tetapi apakah kita akan memenjarakan semua birokrat-birokrat dengan predikat Gayusisme dan Dhanaisme tersebut dan mengatakan bahwa hal tersebut sebagai penyimpangan dan kesalahan yang bersifat individual.

Caiden mendefinisikan maladministrasi sebagai "administrative action (or inaction) based on or influenced by improper consideration or condut". Pakar administrasi negara yang lain seperti Kenneth Wheare menyebutkan berbagai bentuk maladministrasi seperti illegality, corruption, neglect, perversity (ketidakwajaran), turpitude (kejahatan/kekejian), discourtesy dan misconduct. Bahkan Caiden sendiri menyebutkan ada 175 penyakit birokrasi yang seringkali terjadi dan dilakukan oleh birokrat (common bureaupathologies).

Didorong oleh rasa ingin tahu, penulis mencermati dan menganalisis bahwa seluruh penyakit yang disebutkan oleh Caiden tersebut terjadi di dalam konteks Birokrasi di Indonesia pada saat ini. Coba kita bayangkan, menderita satu macam penyakit saja seringkali sudah sangat menyusahkan, apalagi menderita 175 jenis penyakit dalam waktu yang bersamaan. Jumlah patologi birokrasi ini sebenarnya bisa lebih banyak di Indonesia, mengingat penyakit birokrasi daerah tropis akan berbeda dengan birokrasi daerah sub-tropis seperti menjadi konteks dalam tulisan Caiden.

Maladministrasi sebagai bentuk patologi birokrasi terjadi secara sistematik, bukan individual. Kelemahan dan kegagalan organisasi untuk membentuk sistem yang mencegah terjadinya penyakit-penyakit birokrasi akan menyebakan perilaku menyimpang yang diterima secara kolektif.

Bahkan individu yang memiliki kharakter unggul dan idealisme yang tinggi tidak akan bisa bertahan lama ketika masuk dalam birokrasi, karena serangan penyakit yang demikian komplek. Birokrat yang semacam ini memiliki 3 pilihan, yaitu menjadi bagian dari sistem yang sakit, dianggap sebagai pesakitan karena tidak menjadi bagian dari sistem, atau keluar dari sistem birokrasi.

Fenomena Gayus, Dhana dan nama-nama birokrat lainnya yang akan muncul serta menjadi bagian dari sindrom Gayusisme atau Dhanaisme adalah patologi birokrasi yang sudah menahun dan sistemik. Patologi ini seperti gurita, merusak sel-sel produktif dalam birokrasi dan melibatkan hampir semua pejabat dalam semua strata. Bisa jadi, patologi birokrasi tersebut terjadi dari level Menteri atau Kepala Lembaga Pemerintahan, para Direktur Jenderal, Direktur, Kepala Sub-Direktorat, Kepala Seksi sampai dengan birokrat tanpa jabatan.

Hal yang sama terjadi dalam birokrasi pemerintahan daerah. Apalagi setelah pemilihan langsung kepala daerah, penyakit birokrasi daerah semakin parah dan sulit disembuhkan. Para birokrat sebenarnya disamping sebagai pelaku adalah juga korban dari kejahatan yang ditimbulkan oleh buruknya sistem birokrasi Indonesia. Sebagai individu yang memiliki self-interest, dalam sistem yang korup para birokrat akan memilih menjadi bagian dari sistem tersebut, dari pada harus menjadi pesakitan yang dianggap memiliki perilaku menyimpang.

Itu sebabnya, mayoritas birokrat sebenarnya sangat berpotensi mengidap penyakit sindrom Gayusisme dan Dhanaisme yang bersifat menular dan menahun. Sekarang bisa dibayangkan, bahwa secara genetis mayoritas birokrat di Indonesia (meskipun tidak semua) adalah monster yang setiap saat berperilaku menyimpang dan berpotensi melakukan korupsi.

Terapi Radikal VS Kambing Hitam Kebijakan

Sebenarnya diagnosis terhadap patologi birokrasi di Indonesia sudah lama dilakukan. Bahkan setiap masyarakat selalu merasakan dampak dari penyakit birokrasi dalam pemerintahan, pembangunan dan pelayanan. Tetapi tampaknya seperti orang yang sudah mengalami ketergantungan pada obat, tidak mudah mengatasi penyakit-penyakit birokrasi tersebut. Problem dasar yang kita hadapi adalah komitmen politik untuk melakukan terapi terhadap penyakit tersebut. Karena jenis penyakit yang diderita sangat komplek dan melibatkan lebih dari 175 penyakit, sehingga dibutuhkan tidak saja komitmen politik yang tidak terbatas, tetapi juga terapi yang tepat.

Munculnya korupsi a la Gayus dan Dhana yang telah menjadi isu nasional harus bisa dijadikan sebagai momentum pengobatan penyakit birokrasi secara menyeluruh. Akibat dari buruknya birokrasi mengakibatkan kepercayaan publik hilang dan yang paling parah jika pemasukan negara dari pajak dan non pajak yang tidak sepadan karena lenyap di korup justru dijadikan kambing hitam pemerintah dalam membuat kebijakan publik yang tidak fairness, seperti rencana kenaikan BBM yang akhir-akhir ini menjadi 'monster' bagi rakyat, yang siap memiskinkan masyarakat dan membebani seluruh biaya sendi-sendi perekonomian negara. Seolah negara dalam kondisi parah dan defisit, namun kenyataannya defisit terjadi akibat dari berbagai penyakit yang di buat oleh pemerintah itu sendiri.

Perintah Presiden untuk mengungkap tuntas kasus mafia pajak dan mafia kasus tidak boleh hanya berhenti hanya sekadar sebagai sindrom paruh waktu, tetapi harus terus bergulir menjadi semangat dan gerakan reformasi birokrasi secara menyeluruh. Karena pada dasarnya korupsi yang terjadi dalam birokrasi tidaklah berdiri sendiri, melainkan juga melibatkan penegak hukum dan juga politisi, maka terapi reformasi birokrasi harus dilakukan secara radikal. Terapi ini dilakukan antara lain dengan memutus media pertukaran kewenangan (authority exchange) yang melibatkan pejabat birokrasi, pejabat penegak hukum dan politisi.

Reformasi birokrasi juga harus meliputi pengawasan yang ketat dan konsisten terhadap para pejabat birokrasi dan penegak hukum dengan metode pembuktian terbalik atas kekayaan yang dimilikinya. Pejabat yang memiliki kekayaan tidak wajar dibandingkan penghasilannya sebagai pegawai negeri, harus dapat membuktikan asal-usul kekayaannya tersebut.

Pada sisi yang lain, promosi jabatan dalam birokrasi harus dilakukan secara terbuka dan berdasarkan catatan kompetensi dan kinerja yang dimiliki oleh seorang birokrat. Berbagai perbaikan sistem yang radikal ini diharapkan dapat menjadi obat pamungkas untuk mengurangi patologi dalam birokrasi.[***]

Penulis adalah kandidat Doktor Administrasi dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia sekaligus anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan


Baca juga:
Rantai Korupsi Politik, Kemana Ujungnya?
Puisi dari Indro untuk Anas
Pak AS Pulang Saja Kalau Nggak Sanggup Bongkar Wisma Atlet! Pak BW Kok Melempem?
Hargailah Pejalan Kaki!
IPB: Surat Terbuka Dosen untuk SBY Bukan Pendapat Institusi

Komentar (10)

Nama
Judul
Komentar
  1. - go indonesia
    18.03.2012, 01:08 WIB
    Komentator: betmen
    Mau di bawa indonesia kalo koruptor merajalela dan salah urus mengelola negara ini. Be there or be behind
  2. - kenapa pns?
    17.03.2012, 15:50 WIB
    Komentator: althof
    Kenapa kasus gayis dan Dana yg diekspose tiap hari?apa krn Mrk pns? Mana itu pemeriksaan rekening gendut polisi dan jaksa yg junlahnya jauh lbh besar.KPK seharusnya tidak pilih bulu. Selain itu, kpk seharusnya meriksa juga pengacara2 pembela koruptor, krn bisa jadi mrk dibayar pakai uang haram itu, jadi pengacara sbg penampung pencucian uang (money loundry)
  3. Penyakit Pola Pikir
    16.03.2012, 19:28 WIB
    Komentator: Rahmat
    Birokrasi, sebagai sistem pemerintahan, dimana rumah tangga adalah merupakan miniaturnya. Jadi jangan mengharapkan akan ada sistem pemerintahan (Negara) yang teratur dan benar, selama rumah tangga dan masyarakatnya juga kacau.
    Semua itu hanyalah perwujudan dari Ideologi/Doktrin (pandangan hidup yang kebenarannya tidak diragukan lagi, baik di dunia maupun di akhirat (Adinegoro)) yang dianut. Kacaunya sistem pemerintahan di Indonesia (Negara, Masyarakat dan Rumah Tangga), ini mencerminkan bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki Ideologi/Doktrin.
    Kalau pun katanya ada Pancasila, tetapi karena tidak merasuk dalam kesadaran dalam rumah tangga, masyarakat dan bangsa, hanya menjadi basa-basi, lain di hati lain di mulut lain diperbuatan. Hanya menghasilkan sistem pemerintahan seperti yang telah ada selama ini.
    Sehingga untuk benarnya sistem pemerintahan di Indonesia, perlu dilakukan peningkatan pada pada Ideologi/Doktrinnya, yaitu peningkatan nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila, ini dilakukan tidak dengan politik, tapi harus melalui pendidikan yang menyeluruh dimulai dari rumah tangga, masyarakat dan bangsa, baik jalur informal maupun formal. Kalau pun politik harus hanya pendidikan politik, jadi bukan politik praktis.
  4. Penyakit Pola Pikir
    16.03.2012, 19:28 WIB
    Komentator: Rahmat
    Birokrasi, sebagai sistem pemerintahan, dimana rumah tangga adalah merupakan miniaturnya. Jadi jangan mengharapkan akan ada sistem pemerintahan (Negara) yang teratur dan benar, selama rumah tangga dan masyarakatnya juga kacau.
    Semua itu hanyalah perwujudan dari Ideologi/Doktrin (pandangan hidup yang kebenarannya tidak diragukan lagi, baik di dunia maupun di akhirat (Adinegoro)) yang dianut. Kacaunya sistem pemerintahan di Indonesia (Negara, Masyarakat dan Rumah Tangga), ini mencerminkan bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki Ideologi/Doktrin.
    Kalau pun katanya ada Pancasila, tetapi karena tidak merasuk dalam kesadaran dalam rumah tangga, masyarakat dan bangsa, hanya menjadi basa-basi, lain di hati lain di mulut lain diperbuatan. Hanya menghasilkan sistem pemerintahan seperti yang telah ada selama ini.
    Sehingga untuk benarnya sistem pemerintahan di Indonesia, perlu dilakukan peningkatan pada pada Ideologi/Doktrinnya, yaitu peningkatan nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila, ini dilakukan tidak dengan politik, tapi harus melalui pendidikan yang menyeluruh dimulai dari rumah tangga, masyarakat dan bangsa, baik jalur informal maupun formal. Kalau pun politik harus hanya pendidikan politik, jadi bukan politik praktis.
  5. Sistem Monarki di Inggris dan Belanda dan Kemelut dalam negeri
    16.03.2012, 19:10 WIB
    Komentator: Agung Gede
    Sistem Monarchi di Inggris dan Belanda di prediksikan akan runtuh dalam beberapa bulan mendatang.hal ini ungkapkan oleh pakar Internasional dalam sebuah seminar yang membahas konflik Timur Tengah.
  6. fenomena matinya satwa-satwa di KBS
    15.03.2012, 13:12 WIB
    Komentator: KOMUNITAS KONTRA INTELIJEN ASING
    Dari hasil penelitian diLapangan secara independen, kami menyimpulkan bahwa adanya keterlibatan dari agen-agen rahasia negara-negara tertentu(Kerajaan Inggris, Kerajaan Belanda, dan Israel)terhadap matinya satwa-satwa di KBS, Indonesia. bagaimana agen-agen tersebut melakukannya? sangat mudah, Yaitu dengan cara berpura-pura sebagai pengunjung KBS dengan bekal makanan yang telah direndam dalam cairan zat kimia mematikan untuk digunakan atau dimakan oleh satwa-satwa di kbs tersebut. di sisi lain setelah berhasil membuat mati satwa tersebut lalu diberitakan lah satwa-satwa tersebut ke dunia internasional lewat jaringan media mereka. sehingga dunia internasional beranggapan bahwa orang Indonesia tidak bisa mengelola negerinya sendiri.salah satu alat propaganda mereka, yaitu KPK, organisasi PSSI,dsbnya. dan agen-agen rahasia mereka salah satunya adalah kelompok DEBU, Irfan Bachdim, jennifer kurniawan, wim rijsbergen.
  7. Tingkah laku
    06.03.2012, 15:07 WIB
    Komentator: Aryani
    Diperburuk lagi tingkah laku anggota DPR yang sering menyakiti rakyat lupa orang yang diwakilinya, mereka hanya memenuhi kepentingan pribadi dan parpolnya tanpa mau mencari solusi pemecahan masalah bangsa
  8. Bubarkan PSSI
    06.03.2012, 12:39 WIB
    Komentator: Arfando
    PSSI cuman bikin malu nama Bangsa Indonesia!seluruh pihak yang ada di PSSI gak punya otak!!semuanya goblok!cuman bisa jadi jongosnya FIFA.
  9. Bubarkan KPK!
    06.03.2012, 12:26 WIB
    Komentator: Niniek
    Saya menilai KPK hanyalah sebuah degelan politik bagi negara tertentu(Pemerintah kerajaan Belanda) yang menginginkan politisi Indonesia yang baru kemaren sore ini saling tuding, saling ribut antara satu dengan yang lainnya. sehingga Indonesia menjadi kacau Balau
  10. JURUS COPET DALAM BIS
    05.03.2012, 15:10 WIB
    Komentator: KEN
    AWAS JURUS COPET DALAM BIS. BIKIN RIBUT DIKURSI DEPAN, YG DIKURSI BELAKANG NYOPET DAN ROGOH2 TAS. PENGALIHAN ISU, SUPAYA BISA NYOLONG DAN TETAP BISA NYOLONG.

Githok

blitz.rmol.co
 

Prisia Nasution, Susah Jadi Istri Jokowi

Setelah bermain cemerlang dalam film Sang Penari serta Laura & Marsha, ...

 

Ibunya Rasti Kecewa Eza Dituntut 5 Bulan Bui

Eza merasa diperlakukan tidak adil. Ia memelas, sebagai orang susah harusn ...

 

Iba, Payudara Jolie Diangkat

Bukan rahasia lagi, kalau Jennifer Aniston sakit hati saat tahu Brad Pitt, ...

 

Mila Kunis, Diinginkan Bikin Video Porno

Mila Kunis menempati posisi pertama sebagai selebriti yang video pornonya ...

 

Raffi & Luna Pedekate?

Restu didapat asal Luna sayang sama ibu dan keluarga Raffi. Namun umur jad ...

 

Beredar, Foto Bugil Mirip Sefty Sanustika

Sefty Sanustika bikin heboh. Pasalnya, telah beredar di internet, beberapa ...

 

Aishwarya Rai, Cuek Dihujat Gemuk

Aishwarya Rai memukau di red carpet Festival Film Cannes ke-66 di Paris, P ...

 

Venna Melinda, Minta 40 Juta Per Bulan, Venna Kesal Di-bully

Venna Melinda disebut-sebut membahas empat persyaratan agar bisa rujuk den ...

 

Kiki Beberkan Foto Markus & WIL Di Ranjang

Wanita lain itu-itu aja. Patut diduga ada perselingkuhanGugatan perceraian ...

www.medanbagus.com
www.jakartabagus.com
www.rakyatmerdeka.tv

Gotong Royong Ala Jepang


Bantal Emas Masal dari Negara Tropik


Kesetiaan Ksatria Yudhoyono Diuji Kanjeng Ratu Elizabeth II