Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

17 Bentrokan Menegangkan Ganggu Kemesraan TNI-Polri

Catatan Indonesia Police Watch Selama 4 Tahun Terakhir

Bongkar  KAMIS, 26 APRIL 2012 , 08:26:00 WIB

17 Bentrokan Menegangkan Ganggu Kemesraan TNI-Polri

ilustrasi/ist

RMOL.Sejak TNI- Polri berpisah 1 April 1999, kemesraan antara kedua institusi itu mulai terasa panas-dingin.  Anggota Polri-TNI yang bertugas di lapangan sering terlibat bentrokan.

Catatan Indonesia Police Watch (IPW) setidaknya sejak 2007 sampai dengan saat ini setidaknya telah terjadi 17 peristiwa bentrokan. Lebih rincinya 2007  terjadi 3 peristiwa, 2008 terjadi 2 peristiwa, 2009 terjadi 4 peristiwa, 2010 terjadi 6 peristiwa, 2011 terjadi 1 pe­ristiwa, April 2012 terjadi 1 pe­ristiwa.

Kasus teranyar bentrokan an­tara anggota Brimob Polda Go­ron­talo dan Satuan Yonif  221 Kostrad pada Minggu (22/4) di Kabupaten Limboto, Gorontalo. Dikabarkan dua anggota Brimob terluka, dan enam anggota Kos­trad terluka. Namun, TNI-Polri membentuk tim gabungan untuk menyelidiki kasus tersebut.

Untuk diketahui, Polri secara resmi berpisah dengan TNI sejak 1 April 1999. Namun, Polri tak se­­cara langsung berdiri sendiri. Se­lama 1999 sampai 2000 Polri di­kelola Departemen Pertahanan (Dephan). Barulah sejak 1 Juli 2000, Polri resmi berpisah dari Dep­han dan tertuang dalam Ke­pu­tusan Presiden (Keppres) No­mor 89/2000 tertanggal 1 Juli 2000.

Koordinator Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, sejak dua tahun belakangan ini hampir tidak ada kasus adu jotos oknum TNI-Polri. Menurutnya, bentro­kan antara pasukan Brimob dan TNI di Kabupaten Limboto, Go­rontalo, dipicu kasus geng motor beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dijelaskan, Polri dinilai tidak serius dan lamban mengungkap kasus geng motor yang menewas­kan anggota TNI AL, Kelasi Satu Arifin Sirih. Akibatnya, muncul aksi solidaritas dari anggota TNI.

Kemesraan kedua instansi ter­sebut hanya ditunjukkan para ka­langan elite saja, sedangkan di ka­­langan bawah bagaikan api da­lam sekam yang selalu siap mem­bakar.

“Selama hampir empat tahun terakhir terjadi 17 kali bentrokan. Sejak  dua tahun ini cukup mesra, tetapi setelah adanya anggota TNI yang dikeroyok  geng motor, dan Polri dinilai tidak serius me­nanganinya memicu terjadinya bentrokan,” kata Neta kepada Rak­yat Merdeka, di Jakarta, Selasa lalu.

Neta menuturkan, sebenarnya kecemburuan sosial karena per­be­daan fasilitas yang diberikan pemerintah menjadi salah satu pemicu terjadinya bentrokan TNI-Polri. Selama ini hal tersebut dapat diselesaikan di tingkat elite.

Pada bentrokan yang terakhir terjadi, semestinya elite TNI dan Polri dapat menyelesaikannya me­lalui koordinasi tidak hanya ditingkat elite tapi tingkat bawah kemudian mengusutnya agar bisa diproses ke pengadilan.

Kegiatan-kegiatan konsolidasi antar TNI-Polri di tingkat bawah juga perlu dilakukan. Selain itu bisnis-bisnis illegal yang dillaku­kan seperti membekingi harus di­se­pakati dihentikan dan pela­kunya ditindak tegas. Kalau di­biarkan bukan tidak mungkin akan timbul bentrokan yang lebih besar lagi. “Konsekuensinya dari upaya ini pemerintah harus me­naikkan standar gaji anggota TNI Polri di tingkat bawah,” jelasnya.

Polri menegaskan peristiwa bentrokan anggota Kostrad TNI de­ngan anggota Brimob di Go­rontalo tidak ada hubungannya de­ngan aksi geng motor yang terjadi di Jakarta. Sampai saat ini penyebabnya masih diselidiki.

“Nggak ada hubungan itu. Kita sedang bekerja keras, jadi masya­rakat mohon bersabar, agar kita tahu siapa yang harus bertang­gung­jawab,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution.

Dijelaskan, TNI-Polri telah me­lakukan upaya penyelesaian atas konflik yang terjadi antara Kos­trad dan Brimob di Goron­talo. Di mana atas konflik terse­but mengakibatkan jatuhnya kor­ban dua orang Brimob, enam dari Kostrad. Pimpinan TNI dan Polri sudah berkoordinasi untuk berge­rak cepat dibantu tim pimpinan markas pusat antara Pankostrad dan Dankor Brimob.

“Telah dibuat MoU di lapangan Taruna Gorontalo sekaligus me­nandatangani kesepakatan bersama oleh komandan brigade 22 Kostrad, Polda Gorontalo, dan Danyon 73. Disaksikan Pankos­trad, Pangdam Wirabuana, Gu­ber­nur Gorotalo serta pejabat TNI-Polri di Gorontalo dan ke­satuan Brimob,” ujarnya.

Sementara, Kepala Pusat Pene­rangan Mabes TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul mengimbau anggota TNI tidak terprovokasi terkait bentrokan di Gorontalo yang menyebabkan enam anggota Kostrad luka-luka.

“Kita sayangkan kejadian ini. Mudah-mudahan semua meng­hadapi dengan hati panas kepala dingin,” katanya Mabes TNI ber­harap komandan satuan masing-masing korps bisa mencari titik tengah dan mengatasi munculnya bentrok susulan. Masalah yang menjadi pemicu bentrokan, kata dia, harus diselesaikan sampai tun­tas. “Jangan ada yang terpro­vokasi dan yang salah harus dibe­ri sanksi,” ujarnya.

Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha menegaskan, peristiwa di Gorontalo bukanlah konflik yang melibatkan institusi, melainkan lebih kepada oknum yang mungkin saja berada atau di dalam satu institusi. Ia meminta agar isu bentrok tersebut tidak dicampuradukkan.

“Ini bukan konflik antar institusi A dan B, perselisihan dan ke­tegangan di sana, bukan. Ka­lau­pun ada, itu kemungkinan ter­libat­nya oknum dalam satu ins­titusi dan itu akan ditindak,” ujarnya.

Dia mengatakan, persoalan itu telah disampaikan kepada Presi­den Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemudian ditindaklanjuti melalui instruksi kepada kedua institusi segara diselesaikan se­cara tuntas.

Selama Ini Cuma Keakraban Semu

Achmad Basarah, Anggota Komisi III DPR

Bentrokan antara TNI dan Polri merupakan masalah laten pasca pemisahan kedua insti­tusi itu. Salah satu penyebab uta­­manya diduga adanya ke­sen­­jangan sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu Presiden  bersama petinggi Polri dan TNI harus turun tangan untuk men­cari jalan keluarnya. Jangan me­nunggu masalah ini menjadi besar, baru mereka sibuk ber­tindak.

Dengan terjadinya bentrokan itu menunjukan keakraban yang ditunjukan  TNI dan Polri sela­ma ini di depan publik diindi­ka­si­kan semu. Harus diakui diantara para perwira tingginya memang akrab, tapi tidak pada level bawah.

Selain itu disiplin para pra­jurit kedua aparat itu masih ren­dah, dengan enteng mereka me­lepaskan tembakan membabi buta untuk sesuatu yang tak jelas, padahal pelurunya dibeli dengan uang rakyat.

Melihat peristiwa tersebut Presiden SBY juga diminta un­tuk mampu mengendalikan ke­dua lembaga bersenjata ini le­wat Panglima TNI dan Kapolri. Dari pucuk pimpinan kedua ins­titusi itu harus memberi tin­dakan keras kepada para ang­gotanya yang terbukti terlibat.  Jangan sampai ada kesan dari rakyat telah terjadi pembiaran oleh pemerintah.

Sebaiknya Polisi Nggak Bermewah-mewahan

Bambang Widodo Umar, Pengamat Kepolisian

Sejak pemisahan TNI-Polri menyisakan kecemburuan sosial. Polri memiliki peranan dalam keamanan dalam negeri, dan TNI memegang perta­hanan. Tapi banyak tugas-tugas Polri yang diselewengkan para oknumnya. Padahal Polri ber­sentuhan langsung dengan ma­syarakat, tapi TNI tidak.

Sebaiknya Polisi nggak ber­mewah-mewahan. Polisi harus membalikan citranya sehingga ti­dak menimbulkan kesen­jangan. Persoalan ben­trokan itu harus segera diatasi masing-masing pimpinan  TNI maupun Polri, agar ke depannya tidak terulang. [Harian Rakyat Merdeka]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Tender BBM Kerdilkan Pertamina

Tender BBM Kerdilkan Pertamina

, 16 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

Tifatul Doakan Jokowi Gemuk

Tifatul Doakan Jokowi Gemuk

, 16 AGUSTUS 2017 , 17:00:00

Gladi Resik Sidang Tahunan

Gladi Resik Sidang Tahunan

, 15 AGUSTUS 2017 , 03:36:00

Workshop Tunas Integritas

Workshop Tunas Integritas

, 15 AGUSTUS 2017 , 02:22:00

Penyelamatan Di Laut

Penyelamatan Di Laut

, 15 AGUSTUS 2017 , 04:46:00