Kamis, 10 Mei 2012 , 20:43:00 WIB
![]() ANGIE/IST |
RMOL. Sikap tersangka kasus suap Wisma Atlet dan proyek di Kemendikbud, Angelina Sondakh dan kuasa hukumnya, Nasrullah yang mulai neko-neko ditanggapi sinis oleh Direktur Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Bonyamin Saiman.
Bonyamin menilai Angie dan kuasa hukumnya lebay alias berlebihan. Apalagi dengan membandingkan Rutan KPK dengan penjara Guantanamo.
"Penjara Guantanamo sangat terisolir. Tidak ada yang boleh membesuk, walaupun keluarga. (Rutan KPK) Ini kan tidak. Pacarnya saja kan boleh masuk. Selain itu, di Guantanano banyak penyiksaan, tapi di sini nggak ada. Ini terlalu lebay,” katanya kepada Rakyat Merdeka Online, malam ini, Kamis (10/5).
Bonyamin malah menyarankan, baiknya KPK tidak memenuhi permintaan-permintaan Angie yang mulai macam-macam.
Meskipun permintaan itu sifatnya untuk ibadah, tapi Angie selama ini terkesan tidak mau kerja sama dalam penuntasan kasus hukumnya. KPK boleh kabulkan permintaan itu kalau Angie sudah mau kerja sama.
“KPK bisa pakai prinsip lo jual gua beli. Kalau mau kerja sama, boleh dikabulkan. Kalau tidak, lebih baik nggak usah,” tegasnya.
Bonyamin memastikan, tidak ada pelanggaran HAM mesti KPK tidak mengambulkan permintaan itu. Sebab, saat ini Angie sedang ditahan. Tahanan memang fungsinya untuk merampas segian hak asasi. “Itu dilindungi Undang-undang,” jelasnya.
Kata dia, kalau semua permintaan itu dikabulkan, akan mengganggu proses penyidikan. Apalagi saat ini KPK sedang intensif memeriksa Angie agar kasusnya segera tuntas.
“Kalau mau diberikan, nanti saja setelah ada vonis,” tandasnya.
Makin lama, Angie memang makin bertingkah. Permintaannya semakin banyak, mulai dari minta penangguhan penahanan, minta penambahan waktu besuk, minta gitar, minta alat lukis, dan terakhir minta Alquran digital dan guru ngaji.
Selain Angie, kuasa hukumnya pun mulai bertingkah. Kuasa hukum Angie, Nasrullah merasa haknya segala pengacara dirampas lantaran tidak leluasa bicara materi kasus karena banyaknya kamera dan CCTV di rutan yang bisa merekam pembicaraannya dengan Angie.
Narsullah lalu membandingkan rutan KPK dengan Guantanamo, penjara militer Amerika yang terkenal keras itu. Sebab, selain tidak menemuhi hak asasi Angie,
“Jangan ada Guantanamo barulah,” sindirnya.[arp]
















