Sabtu, 26 Mei 2012 , 17:40:00 WIB
![]() ADE KOMARUDDIN/IST | |
RMOL. Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) merupakan ormas yang pertama kali menyatakan dukungan kepada Aburizal Bakrie untuk maju dalam Pilpres 2014 karena berdasarkan alasan rasional yang obyektif maupun subyektif.
"Secara obyektif, Aburizal Bakrie adalah kader terbaik bangsa sekaligus sebagai Ketua Umum Partai Golkar, sedangkan secara subyektif karena Aburizal Bakrie merupakan kader terbaik SOKSI sekaligus Ketua Dewan Pembina SOKSI," kata Ketua Umum Depinas SOKSI, Ade Komaruddin, saat menyampaikan sambutan dalam Puncak Perayaan HUT ke-52 SOKSI di Gedung Sabuga, Bandung, Jawa Barat (Sabtu, 26/5).
Bahkan, kata Ade Komaruddin, SOKSI juga sudah membentuk Satgas Pemenangan Aburizal Bakrie dari tingkat pusat sampai ke kelurahan dan desa atau Depiancab SOKSI di seluruh Indonesia. Pembentukan Satgas ini tidak lain karena SOKSI ingin melanjutkan politik pengabdiannya bagi kepentingan rakyat.
"Sebagai Ketua Umum Depinas SOKSI, saya menyerukan kepada seluruh kader SOKSI dan rekan-rekan seperjuangan di seluruh Indonesia untuk terus mengabdi demi kepentingan rakyat dengan penuh kesantunan, keikhlasan, dan menjunjung tinggi politik yang bermartabat. Begitu pula dalam menjalankan programnya, SOKSI harus berangkat dari suara rakyat, karena suara rakyat adalah suara Tuhan atau dengan kata lain vox populi vox dei," tegas dia.
Pada kesempatan itu, Ade Komarudin juga mengingatkan tentang sejarah kelahiran SOKSI 52 tahun lalu saat Ibu Pertiwi sedang kondisi hamil tua. Pertentangan ideologi dan partai-partai pada saat itu, terutama karena sepak terjang PKI dengan ideologi komunismenya dan langkah-langkah politiknya mulai meningkat. Karena itu, SOKSI yang berasaskan ideologi Pancasila berada di garda terdepan dalam menghadapi PKI.
"SOKSI berdiri sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan masyarakat Pancasila, kemudian SOKSI menjadi salah satu kino yang mendirikan Partai Golkar (dulu disebut Golongan Karya) dan hingga saat umurnya ke-52 ini tetap menjunjung tinggi ideologi Pancasila, dan selalu siap menghadapi siapapun kekuatan pada era reformasi saat ini yang secara terbuka maupun tertutup ingin menggantikan Pancasila sebagai ideologi, dan menggantikannnya dengan ideologi lain," ujarnya.
Sekarang ini, lanjut dia, pada era reformasi yang telah berjalan selama empat belas tahun, SOKSI harus tetap waspada terhadap upaya menggantikan substansi ideologi Pancasila, dengan ideologi lain, terutama kapitalisme dan liberalisme yang berjalan lebih sistematis, bahkan lebih sistemik dibanding pada masa Orde Lama dan Orde Baru sekalipun. Begitu pula dengan UU Investasi yang membuat tersingkirnya warung-warung tradisional oleh toko-toko swalayan yang dimiliki konglomerasi asing dan dalam negeri.
"Karena itu, momentum empat belas tahun reformasi adalah rentang waktu yang cukup bagi suatu bangsa untuk berbenah. Mari kita renungkan apakah reformasi sudah berjalan seperti yang kita harapkan untuk mengetahui secara utuh dan jernih mengenai apa yang sesungguhnya telah terjadi di era reformasi ini. Demokrasi yang berkembang ke arah transaksional, sarat korupsi, dan melenceng dari agenda perubahan yang lebih baik harus kita luruskan," demikian Ade Komaruddin. [ysa]
















