Bagir Manan: Tindak Tegas Oknum TNI, Tidak Cukup Ditahan Saja
Sabtu, 02 Juni 2012 , 10:09:00 WIB
![]() BAGIR MANAN |
RMOL. Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengapresiasi pimpinan TNI yang langsung menahan oknum anggota Marinir yang memukul wartawan.
“Kami beri apresiasi untuk itu. Tapi kami minta oknum anggota TNI itu dihukum setimpal dengan perbuatannya. Beri tindakan tegas,’’ kata Bagir Manan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Seperti diketahui, sejumlah wartawan meliput penggusuran lokalisasi di sepanjang kawasan Bungus, Padang, Sumatera Barat, Selasa (29/5), menjadi korban kekerasan oknum TNI AL.
Satu dari tujuh wartawan yang meliput acara tersebut terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah dipukuli oknum TNI AL Lantamal II Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatera Barat.
Bagir Manan selanjutnya mengatakan, pimpinan TNI tidak cukup hanya minta maaf dan menahan oknum TNI itu. Tapi hendaknya disusul dengan tindakan nyata dengan menghukum oknum tersebut.
“Proses secara hukum pelaku tersebut secara transparan, sehingga ke depan hal seperti ini tidak terulang,’’ ujarnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Apa yang dilakukan Dewan Pers terkait pemukulan wartawan itu?
Kami sudah memberikan peryataan dan menyampaikan sikap terkait hal itu. Sebagai Ketua Dewan Pers, saya merasa sedih atas kejadian itu. Saya saat ini masih di Bandung. Setelah saya pulang ke Jakarta, kami akan melakukan protes resmi atas peristiwa tersebut.
Apa yang membuat Anda sedih?
Ada dua yang membuat saya sedih. Pertama, karena saya dalam beberapa peristiwa sangat memuji tingkah laku prajurit dan polisi. Misalnya, mereka banyak membantu masyarakat saat gunung merapi meletus atau saat kecelakaan pesawat Sukhoi. Mereka menunjukkan tingkah laku yang sangat membanggakan. Tapi kok malah dirusak oleh beberapa orang oknum TNI tersebut yang bertindak tidak terpuji.
Apalagi ini dilakukan untuk membekingi hal-hal yang tidak layak dilakukan prajurit, sehingga tindakan-tindakan terpuji yang dilakukan kolega-koleganya dirusak oleh mereka.
Apa alasan kedua Anda sedih?
Alasan kedua membuat saya sedih adalah kok wartawan dipukuli. Wartawan itu apalah. Wartawan tidak mempuyai kemampuan untuk berkelahi, kok malah dipukuli. Apalagi wartawan itu saat melakukan pekerjaannya agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Wartawan kan hanya memberitakan keadaan yang sebenarnya. Kenapa kok dipukuli. Lagi-lagi wartawan harus menjadi korban dari manusia-manusia yang tidak memiliki kesadaran sosial yang baik dan egois. Makanya sudah dinyatakan Dewan Pers, kami tidak bisa menerima itu.
Apa pendapat Anda mengenai sikap pimpinan TNI yang langsung menanggapi kejadian tersebut?
Kita memberikan apresiasi kepada pimpinan TNI yang langsung mengambil sikap dan menangkap oknum TNI yang memukul wartawan itu. Kemudian menyatakan maaf kepada wartawan. Meski permulaan yang baik sudah dilakukan oleh pimpinan TNI, kami minta agar tindakan tersebut dapat disusul dengan tindakan nyata yaitu menghukum yang bersalah. Tidak cukup ditahan saja.
Apa tindakan Dewan pers agar kejadian seperti ini tidak terulang?
Ini merupakan suatu peristiwa yang bisa berulang lagi. Makanya, selain meminta penindakan, kami akan mencari akar persoalan mengapa masih ada pihak-pihak yang suka melakukan kekerasan kepada wartawan.
Bagaimana pendapat Anda bila oknum TNI dan wartawan yang dipukul itu sudah berdamai?
Kalau bicara hukum pemukulan itu sifatnya pidana biasa. Hukum itu dibuat untuk menyelesaikan masalah, sehingga kalau masalahnya sudah selesai, buat apa kita perpanjang lagi.
Perdamaian itu kan adalah sebuah kesepakatan. Kalau ada kesepakatan antara mereka, berarti mereka setuju untuk menyelesaikan masalah. Kesepakatan itu bagian dari hukum.
Seandainya sudah damai, bagaimana sikap Dewan Pers?
Kami kan sudah menyatakan sikap bahwa kita menentang kekerasan terhadap wartawan. Tapi kami harus bisa menahan diri. Sebab, seandainya yang berkepentingan saja sudah mau berdamai dan menyelesaikan masalah. Tentu tidak perlu lagi diperpanjang.
Kasus lain bisa dimediasikan. Tentu kasus menyangkut wartawan yang dipukuli juga bisa dimediasikan. Kita kan harus bersikap adil. [Harian Rakyat Merdeka]







