Sabtu, 09 Juni 2012 , 21:41:00 WIB
![]() KICK VAN IJZENDOORN/RMOL |
RMOL. Pagelaran Euro 2012 benar-benar menggugah minat para maniak bola dari seluruh penjuru dunia. Dari segala usia pula. Tua, muda, sebisa mungkin berusaha menikmati langsung kejuaraan sepak bola yang sudah diselenggarakan untuk kali ke-14 ini.
Itu pula yang ditunjukkan oleh Kick van Ijzendoorn. Dia sudah berusia 53 tahun. Sehari-hari, dia adalah pegawai di Balai Kota Lomm, sebuah kota kecil di Belanda. Ijzendoorn mengaku bekerja di bagian arsip di pemerintahan kota Lomm.
Pria yang rambutnya sudah memutih semua itu menunjukkan militansinya dalam mendukung tim nasionalnya, yakni Belanda, dengan datang ke Kiev, sendirian saja. Dia sudah berada di ibu kota Ukraina itu sejak Jumat (8/6) lalu.
"Tetapi, pasti saya akan bertemu banyak teman di stadion," kata Ijzendoorn yang menginap di hotel yang sama dengan wartawan Rakyat Merdeka di Kiev, yakni Hotel Tourist.
Yang menarik dari sosok ramah ini adalah kesungguhannya dalam mendukung tim Oranye. Itu ditunjukkan dengan kesiapannya untuk berangkat ke tempat pertandingan sepagi mungkin. Pagi sekali malah. Karena, Ijzendoorn sudah berada di lobi hotel untuk bersiap berangkat menuju Kharkiv, kota tempat pertandingan Belanda lawan Denmark Sabtu (9/6) digelar. Bahkan sebelum pukul 5 pagi waktu Kiev.
Pagi-pagi setelah Subuh, sekitar pukul 04.45 waktu Kiev, saya turun ke lobi hotel. Lobi hotel sepi. Meja resepsionis masihi kosong, tidak ada petugas. Kecuali, hanya ada satpam bertubuh tinggi besar, berambut pirang dengan wajah sangar khas Eropa Timur, dengan pakaian full oranye. Ya, dialah Kick Ijzendoorn. Dia benar-benar full oranye, mengenakan kaus, rok -memang rok-, kaus kaki, sepatu serba oranye. Plus topi dengan paduan warna oranye di bagian depan dan belakang, serta strip merah, putih, biru yang tak lain warna bendera Belanda di bagian kiri dan kanan topinya itu.
Sosok Ijzendoorn sebagai suporter Belanda sejati makin kental, karena dia membawa bendera Belanda dengan ukuran relatif besar, sekitar 80 x 120 sentimeter. Tidak hanya bendera kain. Bendera negara yang pernah jadi musuh para pejuang Indonesia itu juga digambar di kedua pipinya. Karena resepsionis belum ada, Ijzendoorn harus menunggu hampir 10 menit, sebelum resepsionis keluar. Dia mau menitip kunci kamarnya. Dari meja resepsionis, dia menuju tempat penukaran uang 24 jam yang ada di sekitar lobi hotel itu. Lagi-lagi, dia harus menunggu, karena belum ada petugasnya, meski tertulis 'open'.
"Saya harus berangkat pagi, karena mau naik kereta ke Kharkiv," katanya menjawab sapaan saya.
Untuk menuju Kharkiv, yang paling nyaman memang naik kereta cepat Ukrainan Express. Dengan kereta cepat yang baru dioperasiokan menyambut Euro 2012 itu, Kiev-Kharkiv bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Pertandingan Belanda vs Denmark sendiri akan dilangsungkan di Kharkiv mulai pukul 6 sore waktu setempat. Dia mengaku lebih suka bersiap awal, agar tidak buru-buru. Rencananya, dia akan berangkat bersama lima temannya sesama suporter tim Oranye yang menginap di hotel lain.
Ijzerdoorn mengaku sudah biasa melakukan itu, semenjak mulai rutin menyaksikan kejuaraan-kejuaraan sepak bola penting. Dia tidak menyebutkan mulai kapan, namun dia mengatakan rutin mendukung tim Belanda secara langsung, dalam setiap kejuaraan besar. Dia mengaku memang penggemar sepak bola sejati. Demikian pula istrinya.
"Tapi, istri saya belum bisa berangkat, karena belum ada dapat ijin cuti dari kantornya. Mungkin, dia akan berangkat saat perempat final," katanya.
Rencananya, Ijzerdoorn akan berada di Ukraina sampai tanggal 18 Juni, saat pertandingan terakhir penyisihan grup. Dia akan pulang ke Lomm dulu, lalu kembali untuk menyaksikan babak perempat final, mulai 23 Juni. Berarti yakin Belanda akan lolos ke perempat final?
"I hope so .... ," katanya lantas tersenyum.
Dia yakin benar Wesley Snejder dan kawan-kawan tahun ini mampu lolos dari grup maut, Grup B, meski harus bersaing dengan tim-tim kuat seperti Jerman, Portugal dan kuda hitam Denmark. Saat tahu saya wartawan dari Indonesia, pria ramah ini langsung antusias.
"Februari lalu saya ke Indonesia, bersama anak saya. Anak saya dari Indonesia," katanya.
Dia lantas bercerita, anaknya adalah hasil adopsi dari sebuah keluarga di Jakarta. Anak satu-satunya itu diadopsi pada tahun 1983. Kini, sudah hampir 30 tahun usianya, dan Februari lalu diajakanya ke Indonesia.
"Kami di Indonesia dua minggu. Selain ke Jakarta, juga ke Bandung dan Puncak," paparnya.
Ijzerdoorn lantas pamit, begitu urusannya dengan penukaran uang sudah selesai. Sebelum berpisah, dia mengambil sesuatu dari tas oranyenye itu. Yakni, dua pupen warna putih beraksen oranye.
"Ini souvenir untuk Anda," katanya, kembali diikuti dengan senyum ramah.
Rupanya, dia membawa tas penuh souvenir seperti pulpen, pin dan gantungan kunci. Dia mengaku akan membagi-bagikan kepada suporter negara lain yang ditemunya di stadion.
"Saya berkeliling menonton pertandingan sepak bola untuk mencari persahabatan," ujarnya.
Ijzerdoorn benar-benar suporter sejati! [dem]
















