Rabu, 13 Juni 2012 , 09:48:00 WIB
![]() STADION DONBASS ARENA, DONETSK |
RMOL. Duel Inggris lawan Prancis termasuk salah satu big match pada matchday 1 babak penyisihan grup Euro 2012, di samping duel Jerman vs Portugal (grup B) dan Spanyol vs Italia (grup C). Namun, itu bukan jaminan Stadion Donbass Arena, Donetsk tempat pertandingan itu digelar, penuh.
Beberapa sektor dari tribun penonton di stadion kandang klub Shaktar Donetsk itu tampak kosong. Sehingga, di antara dominasi warna putih dan biru –masing-masing warna khas timnas Inggris dan Prancis—yang dipakai para suporter dua tim yang bertanding Senin (11/6) itu, terselip blok warna oranye, warna kursi tribun di Donbass Arena.
Wartawan koran ini yang menyaksikan langsung pertandingan yang berakhir imbang 1-1 itu memperkirakan hanya 75 persen dari kursi di stadion berkapasitas 50 ribu penonton itu terisi. Artinya, duel kemarin itu disaksikan sekitar 40 ribu penonton saja.
Akibat ada beberapa sektor yang tidak penuh, saat pemandu acara meminta penonton melakukan gerakan Euro Wave (gerakan khas penonton sepak bola di stadion yang saling menyambung hingga seperti gerakan gelombang laut, Red), terlihat kurang indah. Ini karena, gerakan gelombang itu terputus, akibat ada sektor yang tidak ada penontonya.
Padahal, satu hari menjelang duel itu, status penjualan tiket UEFA lewat internet sudah dinyatakan ditutup. Artinya, tiket sudah terjual habis. Tiket sempat sudah dinyatakan habis seminggu menjelang pertandingan. Namun, kira-kira 3 hari menjelang pertandingan, status tiket berubah menjadi ada. Lalu, kembali habis pada H-1.
Faktanya, saat pertandingan digelar, penonton stadion tidak penuh. Berarti ada yang sudah membeli tiket, tapi tidak jadi datang ke untuk menonton.
Memang begitulah adanya. Wartawan koran ini menemukan sendiri, orang yang memiliki tiket lebih, lantas mau menjualnya. Dan, wartawan koran ini beruntung mendapat tiket yang dijual kembali dengan harga lebih murah. Bahkan, hanya separoh harga.
Sore itu, setidaknya ada empat kali ada yang menawari untuk mengganti tiket mereka. Yang menawari pun berasal dari berbagai negara. Satu dari orang Maroko, dua dari Russia, dan satu lagi dari Mongolia.
Yang dari Maroko menawari tiket dengan harga lipat dua. Dari Rusia, satu menawari dengan harga tiket lebih mahal dari harga resmi, satu lagi harga sesuai dengan yang tercantum di tiket. Mereka semua beralasan menjual tiket kembali karena salah satu teman yang akan nonton di Donetsk tidak jadi datang.
Karena murah, wartawan koran ini jadi ragu. Khorloo yang asli Mongolia itu pun menyakinkan dengan mengatakan, bahwa nanti akan masuk sama-sama, dan duduk berdampingan di stadion. Dia lantas bercerita, awalnya akan nonton Euro berempat dari Mongolia.
Namun, salah satu temannya yang bernama Yamaaranz Tuvdendorj batal berangkat ke Ukraina. Tiket Tuvdendorj itulah yang dijualnya separo harga. “Supaya tiketnya tidak sia-sia saja. Saya tidak mencari untung,’’ jelas dia.
Naluri wartawan koran ini mengatakan bahwa pria asal Mongolia ini bisa dipercaya. [Harian Rakyat Merdeka]
















