Kamis, 21 Juni 2012 , 21:44:00 WIB
![]() ILUSTRASI |
RMOL. Rusia dan Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman etnis, budaya dan agama. Pluralisme yang merupakan kekayaan bangsa harus dijaga dan dilestarikan untuk terciptanya perdamaian dan keharmonisan.
Pandangan tersebut disampaikan dalam berbagai pertemuan kunjungan delegasi organisasi kemahasiswaan dan pemuda Indonesia ke Rusia, 18-22 Juni 2012, seperti disampaikan Sekretaris Dua Pensosbud, Enjay Diana kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat yang lalu (Kamis, 21/6).
Dijelaskannya, delegasi Indonesia terdiri dari Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Noer Fajrieansyah, Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Addin Jauharudin, Ketua Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia, Dhika Yudhistira yang didampingi Ketua Gerakan Ekayastra Unmada-Semangat Satu Bangsa, Putut Prabantoro.
Selama di Rusia, masalah pluralisme dan persatuan bangsa diusung delegasi Indonesia dalam sejumlah pertemuan di Moskow, Kazan dan St. Petersburg yang difasilitasi KBRI Moskow. Pertemuan antara lain dengan pejabat pemerintahan, tokoh agama, akademisi dan masyarakat, media Rusia dan Indonesianis, termasuk generasi muda Rusia sahabat Indonesia.
Duta Besar Keliling Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia/Utusan Khusus untuk Kerjasama dengan Aliansi Peradaban, Kontantin Shuvalov mengatakan Rusia adalah negara sekuler. Kebebasan beragama di Rusia dijamin dalam konstitusi Federasi Rusia. Shuvalov menambahkan Rusia berperan aktif di berbagai forum internasional untuk menciptakan kerukunan antar bangsa, termasuk kerjasama di bidang kemanusiaan, sosial budaya dan agama.
Dalam pertemuan di Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia tersebut, Konstantin Shuvalov menyambut baik usulan Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, M. Aji Surya untuk menyelenggarakan interfaith dialog antar pemuda Indonesia dan Rusia.
"Interfaith bukan hanya domainnya para pakar, tetapi juga harus jadi kebiasaan pemuda," ujar Aji Surya.
Nikolai Vasiliev, Pimpinan redaksi Surat Kabar Rusia "Tribuna" dalam pertemuan terpisah mengatakan bahwa media memiliki peranan penting dalam menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat.
"Informasi yang disampaikan harus terukur sehingga tidak menimbulkan reakasi di masyarakat yang dapat mendorong perselisihan antar suku, budaya, agama dan bangsa," harap Nikolai.
Sementara itu, Kepala Bidang Kerjasama dengan Asosiasi Keagamaan Administrasi Kepresidenan Republik Tatartan-Federasi Rusia, Marat Gatin dan Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia, Rushan Hazrat Abbyasov memberikan apresiasi tinggi terhadap kerukunan dan persaudaraan antar bangsa di Indonesia. Menurut mereka, kerjasama generasi muda harus dikembangkan, termasuk di bidang pendidikan.
"Kami senang ada mahasiswa muslim kami yang studi di Indonesia. Mereka tidak hanya mendalami ilmu keislaman, tetapi juga pentingnya nilai-nilai persaudaraan dan kerukunan antar sesama," ungkap Marat Gatin dengan gembira.
Ketua Umum PB HMI, Noer Fajrieansyah menyampaikan kunjungan ke Rusia bukan hanya untuk tukar pandangan mengenai pluralisme dan persatuan bangsa, tetapi juga membuka jalan kerjasama antar pemuda kedua bangsa yang saat ini belum ada.
"Kerjasama bukan hanya sebatas pemuda Islam, tetapi generasi muda secara umum guna membangun persahabatan dan kesatuan antarbangsa," jelas Fajri.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Djauhari Oratmangun menyambut baik peran aktif generasi muda Indonesia dalam mengedepankan pluralisme untuk persatuan bangsa.
"Langkah ini akan lebih mendekatkan hubungan kedua bangsa, sehingga mitra strategis antara Indonesia dan Rusia dapat terwujud dalam kerjasama di berbagai tingkatan," ujar Djauhari Oratmangun.[dem]







