Rakyat Merdeka Online

Home

Share |
Training 924 Bintara, Polri Bangun 13 Polsek
Keamanan di Wilayah Perbatasan Semakin Kritis
Jum'at, 29 Juni 2012 , 08:47:00 WIB

ILUSTRASI/IST
  

RMOL.Keamanan wilayah perbatasan semakin terancam akibat meningkatnya tindak kejahatan.

Warga setempat menjadi sasa­ran. Tragisnya kejahatan itu dila­kukan oknum aparat keamanan negara tetangga.

Hal itu terungkap dalam rapat kerja koordinasi Badan  Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) di Kementerian Dalam Negeri, Rabu lalu.

Dalam rapat tersebut turut hadir Menteri Dalam Negeri Ga­ma­wan Fauzi selaku Ketua BNPP, Kapolri Timur Pradopo, Panglima TNI Agus Suhartono, Menteri Pem­bangunan Daerah Ter­tinggal Hel­mi Faisal Zaini, dan Menko Kesra Agung Laksono.

Dalam paparannya Kapolri Jen­deral Timur Paradopo me­nga­­takan, kejahatan seperti tena­ga ker­ja ilegal, pembalakan, pe­ri­­ka­nan, pertambangan, per­da­ga­ngan dan penyelundupan ma­nusia, ke­ja­hatan penyalahgunaan narkotik dan terorisme, illegal logging ser­ta perdagangan sen­jata api masih terjadi di daerah perbatasan.

“Kriminalitas masih terjadi dan cenderung mengalami peningka­tan. Wilayah perbatasan harus terkelola dengan baik. Targetnya ba­gaimana supaya wilayah per­batasan itu dalam kendali kita “ katanya.

Menurutnya, kejahatan terse­but tidak hanya dilakukan WNI, melainkan oknum aparat ke­ama­nan dari negara tetangga. Mi­sal­nya saja, kasus yang terja­di pada ta­hun lalu. Anggota po­­li­si dari Ma­laysia ataupun Bru­nei yang ma­suk ke wilayah ter­ritorial In­donesia dan melakukan kejahatan.

Hanya saja Kapolri tidak me­rinci berapa banyak kasus yang dilakukan personel negeri jiran tersebut. Namun yang pasti keba­nyakan dari mereka melakukan penganiayaan terhadap WNI di wilayah perbatasan. “Persoalan itu diatasi melalui kemitraan po­lisi dengan aparat keamanan ke­dua negara. Tapi kita meng­hu­kum dengan hukum Indone­sia,” ujarnya.

Melihat kondisi itu Polri sudah upaya secara maksimal men­jaga keamanan di wilayah per­batasan. Bentuknya antara lain, menambah kepolisian sektor (Polsek), yaitu di perbatasan Nu­sa Tenggara Timur sebanyak 3 Polsek, 4 polsek di Kalimantan Timur, 3 Polsek di Ka­limantan Ba­rat, dan sebanyak 3 Polsek di Pa­pua. Polisi juga membangun kantor Subpolsek di sejumlah titik rawan perbatasan seperti 14 unit di NTT, Kali­mantan Timur se­banyak 17 Sub­polsek, Ka­liman­tan Barat se­banyak 16 Subpolsek dan Papua 5 Subpolsek. 

Selain itu Polri juga sudah melatih 924 personel bintara. Mereka bertugas khusus di per­batasan untuk mengisi Polsek dan Subpolsek.  Bahkan Polri juga te­lah menggandeng Inter­national Or­ganization for Mi­gration (IOM) untuk memberi pendidi­kan kepada para ang­gotanya itu.

Upaya-upaya peningkatan keamanan tersebut juga mesti du­kung dengan perhatian terhadap kesejahteraan petugas di perba­tasan. Salah satu caranya melalui  membuka ladang dan usaha pertanian. “Misalnya mengelola kebun. Kita pertimbangkan polisi di perbatasan untuk menanam  kacang dan jagung,” jelasnya.

Sementara Kabagpenum Ma­bes Polri Boy Rafli Amar menga­ta­kan, pos perbatasan baik yang dimiliki TNI atau Polri memer­lukan sarana dan prasarana yang lebih baik lagi. Pembangunan Polsek dan Subpolsek diharapkan bisa meminimalisir kejahatan di daerah perbatasan.

“Perbatasan itu pintu gerbang ke­daulatan negara kita. Di wila­yah perbatasan Polri berkoor­dinasi dengan TNI dan pemerin­tah daerah,” katanya.

Rencana pembangunan Polsek dan Subpolsek itu dapat direali­sasikan  secara bertahap sampai 2013. Namun, Boy belum bisa memastikan dukungan anggaran yang dibutuhkan.

Terpisah Panglima TNI Laksa­mana Agus Suhartono mengung­kapkan, pihaknya telah melaku­kan rotasi pos perbatasan guna memperkuat pengamanan di perbatasan. Rotasi bukan hanya menyangkut personil TNI saja, tetapi juga pos di perbatasan de­ngan negara tetangga.

Hal itu dilakukan karena pos dan personil TNI yang berada di pos daerah perbatasan ada pe­nempatan yang kurang tepat men­jaga untuk menjaga wilayah perbatasan.  

Selama Ini Diabaikan Pemerintah

Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch

Pemerintah harus fokus menyelesaikan permasalahan terutama keamanan di daerah perbatasan seperti di Papua, Kalimantan Timur, dan NTT yang sering menjadi tempat keja­hatan. Selama ini peme­rintah mengabaikannya.

Minimnya fasilitas dan per­so­nel yang dimiliki aparat ke­ama­­nan hanyalah  salah satu ken­dala permasalahan keama­nan. Selain membangun pos-pos kepolisian ataupun TNI di daerah perbatasan, pemerintah juga harus mendukung fasilitas keamanan lainnya seperti tank dan senjata alat berat lainnya.

Negara tetangga seperti Ma­lay­sia telah menempatkan pera­latan berat itu di perbatasan. Na­mun, kondisi tersebut juga ha­rus didukung dengan pem­ba­ngunan infrastruktur trans­por­ta­si jalan yang memadai. Se­hingga, tank-tank yang me­reka miliki bisa masuk di wi­layah per­­batasan. Nah, peme­rintah mau nggak melakukan seperti itu.

Dari sisi personel, jumlahnya di wilayah perbatasan terhitung mencukupi, namun mereka be­lum difasilitasi dengan perleng­kapan yang bisa menunjang ki­nerja. Hal ini juga harus men­da­pat perhatian pemerintah.

Banyak Oknum Pejabat Pemda Menjadi Beking

Abdul Malik Haramain, Anggota Komisi II DPR

Kejahatan maupun gang­guan keamanan di daerah per­batasan yang melibatkan ok­num aparat keamanan negara te­tangga kepada warga Indo­nesia sudah berlangsung lama.

Sayangnya, hal itu kurang mendapat perhatian serius dari pe­merintah,’perkembangan te­rus semakin meningkat. Se­ba­gai pintu gerbang negara, se­mesti­nya daerah perbatasan mendapatkan perha­tian le­bih, karena dari situlah kedau­la­­tan dan wibawa sebuah bangsa.

Ada empat faktor utama yang menyebabkan daerah perbata­san selalu dijadikan tempat  kejahatan. Pertama, minimnya perlengkapan yang dimiliki personil TNI-Polri di darat dan laut di wilayah perbatasan ku­rang memadai.

Contohnya, kapal pelaku ille­gal fishing memiliki tekno­logi yang lebih canggih di­ban­­ding­kan kapal patroli apa­rat kema­nan.

Kedua, minimnya personil apa­rat kemanan di wilayah perbatasan. Jika dibandingkan dengan jumlah pelaku keja­hatan, jumlah aparat TNI-Polri masih sangat jauh dari ideal. Akibatnya, daerah perbatasan tidak bisa terpantau seluruhnya.

Ketiga, masih banyaknya ok­num pejabat pemda dan aparat keamanan yang membekingi para penjahat daerah perba­tasan.

Keempat, kondisi daerah perbatasan yang terisolir dan miskin juga menjadi salah satu alasan utama masyarakat mudah terprovokasi melakukan tindak kejahatan. [Harian Rakyat Merdeka]


Baca juga:
Butuh 158 Miliar Biayai Ujian 560 Ribu Honorer
Kepala Adat Besar Dayak Laporkan Kapolres Paser dan Kapolda Kaltim ke Mabes Polri
Inilah Mutasi Besar di Tubuh Polri
60 Persen Digunakan Membayar Gaji Guru
Polwan Gadungan Berpangkat Kompol Ditangkap di Bandara Soetta

Komentar (0)

Nama
Judul
Komentar

Githok

blitz.rmol.co
www.medanbagus.com
www.jakartabagus.com
www.rakyatmerdeka.tv

Gotong Royong Ala Jepang


Menghidupkan Kembali Ekonomi Pantai Barat


Kesetiaan Ksatria Yudhoyono Diuji Kanjeng Ratu Elizabeth II