Rakyat Merdeka Online

Home

Share |
Mengapa Publik Menyikapi Berbeda Hasil Survei dengan Hasil Quick Count
Jum'at, 13 Juli 2012 , 07:20:00 WIB
Laporan:

ILUSTRASI
  

RMOL. Pemilihan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta digelar dua hari lalu (Rabu, 11/7). Artinya masih ada waktu tujuh hari lagi bagi KPUD untuk mengumumkan hasil resmi Pilkada DKI Jakarta.

Namun demikian publik benar-benar sudah terpengaruh dengan hasil hitung cepat (quick count) dari berbagai lembaga survei. Hasil hitung cepat itu menunjukkan bahwa pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama mengungguli pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Di antara kedua pasangan ini terpaut sekitar 10 persen. Jokowi berada di angka rata-rata 42-43 persen, sementara Fauzi Bowo berada di angka 32-33 persen.

Publik seakan-akan ambigu menilai hasil dari lembaga survei ini. Di satu sisi, publik meragukan hasil survei sebelum Pilkada digelar. Namun di sisi lain, publik juga seakan-akan menyakini hasil hitung cepat, yang juga sama-sama digelar lembaga survei yang sama.

Sikap ambiguitas ini nampaknya wajar. Pertama, publik tahu bahwa survei yang digelar sebelum pilkada digelar bisa saja direkayasa. Mungkin fakta dan angka hasil survei tersebut tidak bisa diotak-atik lagi, namun penyampaian angka-angka tersebut bisa saja diolah sedemikian rupa dengan artikulasi bahasa yang mengarahkan. Kedua, apapun hasil survei itu, tidak bisa dikonformasi kebenarannya oleh publik karena data-data itu milik lembaga survei secara internal.

Berbeda dengan survei, quick count sangat terkait dengan kredibilitas lembaga survei itu sendiri. Artinya lembaga survei tidak bisa main-main dan tidak mungkin mengotak-atik bahasa dalam angka. Sebab hasil dari quick count dapat diuji, dikonfirmasi dan dibandingkan kebenarannya dengan hasil resmi dari KPU atau KPUD. Bila hasil quick count jauh dari hasil resmi, jatuh lah kredibilitas lembaga survei tersebut.

Dengan demikian, tidak heran bila publik menyikapi berbeda hasil survei dengan hasil quick count tersebut. Mereka menolak hasil survei, tapi seakan-akan taken for grented apapun hasil quick count. [ysa]


Baca juga:
Sangat Mungkin PKS Berkoalisi dengan Jokowi-Ahok
Jika Merapat ke Foke-Nara, Citra PKS Akan Jatuh
Amir RCJ: Golkar Terjerembab, Aburizal Harus Bertanggung Jawab
Anas Urbaningrum akan Himpun Kekuatan untuk Kalahkan Jokowi-Ahok
Ruhut Sitompul: Alex-Nono Kalah, Ical Harus Hati-hati


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Maria Eva, Sudah Dihamili Eks Pejabat Pare-Pare

Maria kaget umur 35 tahun masih bisa hamil. Tidak tahu apakah istri pertam ...

 

Dul Cemas Menanti Vonis

Terdakwa AQJ alias Dul telah menjalani enam kali persidangan dalam kasus k ...

 

Luna Maya, Rajin Rawat Organ Intim

Wanita itu idealnya cantik luar-dalam. Merawat paras yang terlihat sama pe ...

 

Lindsay Lohan, Bikin Berang ELLE Indonesia

Lilo kembali berulah. Dan kali ini ia bermasalah dengan pihak majalah ELLE ...


Berita Populer

Anggapan Jokowi Capres Boneka Semakin Tak Terbantahkan
Jokowi Lawan Prabowo, Fakta Ironis Sekaligus Tragis
Bila Berhasil Acak-acak PPP, Prabowo Pun Bisa Rusak PKS