PAN Tidak Perlu Malu Mengoreksi Kesalahan yang Telah Diambil
Selasa, 17 Juli 2012 , 08:05:00 WIB
![]() TAUFIK KURNIAWAN/IST | |
RMOL. Banyak elit partai politik pendukung Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli merasa kecewa karena ternyata pasangan ini bukan saja gagal memenangkan Pilkada DKI Jakarta dalam satu putaran, melainkan juga dipermalukan oleh pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama. Sebagaimana hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, Joko Widodo meninggalkan Fauzi Bowo dengan selisih angka sekitar 10 persen.
Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN), Taufik Kurniawan, misalnya, menegaskan bahwa PAN akan tetap mendukung Fauzi Bowo di putaran kedua, namun dengan syarat. Syaratnya adalah Fauzi Bowo harus mengubah gaya kepemimpinan yang selama ini dipertontonkan. Fauzi Bowo harus merakyat, terjun langsung ke masyarakat, dan tidak elitis. Sementara itu, Wakil Ketua Umum PAN, Dradjad H Wibowo, memprediksi Fauzi Bowo akan sulit masuk putaran kedua karena sulit diterima oleg publik. Fauzi Bowo terkesan arogan, emosional dan kurang merakyat.
Terkait hal ini, pemerhati hukum dan politik dari The Indonesian Reform, Martimus Amin, kepada Rakyat Merdeka Online (Selasa, 17/7), mengatakan bahwa elit PAN harus melihat persoalan dukung mendukung ini secara jernih. PAN harus meletakan kemaslahatan bangsa dan negara menjadi poin utama, dan bukan sekedar pada persoalan menang dan kalah.
Menurut Martimus, semua elit partai politik harus memetik pelajaran berhara dari Pilkada DKI Jakarta. Partai politik harus mendukung calon yang benar-benar memiliki jejak rekam yang kridibel, kapabel, akuntabel dan merakyat.
"PAN tidak usah malu untuk mengkoreksi kesalahannya. Hal ini juga telah dievaluasi oleh elit parpol pendukung Foke lainnya, sebagaimana disampaikan politisi PKS Misbakhun dan politisi PKB Effendi Choiri agar partai politik yang menaunginya tersebut mengalihkan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ahok pada putaran kedua," demikian Martimus. [ysa]
















