Kamis, 02 Agustus 2012 , 23:28:00 WIB
![]() ILUSTRASI/IST | |
RMOL. Merespon maraknya perdebatan antara pro dan kontra terkait dengan lahirnya Islam Liberal, Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) menggelar diskusi bertajuk 'Kritik Islam Liberal: Antara Manfaat dan Bahaya'. Diskusi ini diselenggarakan di Masjid Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (2/8).
Hadir sebagai narasumber; Dekan Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Jakarta Prof. Dr. Zainun Kamal, Dewan Pembina Syabab Ahlussunnah Wal Jamaah Ustad Muhyidin Fattah, MA dan Ketua Bahsul Masail PCNU Tangerang Selatan Ahmad Nur Kholid.
"Meski sedang menahan lapar karena puasa namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para mahasiswa untuk berdiskusi. Antusiasme mahasiswa dalam menggiatkan diskusi tampak terlihat jelas. Apalagi tema yang dibahas adalah menarik dan sering menjadi perdebatan di kalangan mahasiswa dan tokoh agama," kata Ketua Panitia, Ghozali usai acara.
Sebagaimana diketahui para pemikir liberal sering mengusung pemikiran-pemikiran yang kontroversial sebut saja almarhum Nur Cholish Majid dan yang kemudian diteruskan oleh kelompok Jaringan Islam Liberal Ulil Abshor Abdallah.
Mereka mengusung ide bahwa semua agama dianggap sama benarnya, Alquran oleh mereka dianggap bukan lagi teks kalam ilahi yang suci tetapi dianggap teks sejarah biasa sebagaiman koran atau buku sejarah lainnya.
"Yang paling kontroversial adalah pemikiran Siti Musdah Mulia yang kampanyekan bahwa perilaku gay atau lesbian bukanlah pelanggaran atas ajaran agama. Hal ini tentu saja memancing banyak sikap penolakan dari berbagai ormas islam, tokoh maupun masyarakat umum. Bahkan pada tahun 2005 MUI sampai mengeluarkan fatwa tentang haramnya paham sipilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme)," demikian Ghozali. [arp]

- skulerisme














