Rakyat Merdeka Online

Home

Share |
PUTARAN DUA PILGUB DKI
80 Persen Suara Kembali Dideklarasikan Tim Jokowi-Ahok
Sabtu, 04 Agustus 2012 , 15:11:00 WIB
Laporan: Samrut Lellolsima

JOKOWI-AHOK/IST
  

RMOL. Barisan pendukung pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama terus mendengungkan perolehan 80 persen suara pada pemilihan putaran dua September mendatang.

Setelah dideklarasikan para pendukung pemenangan Jokowi-Ahok yang tergabung dalam Pokso Perjuangan Rakyat (Pospera) pada 24 Juli lalu, kini deklarasi 80 persen suara dilakukan tim pemenangan yang tergabung dalam Forum Lintas Nusantara (Forlinus). Sama seperti Pospera, Forlinus mendeklarasikan targetnya itu di Pokso Perjuangan Rakyat, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Deklarasi dilakukan beberapa jam lalu. Beberapa perwakilan atau simpul Forlinus ikut hadir..

"Mendukung sepenuhnya dan siap memenangkan calon Gubernur DKI Jakarta no urut 3, sebagai Gubernur dan Wagub periode 2012-2017 pada Pemilukada DKI Jakarta putaran II, September 2012 mendatang," ucap Nurkolis, salah seorang perwakilan Forlinus, menyampaikan pernyataan sikap beberapa saat tadi.

Dalam pernyataan, Nurkolisi juga menyatakan bahwa Forlinus dengan tegas menolak penggunan isu SARA dalam Pilkada. Sebab, itu hanya akan menimbulkan perpecahan antara bangsa dan umat beragama.

"Kita juga menolak money politic, penggelembungan suara dan ketidakjujuran dalam pemungutan dan penghitungan suara dalam pemilukada DKI Jakarta putaran dua," terang ketua Forsimas Jawa tengah itu.

Forlinus sepakat untuk menyerukan kepada Cagub DKI Jakarta untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dan etika moral bangsa.

"Menyerukan kepada masyarakat DKI Jakarta yang memiliki hak pilih untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani dan tidak terpengaruh oleh money politic dan kepentingan sesaat serta praktek-praktek intimidasi dari pihak manapun," tambahnya.[dem]


Baca juga:
Rapat Pleno Penambahan DPT Berlangsung Alot Sampai Diskors
MUARA MARUNDA
Ketika Setiawan Djodi Tak Hanya Memakai Kemeja Putih...
Umat Islam Diminta Tidak Terprovokasi, Ahok Tak Bisa Dirikan Gereja Sesuka Hati
Strategi Taufiq Kiemas Cuma Tembak Boneka Jerami

Komentar (9)

Nama
Judul
Komentar
  1. Solo menjadi bukti bangkitnya jatidiri bangsa Indonesia
    04.08.2012, 20:14 WIB
    Komentator: Ario Kamamdanu
    Setelah SOLO menjadi miniatur bangsa Indonesia kini saatnya Ibu kota Negara DKI Jakarta akan menjadi suar Syiar akan jati diri bangsa Indonesia.
    Ayo JOKOWI .....anda harus benar 2x menjadi pembantunya warga DKI untuk mewujudkan itu.
  2. Ada baiknya komentator atau calon pemilih membaca komentar dibawah
    04.08.2012, 19:46 WIB
    Komentator: Gudal Bambang Susilo
    Kisah Hidup Jokowi
    Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.

    Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.

    Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.

    Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

    Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.

    Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.

    Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.

    Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

    Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontaner dan ia berjalan-jalan di Eropa.

    Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.
    T
    Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawabtan moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.

    Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.

    Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

    Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencinta dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.

    Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”

    Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.

    Prof. DR Sarlito Wirawan terhadap kinerja Jokowi

    Setiap hari saya bekerja di Jakarta, tetapi saya warga Banten, karena KTP saya berlamat di Ciputat. Jadi saya tidak punya hak pilih di Pilkada DKI (Rabu, 11 Juli) lalu. Saya juga bukan simpatisan, apalagi anggota parpol mana pun, termasuk PDIP.

    Juga bukan kerabat atau famili dari Jokowi,walaupun istri saya keturunan Solo.Jadi buat saya tidak penting siapa yang jadi Gubernur DKI, asal bukan Sarlito. Namun, saya kenal Jokowi. Bukan berteman sejak kecil (masa balita sampai ABG saya di Tegal, jauh dari Solo), tetapi pertama kali tahu dari mahasiswa saya,namanya Okky Asokawati (dulu peragawati, sekarang anggota DPR dari Fraksi PPP).

    Waktu dia berpraktik dalam kuliah S-2 Psikologi UI, dia dan timnya mengambil Solo sebagai objek studi dan dia berkenalan dengan Jokowi. Kemudian Okky dan timnya tentu membuat laporan buat suhunya. Setelah saya membaca laporannya, saya berkesimpulan bahwa Jokowi bukan wali kota biasa. Mungkin banget dia manusia fenomenal (maksud saya: unik, langka). Karena itu saya minta Okky mengundang Jokowi ke kampus untuk memberi kuliah kepada mahasiswa saya (kalau tidak salah ada 23 mahasiswa di kelas saya).

    Maka pada hari yang ditentukan Jokowi datang ke Kampus UI, Depok. Langsung dari Solo dan seusai kuliah juga langsung pulang ke Solo. Naik taksi. Okky menjemputnya di depan gedung fakultas,karena takut tidak ada yang mengantar beliau ke lanta atas, karena memang penampilannya tidak bonafid (maksud saya: tidak tampak seperti seorang pejabat sekelas Solo-1),sehingga mungkin sekali dia akan dicuekin satpam.
    Saya pun hampir- hampir salah, karena tidak bisa membedakan mana yang Jokowi dan mana yang ajudan. Untung ada Okky, jadi tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki. Kemudian kuliah pun berlangsung, dilanjutkan dengan diskusi, selama hampir tiga jam. Materi kuliahnya adalah tentang proses pemindahan PKL (pedagang kaki lima) dari Taman Banjarsari (dulu: Balapan) ke Pasar Klithikan, Notoharjo, Semanggi. Kisahnya sangat kondang dan banyak yang sudah mengetahuinya.

    Tetapi buat yang belum tahu, bisa disampaikan bahwa Taman Banjarsari dulunya taman terbuka, asri, elite, tempat warga Solo berekreasi dengan keluarga mereka. Tetapi sejak krisis moneter tempat itu dijadikan ajang usaha oleh PKL yang jumlahnya makin lama makin meningkat, sehingga taman itu berubah jadi daerah kumuh.
    Kemudian datanglah Wali Kota Jokowi untuk mengembalikan fungsi taman kota itu.Satu- satunya cara adalah dengan memindahkan para PKL. Tetapi Jokowi tidak datang dengan satu kompi Satpol PP untuk mengusir para PKL berdasarkan perda,melainkan diundangnya para PKL itu ke kediamannya untuk makanmakan saja.Ada 52 kali makanmakan mingguan bersama PKL diselenggarakan oleh Jokowi.

    Dengan sendirinya lamalama Jokowi dan stafnya akrab dengan para PKL. Dalam suasana makan-makan yang informal itu semua curhat dan harapan PKL ditampung, sekaligus disiapkan sarana dan prasarana jalan keluarnya. Pada pertemuan-pertemuan terakhir barulah Wali Kota mengumumkan niatnya untuk memindahkan PKL ke Semanggi.

    Tetapi PKL tidak bisa protes lagi, karena bangunan pasar sudah disiapkan, pihak bank sudah menyiapkan pinjaman dana dengan cicilan hanya beberapa ribu rupiah per hari, perizinan semua digratiskan, bahkan sudah dikeluarkan perda yang mengatur jalur angkot untuk melalui Pasar Klithikan. Singkatnya, para PKL tinggal memboyong barang-barang mereka ke lokasi yang baru.

    Pada hari boyongan pun disiapkan kirab yang diawali dengan pembesar-pembesar Keraton Mangkunegaran dan para pejabat Kota Solo (termasuk wali kota) yang menunggang kuda, diiringi oleh barisan pusakapusaka keraton dan tentara tradisional keraton,gamelan yang bertalu-talu, diakhiri dengan barisan para PKL. Arak-arakan yang terjadi tanggal 26 Juli 2006 ini menjadi peristiwa yang menarik wisatawan domestik dan asing— dan tentu saja media massa dalam dan luar negeri.
    keraton dan tentara tradisional keraton,gamelan yang bertalu-talu, diakhiri dengan barisan para PKL. Arak-arakan yang terjadi tanggal 26 Juli 2006 ini menjadi peristiwa yang menarik wisatawan domestik dan asing— dan tentu saja media massa dalam dan luar negeri.

    Gegap gempita.Semua bergembira. Proyek pemindahan PKL Taman Banjarsari hanya awal dari gebrakan Jokowi untuk membangun Kota Solo. Program- program Jokowi dan wakilnya (Hadi Rudyatmo) berlanjut terus sehingga Solo menjadi kota wisata yang nyaman dan menyenangkan. Taman Banjarsari sudah kembali ke fungsinya sebagai taman kota yang asri.

    Seusai kuliah itu saya terus mengikuti kiprah Jokowi, pernah sekali atau dua kali bertemu dengannya dalam acaraacara tertentu di Solo dan kisah pemindahan PKL Banjarsari pernah saya jadikan contoh dalam beberapa tulisan maupun kuliah saya. Kesimpulan saya, Jokowi memang fenomenal. Walaupun tidak pernah mempelajari ilmu sosial, apalagi psikologi (kuliahnya dulu di Fakultas Kehutanan, UGM, Yogyakarta), Jokowi menerapkan kaidah-kaidah intervensi sosial dengan sangat tepat,hanya berdasarkan akal sehatnya dan komitmennya pada tugas (saya tidak mau menyebut “hati nurani”, karena istilah itu sudah jadi pasaran, malah malah murahan).
    Ketika saya menulis artikel ini, sambil menonton televisi saya melihat Jokowi diwawancara di televisi.Pertanyaan reporter di layar kaca itu, seperti biasa, pasaran juga,“Pada putaran kedua nanti Anda akan berkolaborasi dengan siapa?” Maksud reporter tentu dengan yang mana di antara empat calon gubernur yang sudah gugur. Tetapi jawaban Jokowi di luar dugaan, “Aaah,tidak.Yang terbaik adalah berkolaborasi dengan masyarakat DKI, dengan rakyat Jakarta.” Luar biasa.
    Ini adalah jawaban yang cerdas,keluar dari akal sehat. Dalam kesempatan paparan DPR,Jokowi dan pasangannya, Ahok,menyampaikan fakta Banjir Kanal Timur yang dibangun oleh pemerintah pusat, bukan dari dana Pemprov DKI, dan bahwa Gubernur Sutiyoso bisa membangun 10 jalur Busway, tetapi Gubernur Foke hanya bisa menambah satu jalur saja. Maka Jokowi-Ahok akan memprioritaskan angkutan umum, termasuk meneruskan pembangunan monorel.
    Selain itu Jokowi-Ahok merencanakan Kartu Sehat (berobat gratis) dan Kartu Pintar (sekolah gratis) untuk warga tidak mampu. Yang perlu diperhatikan di sini bukan janji pelayanan kesehatan dan pendidikan gratisnya (ini merupakan janji semua calon gubernur di mana pun, tidak hanya di Jakarta), tetapi cara dia memberi nama kepada dua pelayanan itu.

    Dengan menggunakan istilah “kartu”, setiap warga yang kurang mampu nantinya akan mengantongi dua kartu (sehat dan cerdas) yang bisa dibawa ke mana-mana dan bisa digunakan sewaktu-waktu (tidak usah minta surat ke RT atau lurah dulu, dan sebagainya). Jokowi tidak menjanjikan membangun rumah sakit atau memberi fasilitas kepada sekolah- sekolah (seperti bantuan operasional sekolah alias BOS yang bukan boss), melainkan menjanjikan kartu buat setiap warga yang memerlukan.
    Maka jelas sasarannya adalah hati warga DKI sebagai perorangan yang sudah penuh unek-unek. Suatu pemecahan yang benar-benar cerdas, yang keluar dari akal sehat. Masyarakat Jakarta tidak semuanya cerdas, apalagi berpendidikan, terlebih pendidikan tinggi.Tetapi rakyat yang paling jelata pun bisa membedakan antara akal sehat dan akalakalan. Berpuluh tahun bangsa kita terlatih untuk akal-akalan (menggunakan akal untuk sesuatu yang tidak masuk akal).

    Di zaman Soeharto dana reboisasi diakali, sehingga hutan- hutan malah makin gundul. Perjalanan dinas dua hari diakali sehingga jadi lima hari, sehingga sisa dana perjalanan dan akomodasi bisa masuk kantong sendiri. Di zaman sekarang ada akalakalan proyek Hambalang,ada Gayus yang mengakali pajak dan sebagainya. Masyarakat yang sudah capai dengan akalakalan ini langsung melihat peluang pada diri Jokowi yang berakal sehat.

    Jokowi akan berhasil sebagai gubernur DKI,bukan karena dia manusia ber-okol (berotot) yang didukung oleh parta besar atau birokrasi atau militer (seperti Hosni Mubarak, Khadafi,atau Saddam Husein), melainkan karena dia didukung oleh rakyat Jakarta. Insya Allah, dengan rahmat- Nya,Jokowi akan bergeser dari Solo-1 menjadi Jakarta-1.


    Ttg ahok
    saya merinding membaca ini :
    Ketika Ahok menjadi bupati, bukan masyarakat muslim yang protes dengan kebijakannya sebagai bupati. Malah umat yang seagama dengannya. Basuki dituduh tidak memperhatikan pembangunan gereja, malah mempermudah dan menyumbang pembangunan masjid2. Ahok berang,menurutnya gereja tidak perlu dibantu. “Kalian saweran aja, gereja udh jadi. Kalau masjid memang harus disokong.” Jelas Basuki. Masyarakat Muslim jumlahnya 93% dan masjid butuh banyak. Gereja cuma butuh sedikit dan umat kristen lebih baik ekonominya. Selain membangun mesjid, Ahok juga menaik-hajikan ustad dan ulama-ulama yang belum bergelar haji. Lebih dari 100 orang dihajikan. Ahok bahkan ikut safari ramadhan ketika bulan ramadhan tiba. Meski Ia harus menunggu saja di parkiran sampai selesai.

    Ahok tidak membedakan orang, timses lawan politiknya di Belitung ada yg memiliki kinerja bagus dijadikan bagian dari jajaran pemerintahannya. Teringat ketika ke belitung, ada seorang pendeta yang datang menemui Ahok. Intinya ingin meminta sumbangan berupa mobil. Mobil itu konon katanya dipakai untuk antar jemput jemaat. Waktu itu pembicaraan Pak Ahok dan pendeta didepan saya. Ahok langsung menolaknya. Karena yang Kristen di desa Gantung (desa Ahok) hanya sedikit dan jaraknya sempit. Kalo tiap minggu ke gereja kata Ahok masih bisa jalan kaki. Si pendeta gak terima dan marah-marah ke Ahok sambil bilang “Kamu hanya sumbangkan ke masjid-masjid saja, agamamu tidak disumbang”. Ahok jawab ; “Aku sumbangkan gereja juga, Tapi tidak banyak karena disini mayoritas lebih banyak yang memakai mesjid”. Pendeta pun pulang
  3. Yang penting kerja keras
    04.08.2012, 17:48 WIB
    Komentator: Lebay
    Yang penting kerja keras, tetap simpatik, berpikir cerdas, jujur, tidak menyakiti pihak manapun. Target boleh boleh saja untuk mendorong kerja yang lebih serius, kerja keras dan jangan melakukan kampanye negatip. Yang melakukan kampanye negatip hanya mencermunkan kekalutan dan blunder dalam keiatannya. Dengan rakyat yang cerdas, kampanye negatip dan fitnah akan menguntungkan pihak yang didzoliminya. Perkiraan saya kampanye negatip dan fitnah akan memberikan skor akhir berkisar dari 20%-80% sampai 30%-70%, untuk kemenangan orang orang baik.
  4. - SECARA SADAR MEGAWATI TELAH MENGKHIANATI BAPAKNYA SENDIRI TERKAIT NASIONALISME
    04.08.2012, 17:01 WIB
    Komentator: DEMIKIAN JUGA DJODI tlh berkhianat dgn kakeknya WAHIDIN SUDIROHUSODO terkait KEBANGSAAN
    WAHIDIN SOEDIROHOESODO MERUP TAOKOH KEBANGSAAN dgn sumpah pemudanya, SOEKARNO adl TOKOH PROKLAMATOR dgn nasionalismenya.
    NAMUN SETIAWAN DJODI dgn keegoannya tlh berkhianat terhadap kakek dan bgsnya sendiri ikut2an dukung @hok cina (krn uang dan reputasi?). Demikian juga Megawati scr sadar telah berkhianat thd Bpnya sendiri dan menghapus simbol NASIONALIS parta* yg dipimpinnya PDIP (bs jd Megawati terlalu banyak berhutang budi dgn cina shg tdk berdaya). MAU TDK MAU DIA MENERIMA TAWARAN AHOK JD CAWAGUB.
  5. - Tetap
    04.08.2012, 16:53 WIB
    Komentator: Doel
    Mau cina atau Dr bangsa Mana tp klu mw berbuat kebaikkan utk DAERAH kita jd wajib hukumnya utk dipilih..kemarin putaran pertama sy coblos Kumis tp dgn perkembangan saat ini serta byknya isu2 agama yg sebenarnya Ga perlu,maka dengan ini sy akan memilih jokowi utk tanggal 20 September 2012 ,,,Insya Allah pilihan ini membawa perubahan utk ibukota tercinta..amiiin
  6. ha ha kaga ade Cagub dari bangsa Onta.
    04.08.2012, 16:53 WIB
    Komentator: Rojali
    Cuman ada dua pilihan : Betawi Betawi atau Jawa China.
  7. Bangsa Onta lebih penipu lagi
    04.08.2012, 16:17 WIB
    Komentator: YAKINLAH JANGAN SADAR SETELAH DITIPU
    Jangan terpancing dengan hasutan2 untuk tidak memilih etnis tertentu. Kalau mau jujur, bangsa Onta lebih penipu lagi.
    Ta-i kambing dikeringkan, masuk dalam botol, dibilang "jadam" obat kuat lelaki.
    Di bahan celana tertulis "Dijamin tidak luntur". Ditulis pakai huruf onta, Dibacanya harus dr belakang, jadi "LUNTUR TIDAK DIJAMIN"
  8. logut si jokowi
    04.08.2012, 16:00 WIB
    Komentator: epoy condet
    ogut si milih jokowi... biarin lu milih kumis kalo ogut sekeluarga milih jokowi, ogut kapok di boongin sma si kumis
  9. - BGS CINA DIKENAL PENIPUNYA UTK MENGGARONG UANG NEGARA
    04.08.2012, 15:55 WIB
    Komentator: YAKINLAH JANGAN SADAR SETELAH DITIPU
    Jangan terprovoksi ... mereka yg tergabung dlm timses Ahok mendapatkan angpau sementara kalian yg nyoblos tdk dpt apa2.
    yg ada kita semua tertipu.
    INGAT JANGAN MAU DIBODOH2i cina terkenal liciknya. BERBICARA CINA BUKANLAH SARA KARENA MENYANGKUT NASIONALISME. Ingat waktu Soekarno memimpin, bgs cina dilarang membeli tanah apalagi duduk dipemerintahan. KALAUPUN SEKARANG CINA BILEH NYAGUB krn reformasi adalah mereka bukan utk kita makanya yakinkan 20 sep kt semua ramai2 nyoblos FOKE-NARA.

Githok

blitz.rmol.co
 

Prisia Nasution, Susah Jadi Istri Jokowi

Setelah bermain cemerlang dalam film Sang Penari serta Laura & Marsha, ...

 

Ibunya Rasti Kecewa Eza Dituntut 5 Bulan Bui

Eza merasa diperlakukan tidak adil. Ia memelas, sebagai orang susah harusn ...

 

Iba, Payudara Jolie Diangkat

Bukan rahasia lagi, kalau Jennifer Aniston sakit hati saat tahu Brad Pitt, ...

 

Mila Kunis, Diinginkan Bikin Video Porno

Mila Kunis menempati posisi pertama sebagai selebriti yang video pornonya ...

 

Raffi & Luna Pedekate?

Restu didapat asal Luna sayang sama ibu dan keluarga Raffi. Namun umur jad ...

 

Beredar, Foto Bugil Mirip Sefty Sanustika

Sefty Sanustika bikin heboh. Pasalnya, telah beredar di internet, beberapa ...

 

Aishwarya Rai, Cuek Dihujat Gemuk

Aishwarya Rai memukau di red carpet Festival Film Cannes ke-66 di Paris, P ...

 

Venna Melinda, Minta 40 Juta Per Bulan, Venna Kesal Di-bully

Venna Melinda disebut-sebut membahas empat persyaratan agar bisa rujuk den ...

 

Kiki Beberkan Foto Markus & WIL Di Ranjang

Wanita lain itu-itu aja. Patut diduga ada perselingkuhanGugatan perceraian ...

www.medanbagus.com
www.jakartabagus.com
www.rakyatmerdeka.tv

Gotong Royong Ala Jepang


Bantal Emas Masal dari Negara Tropik


Kesetiaan Ksatria Yudhoyono Diuji Kanjeng Ratu Elizabeth II