Sabtu, 04 Agustus 2012 , 16:53:00 WIB
![]() ILUSTRASI | |
RMOL. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyarankan pemerintah daerah Ambon, Provinsi Maluku menjadikan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas pembangunan. Hal itu disarankan karena wilayah Ambon sangat rentang dengan terjadinya bencana longsor.
"Ancaman longsor di Kota Ambon sangat nyata," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan persnya (Sabtu, 4/8).
Selama periode 1 Januari hingga 4 Agustus 2012 jumlah korban meninggal akibat bencana di Maluku 110 orang. Tercatat 33 orang meninggal akibat banjir dan longsor. 3 orang akibat puting beliung, 69 orang akibat kecelakaan laut dan 5 orang kena demam berdarah. Dari 33 orang meninggal karena longsor dan banjir tersebut, diantaranya longsor pada 19 Juni 2012 di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon yang menyebabkan 11 orang meninggal, dan banjir dan longsor pada 1 Agustus 2012 dengan korban 10 orang meninggal.
Dijelaskan Sutopo, topografi dan geomorfologi Kota Ambon merupakan bagian kepulauan Maluku dari pulau-pulau busur vulkanis. Sebagian besar berbukit dan berlereng terjal. 73% luas wilayah berlereng terjal, dengan kemiringan di atas 20%. Hanya 17% wilayah daratan yang datar/landai dengan kemiringan kurang dari 20%. Sementara, banyaknya gempabumi di sekitar Maluku menyebabkan konsolidasi struktur tanah melemah ditambah lagi intensitas hujan yang juga meningkat, maka longsor mudah terjadi.
"Anggaran untuk penanggulangan bencana di daerah juga perlu ditingkatkan. Sebab masih terbatas. Tahun 2012 dana untuk penanggulangan bencana di BPBD hanya Rp 662 juta dari total APBD Maluku yang Rp 1,1 trilyun atau hanya 0,06% saja. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan ancaman bencana yang ada," tandas Sutopo.[dem]
















