IndiHome Digital Home Experience
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan
KemenPUPR

Bank Mandiri Dibobol 2 Karyawannya Sendiri

Kasusnya Ditangani Pengadilan Tipikor

X-Files  SENIN, 19 NOVEMBER 2012 , 09:54:00 WIB |

Bank Mandiri Dibobol 2 Karyawannya Sendiri

bank mandiri

RMOL. Bank Mandiri dibobol karyawannya sendiri sekitar Rp 5,9 miliar. Kasus ini sedang ditangani Pengadilan Tipikor Jakarta.

Terdakwa Syofrigo, pegawai Bank Mandiri Pusat bidang Re­gional Network Grup sebagai Sign Officer Management In­for­mation System-Performance and Support Departemen dan M Fajar Junaedi, pegawai Bank Mandiri cabang Juanda, Bogor, Jawa Ba­rat, bidang Verifikator mem­ba­ca­kan nota keberatan atau eksepsi me­reka pada Rabu siang (13/11).

Terdakwa Fajar yang diangkat dalam jabatannya melalui SK PT Bank Mandiri Nomor 06.Hb.BJD/008/2006 tanggal 21 Maret 2006, menyatakan kebe­ra­tan jika disebut sebagai aktor mau­pun motivator pembobolan dana Bank Mandiri ini. “Awalnya, saya bermaksud mencari peng­ha­silan tambahan,” kata dia.  

Menurut dia, teknis pem­bo­bo­lan diperolehnya setelah bertemu ter­dakwa Syofrigo pada 2008. Saat itu, Syofrigo yang tengah mensosialisasikan produk pe­r­bankan di Bank Mandiri cabang Juanda, Bogor, mengeluh dapat perlakuan tidak enak dari m­a­na­jemen Mandiri. Maksud pe­r­la­kuan tidak enak itu, terkait peng­hasilan yang minim.

Curhat tersebut berkembang. Syofrigo kemudian mengajak Fa­jar memanfaatkan pekerjaannya untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ironisnya, demi men­dapatkan penghasilan tambahan itu, mereka nekat membobol Bank Mandiri. Fajar mengakui, hasil pembobolan dana Bank Mandiri itu digunakan untuk membeli emas.

Singkat cerita, begitu men­da­pat­kan informasi tentang adanya pengiriman uang ke rekening atas nama Joni, nomor reke­ning 1430011232913 di Bank Mandiri Pro­bolinggo, Krakasan, pada Februari 2012, Fajar segera meng­hubungi Syofrigo.

Oleh Syofrigo, dana di reke­ning Joni itu dipindahbukukan atau ditransfer ke rekening nomor 1190000116002 atas nama Donny Cahyadi Foeng, pedagang emas yang sudah disiapkan Fajar.

“Begitu mendapatkan infor­masi sudah ada pemindahbukuan, saya menghubungi Ernawan.”

Fajar  mengaku bernama Anto­nius Joni saat menghubungi Er­nawan, pegawai toko emas ‘My Jewel’ milik Donny. Karena telah mentransfer uang, dia berusaha mengambil emas batangan yang dibelinya. Emas sebanyak 115 ba­tang dengan berat 11,5 kg, oleh petugas toko bernama Darkum, diberikan kepada Fajar di sebuah rumah makan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Setelah menerima emas, Fajar menjual tiga batang emas ber­sama seseorang bernama Dju­nae­di di Pasar Kopro, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Uang hasil penjualan emas ter­se­but dibagi-bagi. Fajar dan Syo­frigo mengantongi Rp 50 juta, Dju­naedi Rp 30 juta dan Rp 20 juta rencananya diberikan ke­pada se­seorang bernama Riava Sayyidina.

Selebihnya, pembagian emas batangan dilanjutkan. Fajar memberi Syofrigo 52 batang emas seberat 5,2 kg. Fajar me­n­dapat bagian 57 batangan emas seberat 5,7 kg.

Untuk keperluan meng­hi­lang­kan barang bukti, Fajar me­ni­tip­kan emas kepada seseorang ber­nama Devi Santana alias Udep. Dia me­min­ta Udep men­jualkan emas.

Total emas yang dijual Udep di Garut, Jawa Barart mencapai Rp 1,48 miliar. Fajar memberikan imbalan Rp 30 juta untuk Udep. Dia juga memberi jatah untuk Dar­kum sebatang emas 100 gram.

Kemudian, terdakwa Syofrigo mengaku memberi imbalan dua batang emas kepada Ernawan. Da­lam paparannya, Syofrigo me­ngaku pergi ke Padang, Sumatera Barat menumpang bus untuk menjual emas.

Di sana, dia men­jual 22 batang emas di toko emas dekat Terminal Padang dengan harga 400 ribu per gram. Total uang yang dikan­tonginya men­capai Rp 880 juta. Sisa emas, dia simpan di bawah tanah rumahnya.

Uang tersebut digunakan untuk membeli tanah dan rumah di Ge­dung Badak, Bogor, Jawa Barat sebesar Rp 600 juta-an. Sisanya, digunakan untuk membayar biaya rumah sakit ayahnya se­be­sar Rp 220 juta, biaya pema­ka­man Rp 175 juta. Sedangkan uang sebesar Rp 45 juta yang di­dapat dari penjualan emas lain­nya, dipakai untuk biaya ak­o­mo­dasi ke Padang.

Sementara, uang pembagian penjualan emas dari Fajar sebesar Rp 50 juta, kata dia, habis dipakai untuk membayar tagihan kartu kredit Bank Mandiri, Hypermart dan kartu kredit ANZ Rp 20 juta. Sisanya, Rp 30 juta digunakan untuk makan-makan dan jalan-jalan bersama keluarganya.

Di penghujung sidang, jaksa penuntut umum (JPU) Imanuel Richendry Hot dkk meminta ma­jelis hakim agar diberi ke­sem­patan menghadirkan saksi sopir taksi Djunaedi dan Udep pada si­dang berikutnya.

Perkara ini disidang di Pe­nga­dilan Tipikor karena Bank Man­diri adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Kerugian Bank Man­diri akibat pem­bo­bo­lan, harus di­ganti menggunakan uang ne­ga­ra,” kata Immanuel.


Komentar Pembaca
Bela Warga Bukit Duri

Bela Warga Bukit Duri

RABU, 28 SEPTEMBER 2016 , 07:25:00

Senyum Sumringah Nazaruddin

Senyum Sumringah Nazaruddin

RABU, 28 SEPTEMBER 2016 , 01:41:00

Beri Keterangan di KPK

Beri Keterangan di KPK

JUM'AT, 30 SEPTEMBER 2016 , 00:02:00