Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
verified RMOL Dewan Pers

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Tujuh Organ Mahasiswa Soroti Sembilan Persoalan Penting Bangsa

 MINGGU, 30 DESEMBER 2012 , 21:17:00 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Tujuh Organ Mahasiswa Soroti Sembilan Persoalan Penting Bangsa
RMOL. Kehidupan politik Indonesia di tahun 2012 masih didominasi euforia demokrasi liberal. Sistem pemilu, misalnya, mengedepankan kepentingan individual dan kelompok dan berpotensi merusak sendi-sendi perekat Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Atas nama demokrasi, kelompok tertentu merasa berhak mengerahkan kekuatan untuk menekan keputusan-keputusan institusi negara sehingga kehilangan kewibawan. Demokrasi dimaknai sebagai kebebasan tanpa aturan dan anarki.

Sistem demokrasi liberal yang berbiaya tinggi, lebih berpihak pada pemilik modal. Setiap aktivitas dalam kehidupan politik memerlukan modal besar dan melahirkan para koruptor secara missal. Sistem yang akhirnya menyandera kehidupan berbangsa kita.

Demikian antara lain catatan yang disampaikan aliansi tujuh organisasi mahasiswa yang malam ini (Minggu, 30/12) menyalakan 1.000 lilin di Bundaran HI, Jakarta, untuk menyambut tahun 2013. Tidak dengan duka cita, tetapi dengan setumpuk keprihatinan atas situasi yang kontradiktif yang tengah terjadi di Indonesia.

Ketujuh organisasi mahasiswa tersebut Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMHBUDHI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Dalam keterangan yang diterima redaksi malam ini, aliansi ketujuh organisasi mahasiswa itu menyampaikan catatan kritis atas sembilan persoalan penting yang harus segera disikapi. Keterangan tersebut ditandatangani oleh pentolan masing-masing organisasi, yakni Ketua Presidium GMNI Twedy Noviady, Ketua Presidium PP PMKRI Parlindungan Simarmata, Ketua Umum PB PMII Addin Jauharudin, Ketua Umum PP GMKI Supriadi Narno, Ketua Presidium HIKMHBUDHI Adi Kurniawan, Ketua Presidium KMHDI Dewa Ganapati dan Ketua Umum LMND Arif Fachrudin

Selain catatan di bidang politik, aliansi juga menyoroti pertumbuhan ekonomi yang kerap digembar-gemborkan pemerintah. Konsep pembangunan ekonomi nasional memaksa pertarungan antara rakyat kecil yang tak berdaya dengan para pemilik modal juga menyebabkan kesenjangan antarwilayah.

Pertumbuhan ekonomi yang trjadi sekadar memberi kenikmatan pada orang kaya dan pemilik modal namun meminggirkan rakyat kecil. Kekayaan sumber daya alam Indonesia dikuasai oleh asing. Tanah air dieksploitasi dan dirusak secara besar-besaran tanpa memikirkan masa depan generasi penerus bangsa. Kerusakan ekologi yang luar biasa yang akan membawa bencana di kemudian hari.

Pertumbuhan ekonomi yang ditopang konsumsi domestic yang tinggi ternyata dibanjiri barang-barang impor. Dari impor pangan, pakaian, BBM dan permesinan. Hampir setiap kebutuhan rakyat Indonesia tak luput dari barang-barang impor. Situasi yang menunjukkan ketergantungan yang luar biasa. Negara tak lagi mandiri dan berdaulat.

Di sektor hukum, pun kurang lebih sama buramnya. Penegakan hukum tidak berkeadilan dan hukum masih melindungi para penguasa. Aparat penegak hukum ragu tatkala berhadapan dengan para penguasa dan elit politik. Penyelesaian kasus-kasus besar seperti kasus Bank Century, Wisma Atlet, Hambalang, dan lain-lain lamban dan berhenti di tempat. Rakyat menanti dengan kesabaran luar biasa akan penuntasan kasus-kasus tersebut.

Berbeda dengan kasus-kasus yang melibatkan rakyat kecil.

Tanpa menunggu lama, aparat penegak hukum bergerak cepat bagai petir. Tahun 2012 juga menunjukkan pertarungan antarinstitusi penegak hukum, pertarungan KPK-Polri. Rakyat Indonesia disuguhi pertunjukan tanpa keteladanan.

Anggaran pendidikan sebesar 20 persen di APBN belum dinikmati masyarakat Indonesia khususnya rakyat kecil. Anggaran yang begitu besar tidak berdampak pada biaya pendidikan. Biaya pendidikan tetap mahal dan menyebabkan rakyat kecil yang memiliki hak atas akses pendidikan akhirnya terpinggirkan.

Rakyat kecil tak mampu bersekolah, tak berdaya lepas dari belenggu kebodohan. Kebijakan komersialisasi pendidikan yang dijalankan pemerintah telah membajak upaya mencerdaskan rakyat Indonesia.

Hal lain yang tak kalah memprihatinkan terjadi di sektor agraria. Tahun 2012 masih diwarnai oleh konflik agraria. Hampir di seluruh nusantara terjadi konflik agraria, seperti Langkat, Jambi, Lampung, Sumedang, Jember, Kalimantan, Sulawesi, NTT, dan Papua. Hak rakyat atas sektor agraria terpinggirkan akibat kebijakan pemerintah yang dengan mudah mengeluarkan HPH, Hak Izin tambang. Dengan hak tersebut, korporasi menggusur rakyat dari tanah dan sumber penghidupannya.

Sementara kehidupan sosial di tahun 2012 masih diwarnai konflik sosial. Sepanjang tahun 2012, kekerasan yang bernuansa SARA tetap marak terjadi, seperti kasus GKI Yasmin, Gereja Filadelfia, kasus sampang, dan kasus lampung. Keberagaman yang menjadi modal kemerdekaan, kini telah menjadi pemicu tindakan kekerasan. Atas nama perbedaan kelompok tertentu merasa berhak menghakimi kelompok lain dan menegasikan keberadaan aparat penegak hukum.

Aliansi ketujuh organisasi mahasiswa ini juga memberikan perhatia kepada kondisi di kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Sepanjang tahun 2012, telah terjadi beberapa peristiwa yang mengusik martabat kita sebagai sebuah bangsa. Bergesernya beberapa patok perbatasan di Kalimantan, persoalan perbatasan Indonesia dengan Timor Timur yang tak kunjung usai.

Belum lagi menyangkut perbatasan laut Indonesia dengan Negara tetangga seperti dengan Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor Timur. Belum lagi kasus persoalan pencurian ikan yang marak terjadi di perairan Indonesia membuktikan ketidakberdayaan kita dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indoneisa. Persoalan tersebut akan menjadi BOM waktu yang terus mengancam kedaulatan Indonesia.

Mereka pun peduli dengan persoalan alat utama sistem senjata (alutsista) yang menurut mereka sebagai salah satu faktor penting yang menopang harkat dan martabat sebuah bangsa. Kondisi alutsista TNI yang masih mengalami ketertinggalan tentu berpengaruh pada upaya menjaga kedaulatan NKRI. Kasus jatuhnya beberapa pesawat tempur kita tentu menjadi potret buram alutsista Indonesia.

Kesemua hal di atas menurut terjadi karena di saat bersamaan negeri ini mengalami krisis kepemimpinan yang patut menjadi teladan, berani dan tegas dalam mengambil keputusan demi kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat.

Menurut mereka, keterlibatan sejumlah tokoh dan elit politik dalam korupsi, dominasi kepentingan individu dan kelompok dalam setiap pengambilan keputusan politik negara menyebabkan terjadinya penghianatan terhadap Pancasila dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. [zul]


Komentar Pembaca
Warga NU Dilarang Ikut Aksi 313

Warga NU Dilarang Ikut Aksi 313

, 29 MARET 2017 , 18:00:00

Sidang Ahok Terlama Dan Termahal

Sidang Ahok Terlama Dan Termahal

, 29 MARET 2017 , 16:00:00

Muslimat NU Padati Istiqlal

Muslimat NU Padati Istiqlal

, 28 MARET 2017 , 08:42:00

Tabligh Akbar Di Pati

Tabligh Akbar Di Pati

, 28 MARET 2017 , 09:10:00

Ogoh-ogoh Favorit

Ogoh-ogoh Favorit

, 28 MARET 2017 , 00:29:00