Rakyat Merdeka Online

Home

Share |

Orang Dekat Prabowo: Apakah Pengusutan Kasus HAM Tuntutan Rakyat?
Sabtu, 06 April 2013 , 10:40:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

FADLI ZON
  

RMOL. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mempertanyakan batasan pengusutan kasus HAM dibalik wacana pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

Apakah hanya terhenti pada kasus kerusuhan dan penculikan aktivis jelang reformasi, atau jauh ke belakang, seperti kasus penembakan misterius, pembantaian tahun 1965, atau bahkan sampai tragedi 1948.

"Tahun 48 itu ada pembantaian ribuan orang terhadap kiai-kiai NU dan juga kepada aparat oleh PKI. Dan setelah itu ada pembalasan TKI. Tahun 65 juga begitu. PKI membunuh tujuh jenderal dan banyak orang, dan dibalas lagi oleh rakyat," ujar Fadli Zon kepada Rakyat Merdeka Online kemarin, (Jumat, 5/4).

Selain itu, masih kata orang dekat mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto ini, apakah ke depan bangsa ini sibuk membahas HAM.

"Apakah itu tuntutan rakyat? Menurut saya ke depan ini (tuntutannya) masalah ekonomi. Ada hal-hal secara politik, bukan melupakan, tapi jangan membuka luka lama kemudian akan menimbulkan konflik baru. Kecuali kita membuka luka lama dan menciptakan konflik baru," tandasnya.

Wacana pembentukan Pengadilan HAM ini disampaikan oleh anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Albert Hasibuan. Katanya, realisasi Pengadilan Ad Hoc diputuskan setelah dibahas melalui rapat kabinet terbatas pada 2012 lalu.

Tapi, Menko Polhukam Djoko Suyanto menegaskan, Presiden SBY tidak pernah memberikan arahan atau rencana untuk segera membentuk pengadilan HAM adhoc untuk dugaan kasus pelanggaran hak asasi manusia tahun 1998. Bahkan Djoko mengungkapkan, Albert Hasibuan keliru menafsirkan arahan Presiden kepada dirinya.


“Pak Albert keliru mengerti apa yang diinstruksikan presiden kepada saya. Presiden meminta agar kasus dugaan pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan secara komprehensif, secara total dan keseluruhan, bukan sepotong seperti yang disampaikan 1998. Itu saja,” kata Djoko, seperti dikutip banyak media. [zul]


Baca juga:
Konvensi Capres, Rakyat Dihormati dan Partai Diuntungkan
Sutiyoso: Kalau Nggak Bisa Nyapres, Ya Sudah
Gerindra: Kita Ikuti Saja Apa Maunya Pemerintah Lewat Pembentukan Pengadilan HAM
Konvensi Capres Belum Dilirik Karena Partai Dikuasai Kelompok Tua
Politisi Korupsi, Jangan Salahkan Parpol


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Michaela Haladova, Jagokan The Doctor

Model cantik asal Republik Ceko ini mengaku sangat mengidolakan pebalap ti ...

 

Risty Tagor & Stuart Collin, Sudah Pisah Rumah?

Tak ada angin tak ada hujan. Badai gosip perceraian menghantam rumahtang ...

 

Meninggal, Bobbi Ikuti Jejak Whitney Houston

Bobbi Kristina Brown (22) akhirnya meninggal dunia, pada Minggu (26/7). Di ...

 

Deddy & Chika Kok Bisa Mesra

Sebelumnya tidak pernah dekat dan beda karakter. Kemesraan diduga untuk me ...

 

Dicabuli Bill Cosby, 35 Korban Mejeng di Sampul Majalah

Pelawak dan aktor legendaris Bill Cosby hingga kini masih bungkam terkai ...


Berita Populer

Ketum Projo: Jeffrey Winters Rendahkan Martabat Rakyat Indonesia
Gaya Polisi Tetapkan Tersangka Mirip Militer Orba
Menteri Marwan: Bangun Desa Perlu Kerjasama Tim yang Kuat