Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
Ramadhan

Kekuatan Buzzer Politik

Lentera Politik  SABTU, 20 JUNI 2015 , 11:42:00 WIB | OLEH: M.A. HAILUKI

<i>Kekuatan Buzzer Politik</i>
PADA 2006 jagat dunia maya Indonesia dihebohkan oleh munculnya sebuah akun mengatasnamakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di wahana situs jejaring media sosial (medsos) Friendster. Pada masa itu media sosial masih dianggap sebagai barang langka yang hanya dikonsumsi oleh segelintir kelas atas, khususnya Friendster mayoritas beranggotakan para ‘anak gaul’ berlatar mahasiswa dan sebagian eksekutif muda.
Saat itu, berdasarkan hasil penelusuran, ternyata cukup banyak pengguna situs jaringan pertemanan Friendster.com yang menggunakan identitas SBY. Tercatat ada 35 account yang mengaku sebagai orang nomor satu di Indonesia ini.

Akun SBY palsu tersebut kebanyakan menggunakan identitas 'SBY' atau variannya, seperti 'SBY I FULL', 'Presiden SBY RI', maupun 'Susilo Bambang Yudhoyono'. Selain itu, ada juga yang memakai nama 'Presiden RI' dan 'Presiden Indonesia. Foto yang digunakan untuk identitas para SBY palsu itu pun beragam. Mulai dari foto resmi seperti yang biasa dipajang di ruang kelas sekolah-sekolah, foto berpakaian militer lengkap, hingga foto SBY bersama keluarganya. Ada juga yang menampilkan foto Agus Harimurti, anak sulung SBY, bersama istri sebagai identitas. Kebanyakan account tersebut memiliki cukup banyak 'penggemar'.

Ada beberapa 'SBY' yang memiliki lebih dari 400 teman. Jumlah testimoninya pun cukup banyak, antara 30-50 testimoni lebih. Pesan yang disampaikan kepada para 'SBY' umumnya senada, mulai dari dukungan, keluhan, saran, hingga kritikan.
Begitu tingginya popularitas SBY sebagai presiden Indonesia pertama yang dipilih secara langsung membuat jejaring sosial Friendster menjadi mendadak tenar.

Rasa penasaran terhadap ‘mainan’ baru menyelimuti masyarakat melek teknologi informasi khususnya kaum urban yang saat itu masih berkutat dengan mail list dan forum-forum khusus dunia maya. Kehebohan yang ada pada akhirnya membuat Istana Negara bersuara, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng menyatakan bahwa semua akun Friendster yang mengatasnamakan Presiden SBY adalah palsu. Karena menurutnya, Presiden SBY tidak punya keminatan bermain jejaring sosial sebagaimana yang dilakukan para anak gaul pada masa itu. Bahkan pemerintah membentuk tim khusus untuk memburu pelaku pembuat akun tersebut dan memerintahkannya untuk menutup paksa.

Setelah bantahan itu, kehebohan demam Friendster pun berangsur menghilang, tak satupun pakar komunikasi politik  yang menganggapnya sebagai sebuah fenomena politik strategis. Seiring berjalannya waktu, perkembangan media sosial semakin maju dan seolah tak bisa dibendung, tujuh tahun kemudian, Presiden SBY akhirnya baru menyadari nilai strategis situs jejaring sosial (media sosial) dalam komunikasi politik. Akhirnya pada 2013, SBY memutuskan untuk membuat sebuah sarana komunikas politik langsung dengan publik melalui penggunakan media sosial Facebook dan Twitter.

SBY meluncurkan Fanpage Facebook dengan nama Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor pada 5 Juli 2013. Sementara akun Twitter SBY dengan nama @SBYudhoyono. Telah lebih dulu diluncurkan sejak 13 April 2013. Akun resmi kepala negara ini dikelola oleh Staf Khusus Presiden RI, sedangkan untuk tweet langsung dari presiden ditandai kode *SBY*. Keputusan SBY menggunakan medsos mendapat sambutan positif publik, bahkan memancing semakin meningkatnya partisipasi politik konvensional publik. Tercatat follower twitter SBY menumbus satu juta akun, sedangkan Fanpage Facebook SBY mendapat respon sebanyak 4,6 juta Like.
 
Buzzer
Politik          
DKI Jakarta tercatat sebagai kota yang paling ‘berkicau’ di dunia, menurut lembaga pemantau media sosial Semiocast di Paris, Jakarta adalah kota yang paling aktif dalam interaksi di Twitter. Sementara, Bandung menempati urutan keenam di dunia, setelah Tokyo, London, Sao Paulo, dan New York. Menurut CEO Twitter Dick Costolo, jumlah pengguna Twitter di Indonesia pada 2014 telah genap sebanyak 50 juta anggota. Adapun Facebook, pada tahun 2014, penggunanya di Indonesia tercatat hampir mencatai 70 juta pengguna. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga akhir 2014 pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta jiwa, dimana 85 persen diantara mengakses menggunakan perangkat mobile.
 
Maka tidaklah heran apabila media sosial menjadi wahana bagi para pemilik di Indonesia untuk menyalurkan partisipasi politiknya, bahkan sebagai seorang netizen, masyarakat melakukan partisipasi politik tersebut secara otonomi dan aktif, mereka yang dalam kehidupan kesehariannya tidak menunjukkan keminatan dalam dunia politik, namun dalam wahana medsos bisa menjadi sosok penggerak. Mereka yang mampu menggerakkan orang lain, melakukan penggalangan mobilisasi terhadap netizen lainnya merupakan netizen yang berperan sebagai buzzer. Dalam terminologi medsos, buzzer merupakan netizen yang mengampanyekan sesuatu, tidak mesti politik melulu. Akun buzzer tersebut ada yang merupakan akun riil seperti @Sherina, @DanielMananta ada pula yang berbentuk akun anonim populer, semisal @TrioMacan2000, @Kurawa dan sebagainya.

Peran para buzzer politik dapat dilihat dalam beragai kasus, namun yang paling monumental pada saat kontestasi pilkada DKI 2013 dan Pilpres 2014. Perebutan kekuasaan yang pertama kali menjadi arena perang netizen dimulai dalam ajang Pilkada Gubernur DKI Jakarta pada 2012 yang berlangsung sebanyak dua putaran. Pada putaran kedua dimana mempertmukan pasangan Jokowi-Ahok head to head melawan pasangan Fauzi Bowo (Foke)- Nahrawi Ramli (Nara) tampak besar sekali pengaruh buzzer medsos dalam menentukan percaturan politik netizen di DKI. Akun @TrioMacan2000 meluncurkan sebuah kuliah twitter (kultwit) yang men-down grade pasangan Foke-Nara.

Kultwit berseri itu berjudul "ALASAN WARGA DKI HARUS MEMILIH JOKOWI DALAM PILKADA DKI 2012 PUTARAN 2"  Sebelumnya, @TrioMacan2000 telah meluncurkan tiga seri kultwit menyerang Foke dengan judul "OMONG KOSONG & BUALANNYA BANG KUMIS FOKE", "PARANOID BANG 'KUMIS' FOKE TERHADAP LAWAN CAGUB", dan "KEJAHATAN BANG 'KUMIS' FOKE”. Di sini tampak sekali peranan buzzer sebagai kekuatan politik, dimana akhirnya, pasangan Jokowi-Ahok menjadi pemenang Pilkada DKI meraih 2.472.130 (53,82 persen) suara, sedang Foke-Nara mendapatkan 2.120.815 (46,18 persen) suara.

Kemenangan itu menurut lembaga independen PoliticaWave tak lepas dari peran para netizen. Ini dapat dilihat dari hasil analisa PoliticaWave dalam percakapan para pendukung di sosial media. Analisa tersebut berdasarkan pemantauan sampai dengan tanggal 12 September 2012. PoliticaWave menganalisis lebih dari 2 juta percakapan di Twitter, Facebook, Kaskus, blog, forum, dan berbagai situs berita online, dengan total hampir 900 ribu akun yang berbeda.  Hasilnya, disimpulkan pasangan Jokowi-Ahok (54,9 persen) akan menang tipis dari Foke-Nara (45,1 persen) di Pilgub DKI putaran kedua nanti. Pilgub DKI menjadi fenomena baru dalam perpolitikan di Indonesia, karena medsos ikut berperan dalam pembentukan opini dan kampanye kedua kandidat.

Terdapat perbedaan pola komunikasi yang cukup signifikan antara pendukung Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Dimana pendukung Jokowi-Ahok terlihat lebih organik sedangkan Foke-Nara tersentralisasi.  Melalui Share of Exposure dapat dilihat hingga 12 September 2012, pasangan Jokowi-Ahok berhasil meraih 54,9 persen buzz dari netizen, mengungguli pasangan Foke-Nara yang meraih 45,1 persen. Reputasi Jokowi-Ahok didunia maya juga memiliki sentimen positif dengan indeks 18,51 sedangkan Foke-Nara justru sebaliknya yakni -11,38. Pasangan Jokowi-Ahok mendapatkan total buzz sebesar 1.365.234, dengan total 562.598 unique user. Pasangan Foke-Nara mendapatkan total buzz sebesar 813.742, dengan total 309.679 unique user.

Kemenangan Jokowi-Ahok atas peran netizen ini kemudian mendorong para netizen semakin aktif dalam kontestasi pilkada di wilayah lainnya, terutama di wilayah perkotaan seperti Pilkada Walikota Bandung yang memenangkan Ridwan Kamil dan Pilkada Walikota Bogor dimana Bima Arya berhasil menjadi pemenang.

Colossal Cyber War

Setelah sukes terlibat dalam perebutan kekuasaan di berbagai ajang pilkada, kemudian peran netizen mencapai puncaknya pada peperangan kekuasaan politik tertinggi di Indonesia yaitu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang mempertemukan Joko Widodo melawan Prabowo Subianto. Dikarenakan hanya ada dua kontestan, maka dengan kalimat yang agak hiperbolis, bisa dikatakan bahwa Pilpres 2014 merupakan ‘perang kolosal’ kelas menangah yang berwujud dalam netizen di wahana jejaring media sosial. Perang kolosal kelas akbar menengah pendukung Jokowi dan Prabowo berlangsung sangat keras. Mereka bertempur di semua lini, namun lini yang paling mempengaruhi kelas menengah adalah dunia maya, karena mereka adalah kelompok utama pengakses internet di Indonesia.
 
Jadi, arena perang yang benturannya sangat terasa adalah perang di dunia maya (cyber war). Para pasukan tempur 'cyber troops, sejatinya adalah kelas menengah, mereka mengakses semua jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instragram, Youtube, Blog dan berbagai forum citizen jurnalism. Pilpres 2014 telah memecah kekuatan kelas menengah secara tegas. Jika pada Pilpres 2004 dan 2009 perang persepsi ditentukan oleh penetrasi media massa, maka Pada Pilpres 2014 terjadi pergeseran besar, perang persepsi akan ditentukan oleh penetrasi media sosial. 

Yang memenangkan pertarungan di media sosial pada akhirnya memenangkan kelas menengah, dan siapa yang memenangkan kelas menengah maka akan memenangkan pilpres. Perang kata-kata di antara para netizen, berlangsung sangat brutal. Caci-maki, fitnah, dan kata-kata yang di luar kepatutan dan kesantunan bertebaran. Para pendukung kedua kandidat yang dikenal dengan sebutan ‘pasukan nasi bungkus’ (Panasbung) menggunakan segala jenis ungkapan untuk menjelekkan kandidat yang tidak didukungnya.

Sebagaimana dikatakan Eric Schmidt dalam buku New Digital Age, bahwa dunia digerakkan oleh satu kata yaitu konektivitas, dimana keterhubungan antara perangkat-perangkat komunikasi berbasis internet menjadi instrumen utama terjadinya perubahan sosial politik di sebuah negara. Bagaimana tidak, hanya dengan menggunakan perangkat digital paling murah semisal smartphone buatan China, setiap orang bisa menikmati melimpah ruahnya informasi di dunia, ini yang oleh Schmidt disebut dengan Revolusi Data, dimana ketersediaan informasi tidak lagi terbatas, melainkan semua tersedia mulai dari diklasifikasikan sebagai ‘sampah’ sampai kepada informasi ‘emas’ yang super rahasia.
 
Dikarenakan konektivitas dan melimpahnya data itulah, para netizen terlihat lebih emosional dalam melakukan partisipasi politiknya, terlebih para buzzer mensuplai data dan informasi tanpa batas. Sehingga terjadi serangan membabi-buta di antara masing-masing pendukung satu sama lain. Bahkan, para pemilih kelas bawah yang semula tidak ingin berpartisipasi aktif dalam Pilpres, terkena efek komunikasi internet untuk kemudian memilih terlibat dalam pergulatan yang berakibat kepada makin tajamnya gesekan di dunia maya. Jelang pemungutan suara 9 Juli 2014, akun @TrioMacan2000 kembali beraksi menyerang kedua kandidat baik Prabowo maupun Jokowi.  Terhadap Prabowo, akun @TrioMacan2000 meluncurkan serial kultwit tentang kejahatan HAM di masa lalu, sedangkan terhadap Jokowi diangkat tentang kekuatan asing yang mengendalikannya. Beruntung Jokowi punya seorang buzzer yang mampu mendorong rebound persepsinya, akun buzzer itu adalah @Sherina yang membuat hastag atau tanda pagar #AKHIRNYAPILIHJOKOWI yang berhasil menjadi trending topic dunia.
 
Pantauan terhadap beberapa media sosial dengan pengguna terbanyak di Indonesia yaitu Twitter, Facebook, Blog, Forum, Online News dan Youtube pada periode 6 Juni hingga 7 Juli 2014, PoliticaWave mencatat 5.977.879 percakapan dan 1.592.323 netizen yang melakukan percakapan terkait kedua pasangan Capres dan Cawapres. Share of Awareness (perbandingan jumlah percakapan) pada periode ini menunjukkan keunggulan pasangan Jokowi-JK sebesar 60,5 persen dibandingkan pasangan Prabowo-Hatta sebesar 39,5 persen. PoliticaWave juga memetakan sentimen netizen terhadap kedua pasangan. Setiap percakapan diberi makna sentimen positif, negatif atau netral. Berdasarkan margin antara sentimen positif dan negatif, Jokowi-JK mengungguli pasangan Prabowo-Hatta dengan net sentimen 3,5 kali lebih positif. PoliticaWave menyimpulkan pasangan Jokowi-JK akan berhasil memenangkan Pemilu Presiden 2014 dengan elektabilitas sebesar 53,8 persen dan Prabowo-Hatta mendapat elektabilitas sebesar 46,2 persen. Ternyata hasil analisa media sosial tercerminkan dalam hasil rekapitulasi KPU yang menyatakan bahwa Jokowi memperoleh 53,15 persen suara (mewakili 70,99 juta pemilih) dan Prabowo memperoleh 46,85 persen suara (62,57) juta pemilih.
 
Dari uraian di atas, maka sudah sepatutnya kita memberikan apresiasi terhadap para netizen dan buzzer politik yang mendorong partisipasi politik aktif dan otonom. Hal itu merupakan cerminan dari supremasi masyakat sipil dalam kehidupan demokrasi sebuah negara, khususnya di Indonesia. Dalam tahun-tahun ke depan, pergerakan partisipasi politik di medsos akan semakin determinan, masyarakat memindahkan arena pertempuran mereka dari semula di jalanan beralih ke berbagai wahana media sosial. Sudah barang tentu hal itu akan membawa konsekuensi logis semakin gaduhnya dunia maya oleh berbagai tema perincangan politik, hukum, sosial dan ekonomi.

Pemerintah akan semakin sulit bermanuver, karena telah hadirnya masyarakat sipil aktif yang tekun memeriksa fakta dan menyelidiki kinerja pemerintah. Dalam kacamata demokrasi dimana hakikat demokrasi adalah pelibatan masyarakat sebagai pemilik kedaulatan, maka pelibatan netizen itu merupakan bentuk pengawasan masyarakat atas kinerja pemerintahan. Meski hingar-bingar, namun demokrasi adalah pilihan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada.***


*Penulis merupakan mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta dan juga pengurus Ikatan Alumi Ilmu Politik IISIP Jakarta
 

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
<i>Penaikan Harga dan Ancaman Predatory State</i>
<i>Perang Asimetris Pilkada DKI</i>

Perang Asimetris Pilkada DKI

SABTU, 29 OKTOBER 2016

<i>Benang Kuning Jokowi-Ahok</i>

Benang Kuning Jokowi-Ahok

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016

<i>Papua Kita</i>

Papua Kita

JUM'AT, 22 JULI 2016

<i>Perangkap Saudagarisme Partai Golkar</i>
<i>Cagub Independen Vs Parpol</i>

Cagub Independen Vs Parpol

RABU, 09 MARET 2016

Doktrin Takfiri Polisi Dianggap Kafir
Tak Ada Riba Di BPJS Kesehatan

Tak Ada Riba Di BPJS Kesehatan

, 27 MEI 2017 , 10:00:00

Pawai Obor Sambut Ramadhan

Pawai Obor Sambut Ramadhan

, 26 MEI 2017 , 03:45:00

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

, 27 MEI 2017 , 00:42:00

Target Renovasi GBK

Target Renovasi GBK

, 26 MEI 2017 , 03:24:00