Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
Ramadhan

Revitalisasi Kantor Staf Presiden

Sudut pandang  RABU, 26 AGUSTUS 2015 , 13:39:00 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

Revitalisasi Kantor Staf Presiden
NAWA Cita atau sembilan agenda, telah dipakai sebagai visi-misi pasangan Joko Widodo/Jusuf Kalla (Jokowi/JK) saat berkampanye dulu. Setelah terpilih Jokowi/JK segera membentuk "Tim Transisi" dengan tujuan mempercepat implementasi program Nawa Cita tersebut.  
Setelah dilantik Jokowi/JK melakukan perubahan nomenklatur kabinetnya antara lain membentuk Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, dipisahkan dari Bidang Pendidikan dan  Kementerian Pariwisata dipisahkan dari bidang ekonomi kreatif.

Adapun 9 Program Nawa Cita itu sendiri adalah: 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. 2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan demokratis. 3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. 4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya. 5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar, Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera. 6. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. 7. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. 8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. 9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan.

Berkaitan dengan perubahan struktur kabinet, yang menjadi perhatian besar di publik, DPR, partai politik pendukung, bahkan Wakil Presiden JK adalah keputusan Presiden Jokowi untuk membentuk Kantor Staf Presiden RI. Apalagi lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 26 tahun 2015 dipimpin oleh Luhut B. Panjaitan, yang sebenarnya berasal dari Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie. Di era SBY nama lembaga ini adalah Unit Staf Kepresidenan. Tetapi karena fungsi yang diperluas oleh Presiden Jokowi sehingga dinamakan Kantor Staf Presiden.

Perluasan tugas dari Kantor Staf Presiden mencakup: pengendalian dalam rangka memastikan program-program prioritas nasional dilaksanakan sesuai visi dan misi presiden; penyelesaian masalah secara komprehensif terhadap program-program prioritas nasional yang dalam pelaksanaannya mengalami hambatan; percepatan pelaksanaan program-program prioritas nasional; pemantauan kemajuan terhadap pelaksanaan program-program prioritas nasional; pengelolaan isu-isu strategis; pengelolaan strategi komunikasi politik dan diseminasi informasi; penyampaian analisis data dan informasi strategis dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan; pelaksanaan administrasi Kantor Staf Presiden; dan pelaksanaan fungsi lain yang ditugaskan Presiden.

Salah satu hal yang paling menarik dari pencapaian Kantor Staf Kepresidenan adalah dalam waktu singkat Luhut B. Panjaitan berhasil memimpin persiapan peringatan 60 tahun KAA di Bandung. Di samping itu baru baru ini telah diluncurkan situs ksp.go.id yang memberikan informasi terukur tentang 100 Kegiatan Prioritas Pantauan KSP tahun 2015. Semestinya informasi ini secara masif dipublikasikan agar bisa digunakan sebagai tolak ukur oleh masyarakat untuk menilai pencapaian pemerintah.  Pertanyaannya adalah apakah prioritas program ini merupakan perwujudan implementasi dari Program Nawa Cita?

Sebuah laporan survei yang dilakukan di antara mahasiswa BEM KM UGM pada bulan Juli 2015, ternyata sebagian besar mahasiswa belum mengetahui mengenai program Nawa Cita termasuk juga isinya.  Meskipun ada sebagian yang telah mengenal, akan tetapi mereka hanya mengenal namanya saja, sementara sebagian besar dari mereka belum mengetahui isinya. Sebelumnya pada survei Indo Barometer didaptakan data hanya 11,7 persen yang pernah dengar Nawa Cita.


Adapun presentase implementasi Nawa Cita yang diketahui 303 mahasiswa UGM yang disurvei antara lain: 1. Pembuatan Kartu seperti Kartu Sehat, Kartu Pintar dan sebagainya (26,087 persen). 2. Kelautan / Kemaritiman (8,696 persen). 3. Revolusi Mental (8,696 persen). 4. Infrastruktur (8,696 persen). 5. Swasembada (4,348 persen). 6. Pemberantasan legal secara fisik dengan PKP (4,348 persen). 7. Mahasiswa yang tidak mengetahui (39,13 persen).

Seorang peneliti Siti Zubaidah mencoba melakukan analisis kelayakan Program Nawa Cita di Aceh. Pertanyaanya afalah sampai sejauh manakah kebijakan Nawa Cita No 6 Jokowi-JK memberikan manfaat bagi pengembangan perekonomian masyarakat khususnya di bidang agro industri peternakan berkelanjutan berbasis sapi lokal. Adapun program Nawa Cita No 6 adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Sementara itu langkah yang akan dilakukan pemerintah antara tahun 2014-2019 pada Nawa Cita No 6 adalah: membangun infrastruktur jalan baru sepanjang 2000 Km, membangun 10 pelabuhan baru dan merenovasi yang lama, membangun 10 bandara baru dan merenovasi yang lama, membangun 10 kawasan industri, membangun 5000 pasar tradisional yang sudah ada, menciptakan layanan investasi satu atap, dan membangun science dan techno park.  

Menurut Siti Zubaidah meskipun perkembangan agro industri peternakan akan memberikan peluang kerja bagi masyarakat Aceh, namun hasil penelitiannya menganggap belum tepat karena lemahnya sektor peternakan di Aceh.  Bahkan program Nawa Cita no 6 tersebut malah akan memperburuk kesenjangan antara kawasan perkotaan dan pedesaan di Aceh dan membuat urbanisasi besar-besaran di Propinsi Aceh.

Berangkat dari kenyataan di atas sudah saatnya untuk melakukan revitalisasi Kantor Staf Presiden dengan memberikan penekanan menyangkut 100 kegiatan prioritas dan kaitannya dengan implementasi program Nawa Cita serta manfaatnya bagi kebutuhan masyarakat di Indonesia. Untuk itu diharapkan Kantor Staf Presiden bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan LSM setempat untuk melakukan analisis tepat guna program implementasi Nawa Cita.

Meskipun 100 kegiatan prioritas tersebut sudah terukur, namun kita belum mendapat informasi jelas mengenai lokasi 33 bendungan baru, 1000 lokasi desa mandiri benih atau 1 juta HA sawah baru.  Artinya masyarakat penerima manfaat pada 100 program prioritas tersebut belum secara terbuka diumumkan ke masyarakat.  Apalagi kalau kita ingin mengetahui perubahan yang terjadi di masyarakat dari pelaksanaan program tersebut nantinya.

Bandingkan misalnya dengan situs Government Transformation Programme (Pemandu) Malaysia yang dibentuk PM Malaysia Najib Razak (www.pemandu.gov.my).  Telah dirumuskan 7 bidang keberhasilan utama negara dan kementerian (National Key Results Area) Malaysia. Antara lain: penurunan tingkat kejahatan, pemberantasan korupsi, memastikan pendidikan berkualitas, meningkatkan taraf hidup masyarakat berkehidupan rendah, meningkatkan pembangunan desa, meningkatkan transportasi publik perkotaan, dan menjaga biaya hidup yang terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Malaysia.  Secara rutin kantor Pemandu yang langsung di bawah tanggung jawab PM Najib Razak melaporkan pencapaian yang telah diperoleh.
 
Secara internasional Nawa Cita mestinya dijadikan "branding nation" pemerintahan Jokowi-JK untuk periode tahun 2014-2019.  Karena setelah Nawa Cita berhasil memoles persepsi Jokowi-JK di masyarakat pemilih, saatnyalah Jokowi-JK menjadikan Nawa Cita sebagai "nation branding" bangsa Indonesia yaitu "Nawa Cita: Indonesia WOW" atau merubah persepsi dunia mengenai Indonesia.

Sebelum dilantik menjadi Presiden RI, pada tanggal 8 September 2014 bertempat di Ruang Auditorium RRI Jakarta telah diluncurkan istilah Indonesia WOW sekaligus dengan lagunya yang diciptakan Slank. Pada saat itu Jokowi juga menegaskan bahwa para menteri harus memiliki kemampuan pemasaran agar terwujud Indonesia WOW.  Menurut pakar pemasaran Hermawan Kartajaya apabila pelanggan mengucapkan WOW, berarti Indonesia benar-benar hebat dan dahsyat.  Untuk itu harus ada tiga unsur yang dimiliki program Nawa Cita,  yaitu enjoyment, experience dan engagement.

Jokowi-JK dan seluruh jajaran pemerintahan di republik ini saatnya kembali yakin bahwa Nawa Cita merupakan jalan menuju Indonesia WOW.  Dengan revitalisasi Kantor Staf Presiden yang akan lebih fokus pada pencapaian Program Nawa Cita dan manfaatnya bagi masyarakat, seluruh anggota kabinet harus lebih fokus untuk menjadikan Indonesia WOW.

Dalam kaitan ini hendaknya yang menjadi nakhoda Kantor Staf Kepresidenan adalah memang orang yang cakap dan berpengalaman dalam koordinasi manajemen politik dan sumber daya manusia, pengalaman dalam manajemen indikator keberhasilan, berwibawa dan memiliki karakter kepemimpinan yang kuat selain loyal terhadap Jokowi-JK.  Pilihan orangnya tentu saja kita berikan kepada Jokowi-JK.


*Penulis adalah Sosiolog, anggota Senat Indonesia Marketing Association dan tinggal di Jakarta

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Tercabiknya Kebhinnekaan

Tercabiknya Kebhinnekaan

RABU, 24 MEI 2017

<i>Jakarta Jendela Kebhinekaan Dunia</i>

Jakarta Jendela Kebhinekaan Dunia

RABU, 01 MARET 2017

Pemimpin Teruji Dan Penuh Waktu Di PSSI
Blunder Reshuffle

Blunder Reshuffle

JUM'AT, 12 AGUSTUS 2016

Tiga Emas Indonesia Di Olimpiade Rio 2016
Pemerintahan: Untuk Rakyat atau Partai?
100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

, 29 MEI 2017 , 19:00:00

BPK Melawan Balik KPK

BPK Melawan Balik KPK

, 29 MEI 2017 , 17:00:00

Kecam Gugatan JICT

Kecam Gugatan JICT

, 28 MEI 2017 , 19:40:00

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

, 27 MEI 2017 , 00:42:00

Jenguk Korban Bom

Jenguk Korban Bom

, 27 MEI 2017 , 03:11:00