Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
verified RMOL Dewan Pers

Bela Jokowi, Sri Mulyani Mulai Sodok SBY

Catatan Tengah  SELASA, 30 AGUSTUS 2016 , 08:30:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

Bela Jokowi, Sri Mulyani Mulai Sodok SBY

Derek Manangka/Net

SUSILO Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia, tergolong pemimpin nasional  yang sangat peduli tentang nasib Indonesia dan rakyatnya.
Ini dibuktikan dengan pernyataan-pernyataannya baik melalui forum yang ada massanya ataupun melalui twitter, YouTube, dan media sosial lainya yang massanya tak terdeteksi.

Walaupun tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI sejak Oktober 2014 lalu, tetapi kepedulian SBY tentang Indonesia, tak berkurang sama sekali.

Hanya saja yang cukup mengejutkan, kepedulian SBY seperti itu  tidak sepenuhnya direspons positif oleh publik. Terutama ketika kepedulian itu dia tujukan dengan mengeritik kinerja Presiden Jokowi. Bekas Presiden RI ini justru menuai serangan balik.

Ada tanggapan yang bernada marah, kecewa dan sarkartis, yang dikeluarkan oleh sejumlah netizen sewaktu SBY menyebut visi maritim Presiden Jokowi hanya sekedar retorika.

"Banyak orang terlalu pintar menilai orang lain tapi sayang terlalu bodoh menilai dirinya sendiri", tulis Tri Handoko.

"SBY dari Angkatan Darat, mana ngerti dunia maritim", sambung Sukarno Marno.

Sementara Nelson Siahaan menulis: "Ente 10 tahun berkuasa bikin apa buat negara. Oh maaf ada. Iya. Bikin album lagu".

Ketiga postingan tersebut merupakan cuplikan dari sekian banyak tanggapan netizen terhadap SBY yang dinilai menyerang Presiden Jokowi.

SBY mengkritisi Presiden Joko Widodo melalui pidato di sebuah acara Wisuda, di Universitas Al Azhar Indonesia, Sabtu 27 Agustus lalu.

Yah, tanggapan netizen terhadap SBY ini cukup fenomenal. Sebab sejauh ini kritikan terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo, sebetulnya cukup marak.  

Tapi entah mengapa, ketika yang maju sebagai pengeritik Joko Widodo, seorang SBY, bekas Presiden, justru kemarakan itu   menghilang. Pembelaan kepada Joko Widodo mengemuka.

Joko Widodo mendapat pembelaan, sementara SBY justru memperoleh kecaman.  

Para netizen seperti tidak sudi jika SBY vokal mengeritik Jokowi. Cara SBY ini mungkin dilihat sebagai kurang patut.

Soalnya, cara SBY mengeritik, tidak pernah dilakukan oleh para presiden terdahulu. Budaya mantan Presiden mengeritik seorang existing President, tidak ada dalam konsep berpolitik di Indonesia.

Tradisi bekas Presiden mengeritik Presiden yang baru menggantikannya, tidak menjadi budaya para pemimpin bangsa Indonesia.

Yah memang baru SBY lah yang melakukan kritikan kepada seorang yang belum lama menjadi presiden.

Semua mantan Presiden mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sampai dengan Megawati Soekarnoputri, tak satupun di antara mereka yang pernah terlibat dalam perang kritik lingkar presiden.

Begitu mereka berada di luar kekuasaan, praktis tidak ada pernyataan kritis ataupun sorotan tajam terhadap situasi Indonesia saat dipimpin presiden baru. Mungkin ada kesungkanan ataupun menjaga tenggang rasa.

Soekarno misalnya, mendapat perlakuan menyakitkan dari Soeharto-penggantinya. Soeharto melakukan de-spekarnoisasi yang berakibat bukan hanya nama Soekarno tenggelam tetapi para pengikutnya pun sulit mengembangkan ajaran Soekarno.

Sebuah perlakuan yang cukup menyakitkan dari seorang Presiden kepada mantan Presiden.

Namun hingga Soekarno wafat, tidak pernah terdengar adanya perang kritik antara Soekarno-Soeharto.

Padahal kebijakan yang dilakukan Soeharto berupa-desoekarnoisasi, penghancuran semua paham Bung Karno, merupakan tindakan yang sangat menyakitkan bagi Soekarno.

Demikian halnya dengan Soeharto. Setelah digantikan oleh BJ Habibie, "the smiling general" itu tetap membisu hingga akhir hayatnya.   Padahal santer beredar kabar, Pak Harto sangat kecewa terhadap Pak Habibie.

Ceritera itu sendiri bukan keluar langsung dari mulut Pak Harto tapi hanya dari pihak ketiga atau "katanya".

Bahkan ketika Timor Timur lepas dari NKRI saat Indonesia dipimpim Presiden Habibie, tidak terdengar sama sekali sindiran atau kritik dari Pak Harto terhadap ahli pesawat terbang tersebut.

Padahal lepasnya Timor Timur merupakan sebuah blunder besar dari seorang Presiden bernama Habibie.

Dari perspektif pribadi maupun kepemimpinan, Timor Timur merupakan pertaruhan dan pertarungan politik internasional terbesar yang dilakukan Soeharto. Di kasus Timor Timur itu, martabat Indonesia dipertaruhkan Soeharto. Tokh dari mulut Pak Harto tidak muncul sinyal kritikan. Misalnya dengan menyebut "Anda tidak becus menjaga martabat bangsa Indonesia".

Demikian seterusnya Gus Dur atau Abdurarahman Wahid, dan Megawati. Satu sama lain menjaga harkat dan martabat sebagai sesama bekas Preisden RI.

Bahkan yang cukup menarik, sikap Megawati Soekarnoputri. Dia dikenal sebagai pemimpin oposisi  terkuat yang berseberangan dengan SBY.

Namun Megawati tak pernah mengeritik SBY-dalam arti sengaja diniati, disampaikan pada satu forum terbuka.

Mega mampu diam selama 10 tahun, sepanjang SBY berkuasa.

Oleh sebab itu muncul berbagai pertanyaan, mengapa hanya SBY yang paling kerap mengeritik Presiden Jokowi? Apakah itu sindrom 'anak tunggal' yang cenderung merasa sebagai satu-satunya yang benar di dalam rumah tangga? Ataukah ada alasan lain. Misalnya SBY sedang melakukan pemanasan diri, menyongsong Pilpres 2019 atau dikarenakan oleh faktor 'power syndrome'?

Maksudnya mungkin di Pilpres 2019, SBY berencana maju kembali sebagai kandidat Presiden. Atau SBY mungkin sedang mempersiapkan anggota keluarganya. Sehingga kritikannya terhadap Presiden Jokowi, merupakan bagian dari strateginya mematahkan peluang Jokowi maju untuk periode kedua kalinya.

Karena yang pasti kalau Jokowi bisa lolos memerintah periode 2014-2019, sangat besar kemungkinannya bagi dia untuk bertarung lagi di Pilpres 2019.

Dan jika ini terjadi, besar kemungkinan pula Jokowi akan berhadap-hadapan dengan SBY atau kandidat yang dipercaya SBY mewakili Partai Demokrat.

Pertanyaan sekaligus analogi ini semakin sering mengemuka sebab SBY sebagai Presiden yang memerintah Indonesia selama 10 tahun  (2004 - 2014), bukanlah Presiden yang sangat berhasil.

Era SBY bahkan disebut-sebut sebagai periode menyesakkan. Sebab selain banyak politisi dari partai penguasa terlibat korupsi, di era itu pula terjadi Mega Skandal Bank Century. Skandal yang menghilangkan uang sebanyak Rp. 6,7,- triliun.

Sebetulnya, kritikan SBY untuk Jokowi sah-sah saja. Kritikan itu menimbulkan masalah, menuai ketidak sukaan dari sejumlah netizen, sebab dianggap kurang patut, tendensius dan berlebihan.

Bagaimana mungkin menagih prestasi dari seorang Presiden yang belum dua tahun memerintah?

Kritikan SBY menjadi seperti minuman segar yang kepahitannya berlebihan. Selain itu campurannya melebihi takaran. Penyajiannya juga tidak cocok dengan waktu.

Di pihak lain ada yang menduga, SBY sengaja melakukan 'serangan' secara sistemik terhadap Jokowi, sebab cara seperti itu merupakan sistem yang biasa digunakan oleh mereka yang memiliki kelemahan dan kekurangan.

Kalau kita sadar bahwa posisi kita lemah, maka kita yang justru melakukan inisiatif serangan. Sebab serangan merupakan pertahanan terbaik.

Dan SBY saat ini harus melakukan serangan. Terutama setelah Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang pernah dia pecat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2010, kini sudah memperkuat tim ekonomi Jokowi.

Posisi SBY saat ini diumpamakan dengan penjudi yang bermain poker. Semua kartu SBY tak bisa digunakan melawan Jokowi, sebab kartu Jokowi punya kartu joker yang bergambar SMI.

Semenjak SMI diangkat sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden Jokowi, secara pelan tetapi pasti, semua kebobrokan dalam pengelolaan keuangan negara, di era SBY, mulai dia ungkit. SMI mulai menyodok SBY.

Menurut SMI krisis keuangan yang dihadapi Indonesia saat ini, sudah dimulai tahun 2012, dua tahun sebelum Jokowi menjadi Presiden.

Krisis saat ini merupakan "carry over" dari zaman SBY. Apa yang diklaim SBY sebagai keberhasilan, mulai diurai oleh Menteri SMI.

Kalau demikian keadaan sebenarnya, tidak mudah bagi SBY untuk terus melakukan manuver - mengklaim diri sebagai Presiden RI yang terbaik dan tanpa cela. [***]


Penulis adalah jurnalis senior

Komentar Pembaca
Legislator PKB Ditahan KPK

Legislator PKB Ditahan KPK

, 24 FEBRUARI 2017 , 00:42:00

Dahlan Bersama Hamdan Zoelva

Dahlan Bersama Hamdan Zoelva

, 24 FEBRUARI 2017 , 14:12:00

Terima Penghargaan Bintang Jasa Jepang

Terima Penghargaan Bintang Jasa Jepang

, 24 FEBRUARI 2017 , 01:47:00