Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience

There Is No Winner In Aleppo

Intermestik  JUM'AT, 06 JANUARI 2017 , 18:45:00 WIB | OLEH: MUHAMMAD TAKDIR

There Is No Winner In Aleppo

Allepo/net

ADA yang terlewat ketika kita tak hentinya menyaksikan kepahitan perang sipil di Suriah, khususnya Aleppo.
Dunia dan media belakangan saling mempertikaikan pihak yang salah dan benar. Informasi dan berita yang keluar dari Aleppo menjadi sulit dikonfirmasi kebenarannya, terutama terkait skala dan tingkat destruktifnya. Para jurnalis sendiri bahkan saling memperdebatkan kesahihan sumber pemberitaannya.

Saya tidak ingin larut dalam kekisruhan pemberitaan Aleppo yang kini memang masuk pada level controlling the truth. Di antara banyak puzzle konflik di Aleppo, kesaksian koresponden senior internasional CNN, Clarissa Ward, yang sangat powerful tentang Suriah di hadapan DK-PBB, Agustus 2016 lalu, patut dicatat.

Kesaksian yang hingga kini masih terngiang di telinga saya, "there is no winners in Aleppo!". Tidak ada pemenang di Aleppo, ujar Ward dengan raut muka tenang, marah dan gusar.

Damaskus mungkin masih bisa berdiri mempertahankan Bashar al-Assad. Tetapi penguasaan Assad di Aleppo jauh lebih parah daripada Saigon ketika jatuh ke tangan Vietkong pada November 1955.  Kedua kota itu replika pertarungan proxy war antara dua kekuatan yang sejak 100 tahun terakhir ini menjadi semacam imperium hegemonik, Rusia dan AS.

Kita tidak pernah ingin memutar sejarah dan mempelajarinya secara lebih cermat. Selepas Perang Lebanon-Israel, kalkulasi para dark lord di Timur Tengah adalah mengubur Suriah.

Damaskus selama ini yang menjadi batu ganjalan bagi Tel Aviv dan para dark lord dalam menguasai Lebanon dan Palestina.

Ibarat Melkor di Lord of the Ring menghancurkan Almaren, tetapi tidak mampu menghentikan dark lord lainnya, Sauron.

Biasanya, perebutan sphere dan teritori hanya menyisakan puing-puing kehancuran sistemik. Aleppo adalah segelintir bukti-bukti menyedihkan dari aksi-aksi militer negara luar yang terus terjadi di Timur Tengah.

Kota itu kian kelam bukan saja karena jumlah milisi puluhan ribu berasal dari 83 negara, juga karena Rusia dan AS terlanjur tidak ingin kehilangan muka. Jika Aleppo hancur, sekalian terkubur. Clarissa Ward menulisnya, "apocalyptic wasteland". Kiamat kecil yang meluluhlantakkan Aleppo.

Kedengarannya hiperbola. Tetapi itu yang akan terjadi jika Anda tidak pandai-pandai menjaga negeri Anda dari jebakan proxy war!.

Belajarlah dari kepahitan Aleppo di Suriah.

Penulis adalah analis-kolumnis situasi internasional dan domestik. Bisa dihubungi pada akun Twitter @emteaedhir.



Komentar Pembaca
Tony B-Lier

Tony B-Lier

SELASA, 26 JULI 2016

Fallujah: Hell To Heaven

Fallujah: Hell To Heaven

KAMIS, 30 JUNI 2016

Mencari
Trump-Ormasi Idiokrasi
Diplomasi 12 Pas

Diplomasi 12 Pas

KAMIS, 26 NOVEMBER 2015

Meraba WTO Pasca Nairobi

Meraba WTO Pasca Nairobi

SABTU, 07 NOVEMBER 2015

Ahok Melantik Anies Cuma Dagelan

Ahok Melantik Anies Cuma Dagelan

, 22 APRIL 2017 , 18:00:00

Reklamasi Jakarta Menguat Dibatalkan

Reklamasi Jakarta Menguat Dibatalkan

, 22 APRIL 2017 , 16:00:00

RUPS PT Provident Agro Tbk

RUPS PT Provident Agro Tbk

, 22 APRIL 2017 , 02:52:00

RUPS Telkom

RUPS Telkom

, 21 APRIL 2017 , 20:32:00

Kartini Dan Politik

Kartini Dan Politik

, 21 APRIL 2017 , 06:36:00