Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience

Mendikbud: Toleransi dan Kerukunan Tak Terpisahkan Dari Budaya Gotong Royong

kemendikbud  SABTU, 07 JANUARI 2017 , 15:11:00 WIB | LAPORAN: SAMRUT LELLOLSIMA

Mendikbud: Toleransi dan Kerukunan Tak Terpisahkan Dari Budaya Gotong Royong

Foto: Dokumentasi Kemendikbud

RMOL. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Buya Syafii Maarif mengunjungi Yayasan Perguruan Iskandar Muda, Medan, Sabtu (7/1).
Mereka disambut langsung oleh Gubernur Sumatera Utara Teungku Erry Nuradi.

Dalam sambutannya, Erry menjelaskan, keragaman etnis masyarakat Sumatera Utara merupakan anugerah yang memperkaya mozaik Indonesia. Setiap masalah yang bersinggungan dengan isu-isu SARA selalu direspon cepat pemerintah daerah dengan dukungan pemuka agama dan tokoh masyarakat.

Dalam kesempatan ini, hadir juga Sekretaris Jenderal Kemdikbud Didik Suhardi, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad, Walikota Medan, dan sejumlah tokoh agama.

Yayasan pendidikan penerima MAARIF Award 2014 ini mempunyai ciri khas menyemaikan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap kebinekaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif. Keragaman latar belakang siswanya sangat kental, sekolah ini mencerminkan miniatur Indonesia. Pihak sekolah memfasilitasi keragaman agama siswanya, bangunan ibadah masing-masing agama dibangun berdampingan di komplek sekolah.

Menteri Muhadjir menjelaskan, toleransi dan kerukunan merupakan dua hal tak terpisahkan dari budaya gotong royong. Kepada ratusan siswa yang memenuhi halaman sekolah, Muhadjir juga menceritakan soal batu Hajar Aswad di Ka'bah.

"Ratusan tahun lulu saat batu Hajar Aswad di Ka'bah terseret hanyut oleh banjir besar, kepala suku sempat berselisih mengenai siapa yang paling berhak mengembalikan ke tempat asalnya. Akhirnya, mereka bermusyawarah dan bersepakat bahwa seorang pemuda bernama Muhammad yang akan ditunjuk. Namun Muhammad - yang kelak diangkat sebagai Nabi - meminta para perwakilan para suku untuk memegang ujung surbannya yang dipakai memindahkan Hajar Aswad tersebut. Kisah ini jelas pesannya, gotong royong tumbuh karena ada kerukunan dan toleransi," jelas Muhadjir.

"Jadi, saya mengapresiasi prakarsa Pak Softan Tan, merintis dan membesarkan lembaga pendidikan itu tidak mudah, apalagi sekolah yang dibangunnya atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan. Membangun sekolah dari dana patungan. Ini luar biasa, sangat pantas mendapat penghargaan seperti MAARIF Award," sambung mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Buya Syafii pun didaulat untuk meresmikan pura disaksikan Mendikbud Muhadjir Effendy. Pura yang baru dibuka itu diapit bangunan vihara dan mesjid yang berdampingan dengan gereja.

"Sekolah yang toleran itu tunas peradaban. Intoleransi simbol kebiadan. Toleransi inti keberadaban. Ini perlu ditegaskan disaat kita sekarang dirundung intoleransi dan kebencian, tidak hanya di Indonesia tapi juga fenomena global. Dunia pendidikan harus melek soal ancaman ini," demikian Buya Syafii. [sam]

Komentar Pembaca
Ceritakan Persetujuan Jokowi

Ceritakan Persetujuan Jokowi

JUM'AT, 20 JANUARI 2017 , 20:14:00

Habib Rizieq & Jenderal Tyasno

Habib Rizieq & Jenderal Tyasno

JUM'AT, 20 JANUARI 2017 , 22:59:00

Dikawal Petugas

Dikawal Petugas

JUM'AT, 20 JANUARI 2017 , 22:32:00