Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
Ramadhan

Mempersiapkan Khaira Ummah (57)

Indonesia Di Tengah Globalisasi Ummah

Tau-Litik  SELASA, 18 APRIL 2017 , 08:44:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Indonesia Di Tengah Globalisasi Ummah

Nasaruddin Umar/Net

ISLAM dengan konsep keu­matannya seolah tak ter­bendung. Semakin dicekal semakin berkembang. Ba­gaimana sikap protektif se­jumlah negara Eropa terh­adap perkembangan Islam tetap saja tidak efektif. Sulit menemukan sebuah dara­tan di kolong langit ini tanpa berjumpa dengan komunitas muslim. Bahkan Oliver Roy melihat ada fenomena "State without nation and brothers without state", yaitu adanya semacam Negara tanpa bangsa dan persau­daraan tanpa Negara. Mungkin juga bisa dikata­kan, adanya fenomena kebangsaan tanpa negara (nations without state), karena dalam kenyataan­nya komunitas muslim yang eksodus ke negara-negara non-muslim dengan berbagai alasan dan kepentingan, memang meniciptakan melting pot tersendiri di dalam negara tujuan.
Kosa kata Islam selama decade terakhir su­dah membumi dengan berbagai konotasi. Pop­ularitas komunitas muslin ini dipicu oleh berba­gai macam aktifitas komunitas tersebut. Mulai dari kegiatan migrasi ke berbagai Negara sam­pai pada aktifitas komunitas muslim itu di neg­eri tujuan. John L. Esposito dalam, The Future of Islam, (2010) menggambarkan kenyataan ini dengan mengatakan bahwa : "Today, Islam is among the fastest-growing religions in Afrika, Asia, and America". (Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika). Hal yang sama juga sering diungkap­kan Hillary Clinton dalam berbagai kesempatan ceramahnya di depan komunitas muslim.

Selama dua dekade terakhir migrasi dan mobilisasi komunitas muslim secara besar-be­saran ke negara-negara maju seperti di Eropa dan Amerika menurut Murad W. Hofmann, mu­kallaf mantan Direktur Informasi NATO, akan memberikan dampak hegemoni sosial-politik, mengingat Islam adalah sistem ajaran komper­hensif yang menuntut loyalitas kepada penga­nutnya. Di negara-negara barat ini lahir genera­si kedua mereka yang tetap beragama Islam. Generasi baru muslim yang lahir di negeri mi­noritas muslim, terutama di dunia Barat, tentu akan memberikan wajah baru komunitas mus­lim. Di manapun komunitas Islam berada sela­lu menciptakan lingkungan sosial unik karena mereka memiliki simbol-simbol perekat (melt­ing pot) berupa mesjid, halal food, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak mereka, dan majlis taklim untuk para orang tua.

Ciri utama komunitas muslim selalu memiliki imam. Posisi imam di negeri rantau bukan han­ya pemimpin dalam shalat jamaah, tetapi seka­ligus juga pemimpin komunitas muslim yang disegani. Terkadang perintah imam lebih dise­gani daripada pemimpin negara tempat mana mereka berada. Tidak jarang negeri setempat terpaksa harus membuat regulasi khusus untuk komunitas muslim, seperti kita saksikan di Per­ancis, negeri yang berpenduduk muslim lebih dari 5 juta jiwa, sekalipun resistensi komunitas muslim muncul di beberapa tempat di sana.

Tentu saja problem ketatanegaraan sering­kali muncul, misalnya satu sisi secara emo­sional dan spiritual warga muslim masih tetap terikat dengan negeri asal tetapi secara hukum ketatanegaraan setempat mengharuskan mer­eka untuk sepenuhnya loyal kepada negaran­ya. Kenyataan umat Islam di negera "kedua" ini membayar pajaknya kepada negara di mana mereka berdomisili, tetapi zakat harta mereka sikembalikan ke negeri asalnya, bahkan se­bagian di antara mereka masih menyerahkan binatang kurban dan kambing 'aqikah ke neger­inya. Sebagian juga masih membangun rumah di negeri asal termasuk dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke negeri asalnya. Tidak terkec­uali di sini ialah komunitas Islam Indonesia di AS, yang pajaknya di AS tetapi zakat, qurban, infaq, waqaf, dan jariyahnya di negeri Asalnya di Indonesia dan di negara-negara mayoritas muslim lainnya.

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

, 29 MEI 2017 , 19:00:00

BPK Melawan Balik KPK

BPK Melawan Balik KPK

, 29 MEI 2017 , 17:00:00

Kecam Gugatan JICT

Kecam Gugatan JICT

, 28 MEI 2017 , 19:40:00

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

, 27 MEI 2017 , 00:42:00

Jenguk Korban Bom

Jenguk Korban Bom

, 27 MEI 2017 , 03:11:00