Berita Politik

Telkom Indonesia
Ramadhan

Sri Mulyani Disentil, Tidak Inovatif

Pemerintah Utang Melulu

Bongkar  JUM'AT, 21 APRIL 2017 , 09:44:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sri Mulyani Disentil, Tidak Inovatif

Sri Mulyani/Net

RMOL. Terus meningkatnya utang negara dinilai karena pemerintah minim melakukan terobosan untuk menam­bal defisit keuangan negara. Akibatnya, pemerintah ter­us mengalami ketergantungan pada utang luar negeri.
Sekjen Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Arif Hidayatullah mengkritik pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan ketika penerimaan negara lebih kecil dari kebutuhan belanjanya atau mengalami defisit, maka pemerintah bisa menutupnya dengan utang.

"Dalam dokumen Visi dan Misi Jokowi-JK pada Pemilu 2014 disebutkan, salah satu penyebab dari lemahnya sendi-sendi perekonomian bangsa diakibatkan oleh ketergantungan atas utang luar negeri. Artinya, utang bukan solusi dalam meng­hadapi defisit anggaran," ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Kata Arif, dalam catatan LMND, keberadaan Sri Mulyani dalam pemerintahan SBYtidak dapat dilepaskan dari peningka­tan jumlah utang yang membe­bani negara. "Selama 10 tahun pemerintahan SBY, utang luar negeri meningkat dari Rp 1.299 triliun menjadi dua kali lipat," katanya.

Arif menilai wajar jika pihaknya menganggap Sri Mulyani minim inovasi dan konservatif. Hal ini tampak dari kebijakan­nya yang hanya mengandalkan hutang, memotong subsidi dan pengetatan anggaran. Apalagi, dalam penyusunan APBN 2017, pos pembayaran utang menca­pai Rp 221,2 triliun atau 15,8 persen.

"Dalam menghadapi defisit anggaran melalui penambahan utang, pengetatan anggaran dan pemotongan subsidi bukanlah solusi yang tunggal," ungkapnya.

Masih ada solusi lain seperti dengan mengoptimalkan po­tensi yang dimiliki melalui BUMN yang sejatinya adalah alat negara untuk mendapat­kan dana. Namun jika keadaan keuangan dipandang tidak sehat, negara tidak serta merta mem­berikan suntikan modal yang nantinya menjadi beban APBN. Melainkan dengan melakukan re-evaluasi aset.

Setelah reevaluasi aset dilaku­kan secara otomatis BUMN akan mendapatkan kepercayaan yang besar untuk mengembangkan usahanya sehingga menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi industri.

"Inilah sesungguhnya cara jitu untuk meningkatkan penda­patan negara dari sektor selain pajak, karena dengan ini kegiatan ekonomi yang produktif di masyarakat benar-benar bergerak secara berkualitas," tandasnya.

Sebelumnya, dalam kuliah umum bertajuk "Pengelolaan Keuangan Negara" di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN), Tangerang, Sri Mulyani mengkritik mahasiswa yang berkomentar negatif tentang peningkatan utang negara. Menurutnya, utang diperlukan karena penerimaan pajak masih minim.

Sebagai gambaran, pada 2017 ini penerimaan negara ditarget­kan sebesar Rp 1.750,3 trili­un. Sementara belanja negara mencapai Rp 2.080,5 triliun. Dengan demikian, ada defisit anggaran sebesar Rp 330,2 triliun atau 2,41 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang harus dibiayai pemerintah dengan utang.

Sri Mulyani menegaskan, meski utang meningkat, pemer­intah tetap menjaga rasio utang di level aman yakni 27-29 persen terhadap PDB. Apalagi, kenai­kan utang juga diiringi dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil atau 5,7 persen selama satu dekade. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Akhirnya Program Ini Diresmikan

Akhirnya Program Ini Diresmikan

, 22 JULI 2017 , 21:00:00

PDIP Peringatkan Gatot

PDIP Peringatkan Gatot

, 21 JULI 2017 , 19:00:00

Salaman Sebelum <i>Walk Out</i>

Salaman Sebelum Walk Out

, 21 JULI 2017 , 02:31:00

Voting RUU Pemilu

Voting RUU Pemilu

, 21 JULI 2017 , 04:09:00

Melatih Pramuka

Melatih Pramuka

, 22 JULI 2017 , 03:50:00