Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience

Mempersiapkan Khaira Ummah (60)

Lintas Aliran dan Mazhab

Tau-Litik  JUM'AT, 21 APRIL 2017 , 09:58:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Lintas Aliran dan Mazhab

Nasaruddin Umar/Net


Modernisasi pendidikan Tinggi Islam, khusus­nya dengan lahirnya UIN, IAIN dan STAIN serta Perguruan Tinggi Islam Swasta lainnya mere­bak lahir di daerah-daerah dan diperkotaan. Aliran teolologi yang dikembangkan di Indo­nesia, terutama setelah Prof Dr. Harun Na­sution, Prof. Dr. H.M. Rasyidi, dan beberapa tokoh pembaharu lainnya yang datang kemu­dian seperti Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. H.M Quraisy Syihab, Prof Dr. Mukti Ali, Prof. K.H. Ali yafi, Gusdur, dll. Mereka mengembang­kan aliran pemikiran dalam Islam yang tidak monitos tetapi betul-betul membumi di dalam masyrakat Nusantara. Akhirnya teologi Matu­ridi Bukhara yang setingkat lebih moderat dari Asy’ari berkembang dengan pesat. Bahkan set­erusnya ke Maturidi Samarkand yang dua ting­kat lebih moderat dari Asy'ari dan hanya set­ingkat di bawah Mu'tazilah. Setelah Program Pascasarjana PTAIS dikembangkan dengan dimotori dua tokoh yang disertasinya memba­has Muhammad Abduh, yaitu Prof Harun Nasu­tion dari segi pemikiran dan Prof Quraisy Syi­hab dari segi tafsir, maka teologi dan pemikiran Abduh, dua tingkat lebih moderat daripada Mu'tazilah, merebak di di seluruh Indonesia.

Jauh sebelum Islam datang, agama mayori­tas dianut di wilayah Nusantara ini ialah agama Hindu dan aliran kepercayaan lokal. Ptolemaus, sang penemu banyak negeri, menggambarkan adanya kepulauan yang disebut Khersonesos (Yunani: Pulau emas) dan sejarah Cina yang disebutnya dengan Ye-po-ti yang di antaran­ya diperkenalkan dengan Jabadiou/Jawa. Di zaman ini sudah dikenal wilayah Jawadwipa, Swarnadwipa, Bugis, dan lain-lain. Masyarakat yang menghuni kepulauan ini sudah mengenal sistem religi dan mempercayai adanya kekua­tan gaib dan sistem penyembahan terhadap kekuatan gaib tersebut. Ini membuktikan bah­wa kemudahan masyarakat bangsa Indonesia memeluk agama yang baru dikenalnya karena mereka sudah memiliki pengalaman batin, yang antara satu sama lain agama-agama yang da­tang ke negeri ini memiliki unsur persamaan.

Analisis sistem budaya juga menggambar­kan masa ini sebagai masa akulturasi yang amat penting, di mana budaya dan sistem re­ligi luar bisa beradabtasi dalam konteks budaya kepulauan Nusantara. Di dalamnya ada pen­garuh Hindu, Arab (Islam), Cina, Portugis, dan Inggeris. Sistem budaya, sistem religi, sistem ekonomi, dan sistem teknologi sudah banyak ditemukan di pusat-pusat kerajaan Nusantara sejak dahulu kala. Dengan demikian, wilayah Nusantara ini sudah terbiasa dengan pluralitas agama dan kepercayaan. Meskipun system re­liginya berbeda tetapi masyarakat tetap bersatu karena diikat oleh ikatan-ikatan nilai-nilai local yang spesifik sebagai warga pulau. 

Komentar Pembaca
Regulasi Kerukunan Antar Umat Beragama
Indonesia Di Tengah Globalisasi Ummah
Umat Yang Inklusif

Umat Yang Inklusif

SABTU, 15 APRIL 2017

Hak-hak Sosial-Budaya Non-Muslim

Hak-hak Sosial-Budaya Non-Muslim

SELASA, 11 APRIL 2017

Mengantisipasi Pergeseran Elite Umat
Sinkron Dengan Kearifan Lokal

Sinkron Dengan Kearifan Lokal

KAMIS, 06 APRIL 2017

Ahok Melantik Anies Cuma Dagelan

Ahok Melantik Anies Cuma Dagelan

, 22 APRIL 2017 , 18:00:00

Reklamasi Jakarta Menguat Dibatalkan

Reklamasi Jakarta Menguat Dibatalkan

, 22 APRIL 2017 , 16:00:00

RUPS PT Provident Agro Tbk

RUPS PT Provident Agro Tbk

, 22 APRIL 2017 , 02:52:00

RUPS Telkom

RUPS Telkom

, 21 APRIL 2017 , 20:32:00

Kartini Dan Politik

Kartini Dan Politik

, 21 APRIL 2017 , 06:36:00