Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
Ramadhan

Mempersiapkan Khaira Ummah (69)

Mencegah Kegamangan Beragama

Tau-Litik  KAMIS, 04 MEI 2017 , 10:13:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mencegah Kegamangan Beragama

Nasaruddin Umar/Net

ADA fenomena segelintir gen­erasi muda umat yang merasa gamang dalam beragama. Ter­utama mereka yang mobilitas hidupnya sangat tinggi. Mer­eka yang sering mengunjungi negara-negara lain, terutama negara barat. Mereka perca­ya kepada Tuhan tetapi mera­sa gamang dalam beragama. Mereka tetap percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa tetapi terusik dengan kelompok-kelompok yang dini­lai anarkis, terlalu gampang mengklaim diri sebagai representasi agama. Mereka begitu gampang me­nyalahkan, membid’ahkan, dan mengkafirkan orang lain. Mereka dengan begitu mudah menetapkan orang lain penghuni neraka.
Kelompok ini merasakan agama terlalu ritual-dogmatis, membatasi, konservatif, tradisional, statis, kaku, tekstual, deduktif, kualitatif, dan terlalu berori­entasi masa lampau, atau terlalu jauh meloncat ke hari akhirat, sementara lingkungan pacu kehidupan kita dirasakan terlalu rasional, bebas, terkadang lib­eral, dinamis, mobile, camggih, kontekstual, kuan­titatis, induktif, berorientasi kekinian-kedisinian. Ke­tika hati dan pikiran tidak lagi merasakan kesejukan sentuhan agama atau ketika pola hidup sehari-hari kita semakin berjarak dengan ajaran luhur agaman­ya, maka pada saat itu orang menyiapkan waktu khusus untuk mengevaluasi pandangan hidup (world view)-nya. Saat-saat seperti ini orang me­merlukan konsultan spiritual.

Kelompok muda itu kebanyakan dari kelompok profesional, sehingga ekonomi tidak masalah. Di antara mereka sudah ad yang menembus kelas menengah atas. Sudah ada yang menduduki posisi dan jabatan tinggi, kedudukan strategis, pekerjaan mapan, anggota keluarga yang sukses, suami atau isteri yang serasi, relasi usaha yang banyak, rumah besar, dan kendaraan cukup, akan tetapi belum mengantarkannya kepada ketenan­gan, kebahagiaan, dan ketenteraman, bahkan hidup dan kehidupan ini terasa gersang, ker­ing, dan hambar. Maka ini sudah cukup menjadi bukti bahwa kita sedang membutuhkan sesuatu yang lain. Kita harus menyiapkan waktu khusus untuk mencari sesuatuu itu sebelum terlambat. Saat-saat seperti ini kita perlu menyiapkan waktu khusus untuk melakukan konpemplasi/berhalwat, menelusuri telung paling dalam jiwa kita. Lebih baik jika mengikuti ibadah-ibadah khusus atau melakukan wisata rohani yang terprogram.

Fenomena ini perlu ada pemecahan. Ketika ma­teri tidak lagi memberikan kepuasan penuh semen­tara agama tidak lagi dirasakan sebagai factor yang mencerahkan, maka pada saat itulah generasi sep­erti ini berpotensi menyalurkan kecenderungan-ke­cenderungan batinnya kepada hal-hal yang bersi­fat non agama dalam arti tradisional. Mereka inilah yang yang cenderung menyamakan semua agama dan memilih aspek-aspek tertentu dari beberapa agama sebagai sarana penyaluran. Tentu cara ini menjadi masalah dalam pandangan tradisi Islam karena masuk wilayah sinkretis, mencampuraduk­kan antara satu agama dengan agama lain.

Ketika kenyamanan tidak lagi bisa terasa di da­lam hotel berbintang, ketika kelezatan tidak lagi bisa terasa di restoran mewah, ketika kesejukan tidak lagi bisa dirasakan di sela rindangnya pepohonan, ketika kemerduan dan keindahan tidak lagi terasa saat mendengar kicau burung dan derunya ombak, ketika kebahagiaan tidak lagi bisa dirasakan diten­gah tawa-canda keluarga, ketika keterharuan tidak lagi terasa di tengah kerumunan teman-teman se­masa remaja, ketika kerinduan tidak lagi muncul saat menatap dalam-dalam foto wajah ibu, dan ke­tika air mata cinta tidak pernah lagi terurai di atas sa­jadah, maka kita harus segera istigfar dan bertobat.

Akhirnya kita semua semakin sadar bahwa teori kepuasan hidupnya Abraham Maslow (1908-1970) tidak cukup. We need more!. Yang kita butuhkan se­sungguhnya ialah kedekatan diri dengan Tuhan (taqarrub ila Allah). Kepuasan sejati berujung ke Sana. Al-gina gina al-nafs (kekayaan sejati adalah keka­yaan batin). Untuk apa memilki rumah besar kalau seperti rumah sakit, yang isinya orang-orang sakit dan sedih. Untuk apa memiliki mobil mewah kalau seperti ambulans yang isinya orang mati atau seten­gah mati. Jika seandainya pengandaian dibenarkan, lebih baik gubuk isinya surga dari pada istana isinya neraka. Untuk itu kita jangan hanya berpegang ke­pada kulit agama tetapi juga kepada isinya. 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

100 Advokat Laporkan Pemfitnah JK

, 29 MEI 2017 , 19:00:00

BPK Melawan Balik KPK

BPK Melawan Balik KPK

, 29 MEI 2017 , 17:00:00

Kecam Gugatan JICT

Kecam Gugatan JICT

, 28 MEI 2017 , 19:40:00

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

Penegasan Bhinneka Tunggal Ika

, 27 MEI 2017 , 00:42:00

Jenguk Korban Bom

Jenguk Korban Bom

, 27 MEI 2017 , 03:11:00