Verified

CATATAN TENGAH

Jokowi & Presiden RI “Korban” Lobi & Politik Amerika (Selesai)

Catatan Tengah  MINGGU, 07 MEI 2017 , 08:37:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

Jokowi & Presiden RI “Korban” Lobi & Politik Amerika (Selesai)

Derek Manangka/Net

TAUFIQ Kiemas membaca sinyal bahwa para perwakilan negara sahabat yang kemarin-kemarin menemunya di kediaman di Kagusan, Jagakarsa sesungguhnya meminta Megawati untuk bersiap-siap menerima transfer kepemimpinan nasional.

Dan Pemilu Reformasi 1999 itu menghasilkan anggota DPR/MPR yang rata-rata berwajah baru. Sesuai UUD 45 yang belum diamandemen tahun 2002, Pemilihan Presiden dilakukan oleh seluruh anggota MPR-RI yang jumlahnya 1.000 orang.

Pemilihan Presiden diselenggarakan dalam Sidang Istimewa MPR-RI Oktobert 1999. Hasilnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai presiden, sementara Megawati Soekarnoputri selaku wakil presiden.

Duet Gus Dur - Mega hanya bertahan sekitar 20 bulan. Pecah pertengahan 2001. Gus Dur dilengserkan oleh MPR-RI yang saat itu masih berstatus Lembaga TERTINGGI Negara. Mega menggantikannya, sekaligus sebagai wanita pertama Indonesia menjadi Presiden RI.

Sebaliknya ketika pihak Amerika dan sekutunya, tidak lagi menginginkan Mega, isteri Taufiq, menjadi Presiden RI, hal itu juga mereka utarakan.

Taufiq Kiemas bercerita pada kwartal ke-3 di tahun 2001, Megawati sudah diberi tahu lebih dulu bahwa AS tidak akan mendukung Mega dalam Pilpres 2004. Ini berarti Mega baru menjabat presiden sekitar 4 bulan.  
Pemberitahuan itu disampaikan ke Taufiq Kiemas, saat mendampingi Presiden Megawati berkunjung ke AS.

Di sela-sela acara yang cukup padat di New York, Pantai Timur Amerika, seseorang mendekatinya dan memperkenalkan diri sebagai calon Dubes AS untuk Indonesia. Dia tak lain Ralph Boyce.

Ralph minta bertemu dengan Taufiq Kiemas di salah satu hotel di Los Angeles, Pantai Barat, Amerika.

Taufiq bertanya pada dirinya sendiri, untuk apa harus melakukan pertemuan di Pantai Barat?  Mengapa tidak di Pantai Timur saja ?

Soalnya jarak New York, Pantai Timur  dan Los Angeles, Pantai Barat kurang lebih sama dengan jarak antara Medan (Sumatera Utara) dan Jayapura (Papua). Dibutuhkan waktu sekitar lima jam terbang dengan pesawat. Atau seperti penerbangan dari Jakarta ke Hongkong.

Tapi faktor ini pula yang membuat Taufiq penasaran sehingga setuju bertemu dengan  Ralph Boyce, calon Dubes AS untuk Indonesia.

Dalam pertemuan empat mata dan berlangsung singkat, disitulah Boyce menyampaikan keputusan AS yang saat itu dipimpin leh George Bush junior, bahwa Washington tidak akan mendukung Megawati dalam Pilpres 2004.

Boyce tidak menyebut, siapa kandidat yang dipersiapkan oleh Washington. Tetapi pertemuan itu merupakan sebuah peristiwa yang layak dicatat sejarawan, Pemilu Presiden RI yang baru akan digelar tiga tahun lagi, tapi hasilnya sudah ditetapkan.

Pilpres 2004 belum lagi dibuat persiapannya dan pelaksanaannya di seluruh Indonesia, tetapi sebuah pertemuan di Pantai Barat Amerika, sudah menetapkan sebagian hasilnya.

Pekerjaan KPU (Komisi Pemilihan Umum)  yang mengatur penyelenggaraan pesta demokrasi yang diikuti puluhan juta pemilih, sejatinya hanya dikerjakan oleh seorang diplomat AS dengan saksinya seorang politisi senior Indonesia. Ini penafsiran dari sebuah fakta. Bukan hoax.

"Mohon maaf Pak Taufiq pada Pemilu 2004, Amerika tidak akan mendukung Ibu Mega," ujar Taufiq menirukan ucapan diplomat AS pada tahun 2001, kepada saya pada 5 Oktober 2004.

Taufiq mengisahkannya kembali, Mega-Hasyim sudah dipastikan kalah sementara SBY–JK tinggal menunggu pelantikan MPR-RI pada 21 Oktober 2004.

Latar belakang inilah yang antara lain yang membuat Taufiq Kiemas, percaya bahwa saya paham konteks pentingnya perkenalan dengan Derwin Pereira dan lobi Amerika. Juga kami,  Derwin dan saya sama-sama punya latar belakang profesi yang sama – wartawan.

Pertimbangan lain, boleh jadi wartawan Singapura yang bekerja di Washington, ibukota negara Amerika Serikat, tidak bekerja sendirian. Sehingga Taufiq pun tidak sendirian menghadapinya.

Intinya, menjadi penting perhitungan tentang peran Amerika lewat jaringan Derwin - dalam penentuan, siapa yang berpeluang menjadi Presiden RI.

Saya pun menjalankan “misi” Taufiq Kiemas dengan senang hati. Karena pada tahun 2006 itu, saya sudah tidak lagi berstatus Pemimpin Redaksi RCTI. Bebas bekerja di mana dan dengan siapa saja. Saya sudah pensiun dari perusahaan yang dipimpin Hary Tanoe tersebut.

Bersama pengusaha yang tidak terkenal, Wawan Setiawan, yang berteman di lapangan golf, kami mempersiapkan  sebuah perusahaan televisi non teresterial, berbasis pelanggan. Mirip bisnis Indovision dan First Media.

Tapi secara pribadi, saya juga sudah direkrut oleh Taufiq Kiemas untuk mengelola sebuah jaringan radio FM yang berlokasi di 6 kota : Serang (Banten), Semarang (Jawa Tengah), Denpasar (Bali), Makassar (Sulawesi Selatan) dan Palu (Sulawesi Tengah).

Keenam radio FM itu dibeli Taufiq Kiemas dari pengusaha media Pri Sulisto. Pri, saat itu memimpin perkumpulan Alumni Amerika Serikat di Indonesia. Pri juga merupakan saudara ipar Arifin Siregar, mantan Dubes RI untuk AS di era Presiden Soeharto. Dan sebelum itu kakak ipar Pri, menjabat Menteri Perdagangan dan Gubernur Bank Indonesia.

Kembali ke kisah Derwin sebagai orang asing yang mengaku berperan dalam mempersiapkan Joko Widodo menjadi Presiden RI.

Cerita ini saya angkat antara lain karena posisi Presiden Joko Widodo  yang kalau benar merupakan “hasil rekayasa” Derwin dan AS, saat ini tengah berada dalam situasi yang tersorot. Di antara sorotan itu tercatat soal ketidakkompakannya dengan wakil presiden. Hal mana berpotensi mengganggu eksistensi kekuasaan dan kekuatan politik Presiden Joko Widodo.

Di saat bangsa Indonesia sedang terfokus pada masalah ketidakstabilan politik, wartawan AS, Allan Nairn, menyoroti kedudukan Presiden Joko Widodo. Allan menyebutnya sebagai pihak yang nampaknya tidak tahu tentang adanya gerakan yang bermaksud melengserkannya.

Sementara itu, AS yang dikenal sebagai negara yang suka ikut membantu pergerakan di sebuah negara yang ingin melakukan perubahan rezim, mengalami perubahan. Catatan yang ada, dalam 50 tahun terakhir, tidak kurang dari 35 negara di dunia, mengalami pergantian rezim, akibat campur tangan AS.

Di lain pihak, Donald Trump, sebagai pemimpin baru AS, sejak kampanye tahun lalu, sudah menegaskan bahwa dia tidak akan mendukung cara-cara operasi pergantian rezim di sebuah negara. Alasannya, pergantian atau mengganti sebuah rezim, pada akhirnya tetap membebani anggaran AS.

Kalau pernyataan di kampanye itu yang dijadikan patokan, semestinya AS tidak akan mendukung usaha yang ingin menjatuhkan Presiden Joko Widodo. Investigasi wartawan AS, Allan Nairn, tidak valid.

Akan tetapi sebagaimana yang bisa diikuti di berbagai tayangan debat CNN, televisi yang sangat anti-Trump, posisi presiden berusia 70 tahun ini, juga sedang “goyah”. Trump dianggap Presiden pertama AS yang tidak memahami persoalan Asia.

Di Gedung Putih, kata hampir semua presenter CNN, tidak ada “desk Asia” bahkan yang di Kementerian Luar Negeri, yang dipimpin oleh Menlu Rex Tillerson, bekas CEO ExxonMobil, banyak ahli Asia yang memilih mundur.
Yang berarti, Indonesia sebagai bagian dari Asia, termasuk negara yang lepas dari perhatian Washington.

Nah apakah ini positif atau negatif bagi Indonesia atau buat Presiden Joko Widodo, saya tidak berani berspekulasi.

Namun sejarah mencatat, bicara soal campur tangan AS di Indonesia, sesungguhnya bukan hal yang asing.
Setidaknya sudah dua Presiden RI yang lengser dari jabatan secara tidak terhormat. Keduanya adalah Soekarno dan Soeharto.

Dan akibat dari pelengseran secara tak bermartabat itu, yang berkelahi justru sesama bangsa Indonesia atau AS sebagai pelengser dengan rakyat Indonesia.

Tapi ironinnya, baik Soekarno maupun Soeharto, sejarah naiknya mereka ke kekuasaan, semuanya berkat Amerika.
Soekarno menjadi Presiden pertama RI di tahun 1945, karena Jepang sebagai penjajah, angkat kaki dari Indonesia. Dan tindakan Jepang itu terjadi karena AS menjatuhkan dua buah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki – yang membuat Jepang mengakhiri semua pendudukannya di Asia.

Soeharto juga menjadi Presiden di tahun 1966, karena dukungan AS. Setidaknya demikian pengakuan CIA melalui dokumen yang dirilisi hampir 10 tahun lalu.

Dari paparan di atas cukup jelas, kegiatan lobi dan politik Amerika di Indonesia, termasuk hal yang sulit ditebak dan diprediksi.

Sehingga dalam konteks untuk memberi peringatan bahwa lobi dan politik AS di Indonesia, perlu kita cermati.  Inilah sesungguhnya yang menjadi alasan utama, mengapa ulasan ini, diangkat.[***]


Penulis Merupakan Wartawan Senior

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Panglima TNI Dipermalukan!

Panglima TNI Dipermalukan!

, 23 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Melihat Lebih Luas Konflik Semenanjung Korea
Bahas Wacana Densus Tipikor

Bahas Wacana Densus Tipikor

, 22 OKTOBER 2017 , 00:25:00

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

, 22 OKTOBER 2017 , 01:33:00

Rider Photo Challenge

Rider Photo Challenge

, 22 OKTOBER 2017 , 21:09:00