Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Selamatkan Pendidikan Kita

Suara Publik  SELASA, 16 MEI 2017 , 11:17:00 WIB

TANGGAL 18-20 Me ini, MUI, dalam hal ini Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, bekerjasama dengan Kementerian Agama RI menyelenggarakan sebuah acara penting Halaqoh Ulama untuk Pendidikan dan Kaderisasi Santri. Selain wakil-wakil MUI daerah dan seluruh komisi MUI Pusat,  acara ini mempertemukan pengambil kebijakan, pemimpin/tokoh ormas Islam, ulama, akademisi dan aktivis untuk membahas satu agenda penting yaitu pendidikan Islam di Indonesia. Diharapkan akan lahir pokok-pokok pikiran atau rekomendasi strategis tentang pendidikan khususnya pendidikan Islam di Indonesia.

Beberapa bulan yang lalu, Dewan Pertimbangan MUI juga mengundang tokoh-tokoh ormas Islam untuk sebuah kordinasi membahas soal revitalisasi pendidikan Islam. Penulis berkeyakinan bahwa masih ada  beberapa pertemuan lainnya yang memberikan pencermatan terhadap pendidikan. Di tengah hiruk pikuk politik terutama di DKI Jakarta yang dalam tingkat tertentu menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat bahkan di luar DKI Jakarta sekalipun, topik pendidikan masih mendapat perhatian untuk diperbincangkan secara serius. Ada harapan besar jalan pendidikan akan memberikan arah perjalanan bangsa dengan benar.

Landasan Kita

Pendidikan adalah upaya sadar, sistimatis dan terprogram untuk  melaksanakan amanah agama dan amanah konstitusional. Tujuannya membentuk manusia seutuhnya; manusia yang berkualitas tinggi, berkarakter kuat,  berakhlaq dan kepribadian mulia, berpengetahuan luas dan memiliki komitmen tinggi untuk kemakmuran dan kemaslahatan. Ajaran agama diturunkan untuk tujuan-tujuan mulia ini. Berbagai istilah seperti iman,  taqwa dan akhlaq menekankan kualitas manusia seperti apakah yang seharusnya dilahirkan. Karena itulah maka semua nilai luhur sebagaimana yang disediakan dalam ajaran agama haruslah menjadi perhatian utama atau referensi dalam menyelenggatakan pendidikan di Indonesia. Atas dasar ini juga maka pendidikan haruslah dibangun di atas fundamen filosofis yang kokoh yaitu agama.     

Prinsip filosofis agama tersebut sangatlah bersesuaian dengan Pancasila. Karena itu, sebagaimana berbagai aspek kehidupan lainnya, sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa haruslah juga menjiwai dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Inilah yang membedakan dengan model pendidikan di tempat lain. Tugas kita adalah mempertahankan dan memperteguh sehingga tidak goyah dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman. Bahkan, pendidikan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip ajaran agama dan nilai-nilai luhur Pancasila seharusnya juga bisa menjadi kekuatan dalam rangka memberikan solusi terhadap berbagai problem yang begitu kompleks dan menawarkan satu paradigma baru pendidikan yang jauh lebih menjanjikan dan mencerahkan.

Atas dasar landasan ini juga, maka pendidikan seharusnya juga mempunyai kekuatan (1) responsif memecahkan problem dan menyediakan kebutuhan hidup, (2) liberatif agar masyarakat terbebas dari berbagai bentuk keterpurukan, beban dan tekanan,  (3) transformatif agar masyarakat memiliki kemampuan untuk merubah dan memajukan diri (4) futuristik agar masyarakat mempunyai pandangan jauh sekaligus merekaysa kehidupan ke depan (5) mencerahkan akal,  budi, kalbu dan sistim tindakan.

Problem dan Ancaman Akut

Kehidupan kebangsaan kita pada umumnya sedang menghadapi berbagai ancaman serius yang juga mempengaruhi pendidikan nasional kita. Pertama,  ancaman dari luar yang masuk melalui proses globalisasi masif dan ekstensif  antara lain ialah penetrasi pandangan, ideologi dan kebudayaan luar yang nyata-nyata bertentangan dengan agama, Ideologi bangsa dan nilai luhur kebudayaan Indonesia.

Hedonisme, materialisme,  sekularisme, liberalisme dan permisifisme adalah di antara pandangan atau ideologi yang memiliki kekuatan destruktif  dan berefek panjang bagi kemanusiaan. Inilah paham ideologi transnasional yang harus mendapatkan perhatian serius karena juga menjadi ancaman bagi pendidikan nasional.

Ancaman transnasional yang juga sangat serius  berasal dari gerakan dan ideologi yang mengeksploitasi kesucian agama seperti Salafisme Jihadi Qitaly. Gerakan dan ideologi yang antara lain diusung oleh ISIS,  misalnya,  merupakan musuh kemanusisan universal yang harus dihadapi. Ideologi dan gerakan transnasional jenis ini menebar melalui berbagai cara dan media. Bahkan revolusi teknologi informasi telah dengan nyata menjadi peluang yang sangat luas bagi penyebaran faham atau ideologi-ideologi sesat dan menebar kecemasan dan teror. Inilah yang disebut dengan cyber terrorism yang sangat mengancam khususnya generasi muda dan masyarakat pada umumnya. Dunia pendidikan tergoncang oleh ideologi dan gerakan transnasionalisme ini. Mampukah pendidikan kita menghadapi arus transnasionalisme ini?

Kedua, ancaman-ancaman di atas juga memperoleh momentumnya yang baik antara lain karena ada problem kepemimpinan yang sangat serius. Kepemimpinan yang ada nampak disamping tidak lagi memberikan perhatian kepada keluhuran nilai moral juga kepada kepentingan dan kemaslahatan bersama. Maraknya korupsi yang terjadi secara sistemik, praktek diskriminasi dan penyalah gunaan wewenang atau kekuasaan (abuse of power), misalnya, adalah tidak sekedar merupakan gambaran nyata betapa birokrasi dan kepemimpinan telah mengalami kebangkrutan serius akan tetapi juga menunjukkan bahwa kejahatan sepertinya memperoleh tempatnya yang relatif aman, apalagi penegakan supremasi hukum juga tidak membahagiakan.

Realitas ini benar-benar menjadi ancaman internal langsung bagi masa depan masyarakat dan bangsa. Secara khusus tentu saja hal ini juga sangat mengganggu bagi penyelenggaraan pendidikan apalagi kenyataan menunjukkan bahwa tidak jarang di pusat-pusat pendidikan sekalipun justru menjadi tempat terjadinya berbagai bentuk penyelewengan, pelanggaran etika dan moral dan bahkan tindakan kriminal lainnya. Lembaga pendidikan yang seharusnya  diharapkan menjadi pusat keadaban dan kemuliaan,  justru ternodai oleh tindakan-tindakan yang tidak terhormat. Tidak sedikit contoh yang menggambarkan prilaku yang tidak terhormat dilakukan oleh murid/mahasiswa, orang tua dan aparat pendidikan.

Dunia pendidikan digoncang dan ini disamping menimbulkan kehawatiran di kalangan masyarakat juga menyebabkan public distrust. Jika hal ini dibiarkan maka tidak saja akan menyebabkan masa depan pendidikan akan suram akan tetapi masyarakat dan bangsa secara umum akan mengalami kemunduran dan kebangkrutan serius.

Situasi ini terasa semakin berat karena, sebagai akibat dari pengaruh kuat pragmatisme, pendidikan terasa semakin kehilangan perspektif yang komprehensif. Masyarakat memandang pendidikan sebagai salah satu tempat di mana mereka bisa berharap memperoleh cara membawa ke masa depan yang secara ekonomi memberikan keuntungan finansial. Dunia pendidikan adalah sebuah industri yang mencetak produk yang secara ekonomi akan memberikan keuntungan.

Bagi masyarakat, hidup akan memperoleh makna yang hakiki jika secara ekonomi sangat tercukupi. Dunia pendidikan menjadi faktor atau mekanisme yang sangat menentukan dari proses transaksi. Pendidikan mengalami reduksi makna hakikinya karena tidak lagi dipandang sebagai salah satu instrumen penting dalam rangka melahirkan kepribadian yang kokoh yang mengedepankan nilai nilai luhur. Seiring dengan itu, maka kecenderungan duplikatif terhadap pola yang dilakukan oleh pihak lain sangatlah kuat. Pendidikan tidak memiliki kemampuan untuk bersikap mandiri dan kreatif inovatif dan  melahirkan manusia yang mandiri, kreatif inovatif. Bisa dipastikan pola pendidikan seperti ini akan kehilangan kemampuan kompetitifnya karena posisinya sebagai follower dan konsumen.

Pragmatisme telah menjebak masyarakat dan dunia pendidikan dalam transaksi  yang bahkan dilakukan dengan cara-cara yang tidak terhormat. Bukankah jual beli dan penyuapan sering dilakukan banyak orang yang melibatkan pelaku pendidikan? Uang telah menjadi bagian penting dan bahkan menentukan untuk keberlanjutan pendidikan dan karena Itu hanya mereka yang memiliki kemampuan finansial yang memperoleh pelusng untuk mengenyam pendidikan. Kemiskinan, pada kenyataannya telah menjadi ancaman potensial bagi banyak orang. Dan Kemiskinan yang terjadi adalah "kemiskinan struktural ; " orang miskin karena struktur Kekuasaan telah secara sistemik menciptakan ketidak adilan dan kesenjangan atau disparitas yang luar biasa. Masyarakat yang tidak memiliki akses yang baik terhadap sumber sumber ekonomi ini,  akan mengalami marjinalisasi secara social dan tak mampu menikmati hak-hak pendidikan jika tidak ada langkah affirmatif dan progresif baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Rekomendasi

Tidak ada cara lain yang harus dilakukan kecuali menyelamatkan pendidikan untuk keselamatan bangsa dari berbagai ancaman sebagaimana diurai di atas. Atas dasar ini,  berikut beberapa rekomendasi yang perlu dipertimbangkan:

1. Pendidikan Islam mempunyai peluang yang luas memainkan peran strategisnya untuk membenahi pendidikan nasional. Karena Itu, pendidikan Islam haruslah menjadi model percontohan yang ideal dalam sistim pendidikan nasional yang menegaskan landasan filosofis agama, Pancasila dan nilai-nilai luhur masyarakat bangsa Indonesia. Pendidikan Islam adalah pendidikan komprehensif yang memperkokoh spirit agama dan nasionalisme.

2. Pendidikan Islam haruslah menjadi model paradigmatik yang bercorak responsif, transformatif, integratif,  komprehensif, futuristik dan liberatif.

3. Pendidikan Islam haruslah menjadi model ideal sebsgsi lembaga yang menanamkan nikai nilai luhur dalam rangka membangun masyarakat yang berkemajuan.

4. Perlu segera dibentuk semacam badan independen pengawasan pendidikan Islam Indonesia untuk meyakinkan bahwa seluruh lembaga pendidikan Islam khususnya benar benar berjalan sesuai dengan harapan. [***]

Sudarnoto A Hakim
Penulis adalah Ketua Komisi Pendidikan dan Kader MUI Pusat, Wakil Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah, serta dosen tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta

 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Bappenas Ikut Saran Rizal Ramli

Bappenas Ikut Saran Rizal Ramli

, 23 AGUSTUS 2017 , 23:00:00

KPK Harus Diformat Ulang!

KPK Harus Diformat Ulang!

, 23 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

OSO Terima Presiden Jurnalis Korea

OSO Terima Presiden Jurnalis Korea

, 23 AGUSTUS 2017 , 17:46:00

Miniatur Masjid Al Aqsa

Miniatur Masjid Al Aqsa

, 23 AGUSTUS 2017 , 00:34:00

Sarapan Colenak

Sarapan Colenak

, 22 AGUSTUS 2017 , 10:10:00