Hanura

Lorong Sunyi Menuju Tuhan (17)

Spiritual Contemplations: Ridha Menerima Takdir

Tau-Litik  SELASA, 23 MEI 2017 , 09:43:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Spiritual Contemplations: Ridha Menerima Takdir

Nasaruddin Umar/Net

MASIH banyak orang beru­saha menolak takdir. Kono­tasi takdir selama ini oleh banyak orang dipersepsi­kan sebagai sesuatu yang negatif. Sedangkan sesuatu yang positif seolah dianggap murni ikhtiar atau usahanya sendiri. Padahal, baik takdir negatif maupun positif se­muanya dari Allah Swt. Tantangan kita bagaima­na agar takdir tidak terlalu membebani kita? Sebab belum tentu apa yang dianggap takdir buruk betul-betul buruk untuk kita. Sebaliknya belum tentu takdir yang dianggap positif betul-betul positif buat kita. Terkadang kita terkecoh, ternyata takdir yang selama ini dianggap buruk besar sekali hikmahnya bagi kita, sehingga pada akhirnya kita mensyukuri takdir yang selama ini dianggap buruk. Demikian pula sebaliknya, ada takdir yang semula disyukuri tetapi belakangan ternyata membebani kita, lalu takdir itu terasa membebani kita.

Sehubungan dengan ini, menarik apa yang pernah diingatkan Syekh Ibnu 'Athaillah dalam Hikam-nya: "Manusia tidak boleh mengandalkan angan-angannya untuk menjangkau kehendak dan cita-citanya. Sebab, setelah ikhtiar, manu­sia akan dihadapkan kepada kenyataan yang sebenarnya. Itulah takdir Allah. Kemuliaan iba­dah seorang hamba adalah pada keadaan akhir, ketika ia dengan ikhlas menerima ketentuan Al­lah SWT. Demikian juga halnya dengan rezeki yang telah ditentukan pembagiannya oleh Al­lah". Ibnu 'Athaillah mengingatkan kita bahwa takdir itu penuh dengan misteri. Jika ada takdir yang membebani kita, belum tentu itu buruk. Se­baliknya takdir yang menyenangkan belum ten­tu permanen menyenangkan, boleh jadi hanya akan menjadi fenomena sesaat.


Antara qadha dan qadar dapat dibedakan ke­pada dua bagian Pertama, qadha dan qadar mub­ham berupa ketentuan yang telah ditetapkan Allah mengikuti blue print pada zaman azali dan tidak akan berubah lagi seperti kehadiran manusia di bumi dan bentuk-bentuk tubuh, serta bentuknya. Kedua qadha dan qadar mu'allaq yakni apa-apa yang terkait dengan usaha ikhtiar manusia, seper­ti sebab-sebab yang membawa musibah dan ke­bahagiaan kepada seseorang, dan sebab-sebab yang membawa kedurhakaan dan ketaatan kepa­da orang. Qadha dan qadar merupakan dua kata majemuk yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Memisahkan satu di antara keduanya akan beraki­bat fatal dan runtuhnya bangunan itu. Umar pernah menjelaskan perbedaan antara qadha dan qadar, ketika menjawab pertanyaan Abu Ubaidah Bin Al- Jarrah mengenai merebaknya salah satu jenis epi­demi di negeri Syam (Syria), apakah khalifah akan lari daripada takdir Allah? Jawab Umar: Saya lari dari takdir Allah kepada takdir-Nya yang lain; yaitu lari dari dampak epidemi kepada takdir sehat dan selamat. Jika semua jalan sudah dilewati untuk menghindari musibah tetapi masih saja menimpa kita, berarti itu bukan musibah biasa. Boleh jadi itu jalan takdir yang akan mengantarkan kita ke pintu syurga. 

Komentar Pembaca
Pianis Muda Indonesia Peraih Penghargaan Internasional
Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

, 21 APRIL 2018 , 11:00:00

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

, 19 APRIL 2018 , 01:12:00

Foto Bersama Para CEO Astra

Foto Bersama Para CEO Astra

, 20 APRIL 2018 , 00:10:00

Kuba Pasca Generasi Castro

Kuba Pasca Generasi Castro

, 19 APRIL 2018 , 09:59:00