Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Taufiq Kiemas, Indah Dilupakan, Sedih Dikenangkan

Catatan Tengah  KAMIS, 08 JUNI 2017 , 07:39:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

YAH, judul di atas mungkin bisa menimbulkan tanda-tanya, apa maksudnya. Judul itu terlalu mendayu, dan seakan ditujukan kepada sang kekasih wanita yang sudah jauh dan bahkan telah tiada.

Tetapi memang itulah judul yang terbersit di pikiran, sewaktu mau menulis “Mengenang Empat Tahun Berpulangnya Taufiq Kiemas”.

Hanya itu ungkapan yang cocok disampaikan, karena saya termasuk salah satu dari banyak orang yang pernah merasakan kebaikan dan ketulusan almarhum. Tak peduli apa kata orang lain, itu tak menganggu pikiran saya. Atau EGP.

Bahwa Taufiq Kiemas di masa hidupnya pernah melakukan kekeliruan dan mungkin mengecewakan orang lain, itu tandanya dia seorang mahluk ciptaan Tuhan yang tidak sempurna.

Hari ini, Kamis 8 Juni, tepat empat tahun lalu Ketua MPR-R itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah rumah sakit di Singapura. Taufiq meninggal setelah diawali serangan jantung di Ende, Nusa Tenggara Timur, tempat pembuangan Soekarno oleh penjajah Belanda.

Taufiq sebagai Ketua MPR-RI di tahun 2013 itu tengah giat-giatnya mempromosikan “Empat Pilar” dan Hari Kelahiran Panca Sila 1 Juni.

Baginya “Empat Pilar” sama dengan Panca Sila. Taufiq menggunakan istilah baru, sebab dalam pemikirannya dia, masyarakat sudah terlanjur jenuh dengan nama Panca Sila.

“Harus gunakan terminologi baru”, ujarnya di tahun 2010.

Taufiq berkunjung ke Ende untuk melakukan kegiatan Napak Tilas atas sejarah perjuangan penemu Panca Sila yakni Ir, Soekarno yang kelak menjadi putera pertama Indonesia yang menjadi Presiden.

Kelahiran Panca Sila telah dirubah oleh sejarawan Orde Baru. Menjadi 18 Agustus dan penemunya bukan Soekarno, melainkan Mohamad Yamin.

Padahal ketika Soekarno masih berkuasa, kelahiran Panca Sila sudah ditetapkan 1 Juni.

Perubahan hari kelahiran itu menimbulkan efek psikologis yang tidak produktif. Terutama setelah beberapa waktu tanggal 1 Oktober dinyatakan sebagai Hari Kesaktian Panca Sila.

Perdebatan soal siapa sebenarnya penemu Panca Sila dan hari kelahirannya, belum selesai, masyarakat kemudian dijejali oleh keharusan mengikuti Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Panca Sila).

Makin bertambah-tambahlah kebingungan dan kejenuhan terhadap Pamca Sila. Belum lagi ada tuntutan bahwa Panca Sila itu sebetulnya lahir 22 Juni 1945. Kalu ini dituruti, itu sama dengan berlakunya Piagam Jakarta atau Indonesia secara konstitusioal merupakan Negara Islam, bukan Negara Panca Sila.

Di tengah suasana itu, Taufiq mencoba mencari terobosan. Dengan mulai menghidupkan ingatan segar dan positif terhadap Soekarno. Karena sebetulnya setelah Ende, berbagai Napak Tilas untuk mendiskripsikan bagaimana sebenarnya pemikiran-pemikiran Soekarno, sudah dia agendakan.

Namun agenda Tuhan berkata lain. Taufiq harus berhenti melakukan pekerjaan sosialisasi Panca Sila melalui “Empat Pilar” dan mengingatkan seorang Soekarno sebagai seorang legenda bangsa.

Agenda Taufiq untuk menghidupkan kembali nyala api semangat Panca Sila, terhenti. Kepergiannya pun menyisahkan duka yang dalam. Hal ini terlihat dari salah satu ungkapan rasa duka cita, lewat bunga papan yang dikirim ke rumah kediaman Jl. Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Entah berapa banyak jumlahnya. Yang pasti deretan bunga papan itu dimulai dari Jl. Sutan Syahrir, ujung yang dekat Gedung Wisma Nusantara, depan Hotel Grand Hyatt. Kemudian menyusur sepanjang jalan yang mentok ke Jl. Teukur Umar yang datang dari Taman Suropati. Kemudian terus melewati bunderan Air Mancur, lurus ke arah masjid Tjut Mutia. Kiri kanan Jl. Teukur Umar penuh dan meluber ke luar hingga ke Jl. Sawo.

Saya ingat ketika Jenderal Besar Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008, reaksi masyarakat yang bersedih berbeda. Jelas lebih banyak.

Tetapi dalam soal bunga papan, kiriman karangan bunga duka cita kepada jenderal yang berkuasa selama 32 tahun, dengan segala maaf harus saya katakan secara kasat mata, kalah banyak.

Reaksi terhadap Pak Harto berbeda, boleh jadi demikian, karena sebelum meninggal Pak Harto sudah sering masuk keluar rumah sakit. Usia Pak Harto saat meninggal juga sudah di atas 80. Sehingga kabar meninggalnya, tidak lagi mengejutkan.

Sementara Taufiq Kiemas, sering masuk keluar rumah sakit, tapi seusai dari rumah sakit selalu seperti bukan orang yang pernah jatuh sakit.

Sehingga ketika kabar meninggalnya itu tersiar, masyarakat terkejut. Apalagi berita yang disampaikan dari Singapura, sebelumnya selalu dikatakan “baik”.

Tapi ternyata tiba-tiba : “done” !

Sejujurnya, tulisan tentang politisi PDI-P itu dalam beberapa bulan terakhir ini, cukup banyak bermunculan. Paling tidak namanya sering disebut. Terutama ketika perbincangan tentang keadaan politik nasional jadi sorotan.

“Kalau Bang TK masih hidup, mungkin konflik politik seperti yang melanda Jakarta atau Indonesia secara keseluruhan, tidak akan memanas seperti ini”.

“Kalau Bang TK masih ada, Habib Riziek, Ketua Umum FPI mungkin tidak akan hijrah sementara ke Arab Saudi. Ataupun kalau dia disana bukan Prabowo Subianto dan Amien Rais yang mendatanginya dengan alasan umroh. Bang TK sendiri yang akan menjemputnya. Sesudah itu setiba di tanah air, langsung hepi-hepi”.

“Bang TK adalah sosok yang selalu membuat persoalan sulit menjadi mudah. Menyelesaikan persoalan sulit atas win win solution”.

Yang terakhir ini merupakan ungkapan yang merujuk pada cara Taufiq Kiemas menyelesaikan masalah. Dimana pada satu waktu, dia sendiri yang menjemput Prabowo Subianto saat berada di Swiss, yang berstatus “stateless” behubung paspor RI-nya sudah tidak berlaku.

Yang agak mengejutkan, testimoni yang saya dengar di acara buka puasa FSAB (Forum Silahturahmi Anak Bangsa), Selasa malam 6 Juni lalu.

Acara itu tidak ada kaitannya dengan almarhum. Tapi tiba-tiba, salah seorang putera Kertosuwiryo – tokoh pemberontak DI/TII di Jawa Barat, menyebut nama politisi senior itu.

“Tujuh tahun lalu kita bertemu di tempat ini dengan Pak Taufiq. Saya ingat beliau karena dia tanya apakah saya sudah sudah naik haji. Saya jawab belum”

“Hari itu juga saya diminta menyerahkan KTP dan paspor. Pak TK minta Lukman Saefuddin, sebagai Wakil Ketua MPR-RI yang sekarang menjadi Menteri Agama, mengurus semua dokumen haji. Tiga bulan setelah itu saya akhirnya bisa naik haji”.

“Semua biaya ditanggung oleh Pak TK”, katanya.

Ceritera lain dari Sys NS, juga muncul di tempat sama. Dia lupa tahunnya. Tapi bekas pesepakbola nasional Abdulkadir, meminta bantuannya untuk dihubungkan dengan Taufiq Kiemas. Kadir tidak punya uang. Tapi ia perlu berobat ke Tiongkok. Dan biayanya mahal.

“Begitu saya kasih tau Pak Taufiq, dia langsung minta Kadir ketemu beliau. Gile, semua dibayarin”, ujar Sys NS yang rumahnya di Jl. Teuku Umar bersebelahan.

Kadir, pesepakbola nasional yang dijuluki Si Kancil, memang tak lama setelah pengobatan, akhirnya meninggal dunia. Dan Kadir mungkin tak pernah sempat bertemu Taufiq setelah itu - sekedar menyampaikan terima kasih.

Bagi Taufiq sebuah hadiah, barang, uang atau apa yang sudah diberikannya, tak pernah dia tanyakan, apakah sudah digunakan atau tidak. Karena kalau itu dilakukannya, berapa banyak orang yang harus dia hubungi.

Sama dengan ketika dia membagikan jam tangan “Rolex”. Pada satu tempo, ketika persediaan jam itu masih banyak, siapa saja yang dia lihat belum mengenakan jam tangan merek tersebut, dia akan suruh pergi ke orang menyimpan jam tangan itu.

Pernah terjadi, seorang teman yang dulunya sangat ngotot mau memperkenalkan diri kepada Taufiq, tiba-tiba menolak, ketika saya ajak bersama ke Pompa Bensin Penjompongan. Tempat itu menjadi tempat “clubbing”. Sahabat ini terus menolak.

Selidik punya selidik, si “Ucok”, bukan nama sebenarnya malu bertemu Taufiq, karena jam tangan “Rolex” yang dihadiahkannya, sudah terlanjur dia jual. Jam tangan berharga pulhan juta itu dia jual karena “kepepet”, tidak punya uang.

Hal ini hanya untuk menggambarkan, dalam memberi, Taufiq tidak pernah memikirkan apa yang sudah diberikannya.

Dia memberi dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tak tahu sama sekali.

Memang lebih indah melupakan almarhum ketimbang mengingatnya. Sebab dengan melupakannya, tidak ada kerinduan, penantian kosong atas kehadirannya.

Semakin mengenangnya, semakin sedih rasanya. Sedih mengingat kebaikan-kebaikannya. Kebaikan mana belum tentu bisa didapatkan dari orang lain.

Kebaikan dan ketulusannya tak tergantikan. [***]

Penulis adalah wartawan senior
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Bappenas Ikut Saran Rizal Ramli

Bappenas Ikut Saran Rizal Ramli

, 23 AGUSTUS 2017 , 23:00:00

KPK Harus Diformat Ulang!

KPK Harus Diformat Ulang!

, 23 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

OSO Terima Presiden Jurnalis Korea

OSO Terima Presiden Jurnalis Korea

, 23 AGUSTUS 2017 , 17:46:00

Miniatur Masjid Al Aqsa

Miniatur Masjid Al Aqsa

, 23 AGUSTUS 2017 , 00:34:00

Sarapan Colenak

Sarapan Colenak

, 22 AGUSTUS 2017 , 10:10:00