Miqdad

Menuju Peradaban  MINGGU, 11 JUNI 2017 , 07:32:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Miqdad

Ilustrasi/Net

MIQDAD adalah insan ke tujuh yang secara terbuka menyatakan diri masuk Islam  dan siap menanggung penderitaan dan siksaan akibat kekejaman mereka yang memusuhi Islam.

Keperwiraan perjuangan Miqdad di medan Perang Badar akan selalu dikenang sepanjang zaman. Miqdad  pernah tampil orasi mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum muslimin menghadapi kekuatan musuh yang begitu dahsyat.

Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah', sementara kami akan mengatakan kepada Anda, 'Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu'. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan api, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan."

Miqdad adalah seorang pemikir dengan pikiran cemerlang dan hati tulus. Pemikiran Miqdad tajam dan dalam dapat menembus segala sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain.  

Menyaksikan keperwiraan serta kearifan Miqdad , Rasulullah SAW mengangkat Miqdad menjadi Amir di suatu daerah. Setelah Miqdad cukup lama menunaikan tugas sebagai Amir  dengan baik sehingga dicintai rakyatnya, Rasullah SAW bertanya apakah Miqdad ingin melanjutkan pengabdian dirinya sebagai penguasa .   

Dengan jujur dan tulus , Miqdad mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan jabatannya sebagai Amir. Sebab, menurut dia dengan menjadi pemimpin maka kedudukan dirinya berada di atas dari orang lain. Migdad tak menghendaki hal itu. Memang, sejak diangkat menjadi Amir, kehidupan Miqdad diliputi gemerlap kemegahan, kehormatan dan puji-pujian.

Miqdad menyadari sepenuhnya kenyataan itu, karena itu dia berniat untuk menghindari jabatan penguasa maka menolak diangkat sebagai Amir lagi demi menghindari mabuk kekuasaan yang rawan menjerumuskan dirinya sebagai penguasa yang terkebur maka sewenang-wenang menindas rakyat.

Saya melihat sukma kearifan Miqdad hadir pada sukma kearifan Bung Hatta yang atas kehendak diri sendiri mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Alangkah indahnya negeri kita tercinta ini apabila para penguasa sadar bahwa kekuasaan bukanlah tujuan namun sekedar sarana untuk mempersembahkan pengabdian diri kepada negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Marhaban Ya Ramadhan. Taqaballahu Minna Wa Minkum. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H.[***]

Penulis adalah pembelajar sejarah Islam




Komentar Pembaca
Gejala Perubahan Iklim

Gejala Perubahan Iklim

KAMIS, 18 JANUARI 2018

Menerawang Angka Tujuh

Menerawang Angka Tujuh

RABU, 17 JANUARI 2018

Becak

Becak

SELASA, 16 JANUARI 2018

Gareng Pung Tujuhbelas Tahunan

Gareng Pung Tujuhbelas Tahunan

SENIN, 15 JANUARI 2018

Bersatu Padu Ketimbang Saling Menyalahkan
Menuju Negara Kesatuan Korea

Menuju Negara Kesatuan Korea

SABTU, 13 JANUARI 2018

Anies Pencitraan Pakai Becak

Anies Pencitraan Pakai Becak

, 17 JANUARI 2018 , 19:00:00

Ini Alasan Airlangga Dipertahankan

Ini Alasan Airlangga Dipertahankan

, 17 JANUARI 2018 , 17:00:00

Ludes Dilalap Si Jago Merah

Ludes Dilalap Si Jago Merah

, 14 JANUARI 2018 , 03:23:00

Tetap Berdagang Di Tengah Puing Kebakaran

Tetap Berdagang Di Tengah Puing Kebakaran

, 14 JANUARI 2018 , 05:23:00

Sabam Sirait Dilantik

Sabam Sirait Dilantik

, 15 JANUARI 2018 , 16:34:00