Berita Politik

Telkom Indonesia
Ramadhan

Bung Karno Dan Prinsip Ketuhanan

Suara Publik  SABTU, 17 JUNI 2017 , 10:35:00 WIB

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan pada 21 Juni 1970 menghadap Sang Khaliq.
Tulisan singkat ini akan mengulas tentang pergumulan Bung Karno dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila. Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip Ketuhanan dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, itu berada pada urutan kelima, namun setelah kembali dirumuskan oleh Panitia Sembilan, yang juga Bung Karno berada di dalamnya, berubahlah menjadi Sila Pertama Pancasila.

Tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan: "... Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!".

Kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa itu telah dilontarkan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Kemudian berubah pada 22 Juni 1945 (lahir Piagam Jakarta). Setelah muncul adanya keberatan, Bung Karno segera menghubungi Bung Hatta, lalu dialog mendalam dengan tokoh-tokoh Islam (Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Teuku Moh Hasan), pada 17 Agustus 1945 diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" demi kesatuan Indonesia.

Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warganya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada "egoisme-agama". Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing, dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Bisa dibayangkan, jika The Founding Father Indonesia tidak berpikir negarawan, apa jadinya Indonesia di kemudian hari? Namun nyatanya, dengan kejernihan berpikir dan kedewasaan membaca realita, para pendahulu itu “melepaskan ego-nya” hingga hari ini kita masih bisa menikmati Persatuan Indonesia. Lahir batin kita bisa “mesra” dari Sabang sampai Merauke.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah kata-kata yang bisa diterima oleh semua agama, semua golongan waktu itu, hingga hari ini, dan Insya Allah sampai kapan pun. Seluruh warga bangsa meyakini bahwa Tuhan itu Esa, tentu menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Dalam Pasal 29 UUD 1945 ditegaskan; 1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Bagi umat Islam, landasan Sila Pertama Pancasila sangat jelas sesuai dengan Al-Qur’an surat Al-Ikhlas ayat 1-4 , yang artinya “1). Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. 4). dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Dalam Tafsir Al-Azhar, Ayat 1 Surat Al-Ikhlas, Buya Hamka menyatakan bahwa Inilah pokok pangkal akidah, puncak dari kepercayaan. Mengakui bahwa yang dipertuhan itu Allah nama-Nya. Dan itu adalah nama dari Satu saja. Tidak ada Tuhan selain Dia. Dia Maha Esa, mutlak Esa, tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Pengakuan atas Kesatuan, atau Keesaan, atau tunggal-Nya Tuhan dan nama-Nya ialah Allah, kepercayaan itulah yang dinamai Tauhid. Berarti menyusun fikiran yang suci murni, tulus ikhlas bahwa tidak mungkin Tuhan itu lebih dari satu. Sebab pusat kepercayaan di dalam pertimbangan akal yang sihat dan berfikir teratur hanya sampai kepada Satu.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sumber sandaran gerak laku dan langkah. Sebagai hamba Tuhan, kesadaran bahwa Tuhan itu Esa, seyogianya memunculkan kesadaran yang sesadar-sadarnya bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tidak akan ke mana-mana. Maka gerak laku lampah kita, seluruhnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik. Baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia dan alam semesta. Tidak terkecuali.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang faktanya dihadapkan pada keragaman etnis, agama, golongan, maupun budaya, maka menghormati orang lain yang berbeda adalah pancaran nilai-nilai Ketuhanan. Karena pada dasarnya dan senyatanya, semua yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya. Keharmonisan hubungan antar manusia, antar warga negara, tentu jangan berhenti pada tataran lahiriah semata, namun harus menusuk sampai ke batin. Nilai-nilai Ketuhanan harus memancar dalam seluruh aspek kehidupan.

Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami sudut Islam sebagai Tauhid, adalah sebagai dasar moral sedangkan tujuannya adalah Keadilan Sosial. Membaca pendapat Cak Nur, maka dapat dimaknai bahwa jika yang terjadi “Ketidakadilan Sosial” maka sesungguhnya “belum bertuhan” secara benar. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Pada sisi lain, Yudi Latif (2011) berpendapat bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa ialah ketuhanan yang tidak hanya mengusahakan kehidupan bersama yang lebih baik melalui pancaran cahaya agama, namun sekaligus juga penghormatan terhadap eksistensi agama-agama yang lain.

Ahmad Tafsir (1982) menyatakan bahwa sesungguhnya Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah core Pancasila. Atas dasar itulah, Maneger Nasution (2015) menegaskan bahwa bila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah core Pancasila, (dan memang ya), maka seluruh turunannya (UUD 1945, UU, PP, SKM, JUKNIS) haruslah menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai core.

Beberapa pandangan di atas tentu buah dari pengkhidmatan yang mendalam atas “tafsir” Pancasila, khususnya sila pertama yang menjadi “titik berangkat” bagi sila-sila selanjutnya. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi penerang bagi terciptanya kehidupan kemanusiaan yang penuh keadaban, juga kehidupan yang “menyatu” dalam bingkai Indonesia, bagi pemufakatan kebajikan, dan terwujudnya keadilan sosial. Jiwa Pancasila akan melahirkan hikmah dan kebijaksanaan. Jiwa ini pun tak akan berhenti berjuang untuk menggapai keadilan sosial.        

Dalam sebuah kursus Pancasila tentang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Bung Karno memberikan kalimat penutup,  “... Dan formulering Tuhan Yang Esa bisa diterima oleh semua golongan agama di Indonesia ini. Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leidstar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah menjadi Leidstar yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu Leidstar dinamis menuntut kepada kita supaya elemen Ketuhanan ini dimasukkan. Dan itulah sebabnya maka di dalam Pancasila elemen Ketuhanan ini dimasukan dengan nyata dan tegas.”

Bung Karno menempatkan Ketuhanan sebagai Leidstar, Bintang Pemimpin. Jika sila Ketuhanan diabaikan, ditiadakan, maka hilanglah Pancaran Utama itu. Kepercayaan kepada Tuhan, tiada lain hanya untuk mengejar kebajikan, untuk menemukan keutamaan.

Bung Karno dan para pendahulu negeri ini berpikir jauh ke depan, menembus batas keraguan, dengan tegas membalut-mengikat sila-sila Pancasila dengan nilai-nilai Ketuhanan. Atas dasar itulah, maka tiada tempat di Indonesia bagi warga bangsa yang dirinya mengaku tidak bertuhan!

Sutia Budi
Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Direktur Riset Global Base Review, Fungsionaris FOKAL IMM​


Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama
Pesan SBY Untuk AHY

Pesan SBY Untuk AHY

, 24 JUNI 2017 , 10:00:00

Khutbah di Lapangan Gajah Mada

Khutbah di Lapangan Gajah Mada

, 25 JUNI 2017 , 19:31:00

Lebaran Markas Kostrad

Lebaran Markas Kostrad

, 26 JUNI 2017 , 13:51:00

Bicara di <i>Open House</i>

Bicara di Open House

, 25 JUNI 2017 , 21:52:00