Verified

Ironi Di Balik Lancarnya Arus Mudik

Suara Publik  KAMIS, 13 JULI 2017 , 09:45:00 WIB

DALAM beberapa kesempatan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa arus mudik 2017 dapat berjalan lancar karena kinerja aparat pemerintahan yang sigap dalam menyiapkan dan mengawal jalannya arus mudik.

Di antara yang dibanggakan adalah keberanian memfungsikan tol Brexit - Gringsing sehingga tidak terjadi kemacetan parah, sebagaimana yang terjadi dalam arus mudik 2016.

Pernyataan Menteri Perhubungan diikuti luapan kegembiraan berlebihan dari pendukung fanatik Presiden Jokowi, yang diantaranya menorehkan pernyataan bernada provokatif yakni 'baru di era Jokowi mudik dapat berjalan lancar', kemudian juga disebar ucapan 'terima kasih Jokowi' sebagai simbol untuk mempertegas bahwa kelancaran mudik ini benar-benar merupakan buah dari kerja keras pemerintahan Jokowi.

Namun pernyataan Menteri Perhubungan hanya didasari sepenggal fakta saja yaitu arus mudik yang berjalan lancar tanpa ada kemacetan yang berarti. Namun, fakta-fakta lainnya tidak dikemukakan secara mencolok. Padahal fakta-fakta tersebut sangat penting untuk membaca kondisi arus mudik secara keseluruhan, bahkan lebih dari itu bisa untuk memotret kondisi kesejahteraan rakyat di bawah pemerintahan Jokowi.

Mestinya, data adanya penurunan jumlah pemudik juga harus dikemukakan secara gamblang sebagaimana saat menyampaikan bahwa arus mudik berjalan lancar tidak ada kemacetan sebagaimana tahun lalu, agar publik mengetahui bahwa tahun ini jumlah pemudik mengalami penurunan. Dari data Kementerian Perhubungan didapatkan bahwa sejak H-10 hingga H+10 jumlah pemudik 2017 mencapai 21.978.102 orang, angka tersebut turun bila dibandingkan dengan tahun 2016 yang mencapai 22.270.115 orang. Artinya ada penurunan 292.013 orang atau sekitar 1,3 persen. Padahal sebelumnya pemerintah memprediksi bakal ada kenaikan sebesar 4,8 persen, kenyataanya yang terjadi adalah penurunan.

Bahkan, acara mudik gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan juga kekurangan peminat. Mudik bareng dengan moda kereta api menyisakan bangku kosong sebanyak 1.000 bangku. Kondisi lebih parah terjadi pada mudik gratis dengan moda kapal laut, hanya terisi 60 persen dari kapasitas yang disediakan. KM Dobonsolo yang mampu mengangkut 1.250 sepeda motor, pada pemberangkatan 17 Juni 2017, dengan rute Tanjung Priok Jakarta - Tanjung Emas Semarang, hanya mengangkut 113 sepeda motor saja, sangat jauh dari harapan.

Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa banyak rakyat yang tahun lalu bisa merayakan lebaran di kampung halaman, tetapi tahun ini tidak bisa mudik. Melihat begitu banyaknya rakyat yang tidak bisa mudik mestinya menjadi perhatian pemerintah untuk mencari tahu apa penyebab rakyat tidak bisa mudik. Namun sayangnya pemerintah lebih bersemangat mengumumkan bahwa mudik berjalan lancar dan menjadikannya sebagai kampanye pencitraan.

Padahal bila diamati secara seksama akan dengan mudah didapat penyebab menurunnya jumlah pemudik. Indikator ke arah situ sudah disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani yang menyatakan bahwa hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat pada Lebaran tahun ini. Sehinnga penjualan berbagai produk jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Produk batik, misalnya, mengalami penurunan hingga 20 persen, yang menurut para pengusaha batik, penurunan yang paling parah untuk pertama kalinya.

Dari pernyataan Ketua Apindo tersebut dapat ditarik benang merah bahwa telah terjadi penurunan daya beli masyarakat. Fakta tersebut telah menjawab analisis yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif  Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati bahwa kenaikan TDL telah menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat dan juga telah mengerek angka inflasi hingga mencapai 0,69% pada Juni 2017. Jadi, kebijakan kenaikan TDL lah yang menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat yang kemudian berdampak terhadap menurunnya jumlah pemudik, yang kemudian menyebabkan arus mudik menjadi lancar sebagaimana yang diklaim oleh pemerintah.

Selain kenaikan TDL, sebetulnya ada faktor lagi yang menyebabkan jumlah pemudik mengalami penurunan, yakni waktu mudik yang hampir berbarengan dengan tahun ajaran baru. Bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah tentu akan membutuhkan dana yang cukup untuk biaya anak sekolah. Jika daya belinya menurun maka akan dihadapkan pada dua pilihan yakni membiayai anak sekolah atau mudik. Dan sudah bisa dipastikan mayoritas orang tua akan mendahulukan pendidikan anak dibanding melakukan mudik.

Oleh karena itu, lancarnya arus mudik jangan lantas menjadikan pemerintah berbesar hati. Memang harus diakui juga, bahwa persiapan pemerintah, kerja aparat di lapangan, dan juga pembangunan infrastruktur, turut andil dalam memperlancar arus mudik 2017. Namun ada fakta bahwa terjadi penurunan jumlah pemudik juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Ironi di balik lancarnya arus mudik adalah daya beli masyarakat yang menurun karena dampak kenaikan TDL, sehingga bagi rakyat yang penghasilannya pas-pasan memilih untuk tidak mudik. Tugas pemerintah lah untuk segera memperbaiki daya beli masyarakat agar bisa segera pulih seperti sedia kala.[***]



Moh. Nizar Zahro

Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00