Rita Widyasari

Fundamentalis 'Kulit Putih', Ancam Pluralisme Amerika

Trump Pecat Pembantu Terdekatnya

Catatan Tengah  SABTU, 19 AGUSTUS 2017 , 12:46:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

Fundamentalis 'Kulit Putih', Ancam Pluralisme Amerika

Donald Trump-Steve Bannon /Net

STEVE Bannon, Penasehat Strategis Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dipecat.

Pemecatan terjadi Jumat siang waktu Washington atau Sabtu dinihari 19 Agustus 2017 Waktu Indonesia Barat.

Pemecatan Steve Bannon terkait maraknya aksi rasialis di negara tersebut. Aksi protes menyuarakan bahwa yang boleh 'berkuasa' di negara itu hanya orang kulit putih asli atau "white supremacy", dalam satu minggu terakhir ini.

Steve Bannon sendiri dianggap sebagai konseptor utama kebijakan rasialis di balik pemerintahan Donald Trump.

Kebijakan dimaksud, mengembalikan kejayaaan Amerika Serikat. Namun dalam terjemahannya menjadi Amerika yang anti warga kulit hitam, kulit berwarna lainnya dan anti-Islam.

Aksi rasialis berawal dari Kota Charlottesville, kota tempat kelahiran dua Presiden terdahulu Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan James Monroe.

Mereka yang memprotes terdiri dari "ormas" Klu Klux Klan (KKK) dan Nazi Baru serta yang orang kulit putih asli yang lahir di tanah Amerika.

Sementara Steve Bannon, dikenal sebagai orang yang sangat berperan dan berpengaruh di balik semua kebijakan Donald yang anti-Islam dan kulit berwarna (hitam, sawo matang sepeti Indonesia) dan ras Yahudi.

Sejauh yang bisa ditasirkan dari "Breaking News" CNN, pemecatan Steve Bannon, mendapat sambutan positif dari masyarakat Amerika.

Hal ini tercermin dari reaksi tokoh-tokoh Partai Republik, partai pemerintah atau yang mendukung Donald Trump, apalagi dari kalangan Partai Demokrat.

Disambut positif, sebab Steve Bannon dikenal orang pertama yang direkrut oleh Donald Trump sebagai anggota 'kabinet'nya. Dan selama tujuh bulan Trump menjadi Presiden, pemerintahannya tak pernah sepi dari berbagai krisis.

Krisis terakhir, ketika Amerika - Korea Utara terlibat dalam 'perang urat syaraf'. Dalam krisis ini Presiden Kim Jong-Un (34 tahun) mengancam akan menghancurkan Guam, salah satu wilayah Amerika di gugus kepulauan Sumadera Pasifik.

Setelah hampir semua pakar diplomasi Amerika turun tangan, Korut akhirnya membatalkan ancaman tersebut.

Tetapi hal ini tetap menyisakan kritik, bahwa semua krisis di pemerintahan Trump, disebabkan oleh "pembisik" berpengaruh Steve Bannon.

Yang mengejutkan, setelah Bannon dipecat, dia langsung kembali bekerja untuk "Breidbart", media online. Media yang selama ini dia jadikan sebagai alat perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Amerika.

Wawancara pertamanya dengan The Weekly Standard, dikutip CNN sebagai mengatakan bahwa 'Kepresidenan Donald Trump Sudah Berakhir'.

Hal mana semakin menguatkan kesimpulan, selama ini Steve Bannon merasa yang paling mempengaruhi semua kebijakan Donald Trump.

Hari-hari mendatang merupakan momen menarik untuk melihat bagaimana nasib Donald Trump sebagai Presiden. Apakah akan semakin kuat atau melemah.

Setidaknya sudah tiga orang yang terpental dari Kabinet Trump selama berkuasa 7 bulan,

Mereka adalah Direktur FBI James Comey, Jubir Gedung Putih Sean Spicer dan Steve Bannon. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

, 26 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

, 26 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00