Rita Widyasari

Literasi Dan Nalar Kritis Kaum Muda

Suara Publik  RABU, 13 SEPTEMBER 2017 , 13:35:00 WIB

Literasi Dan Nalar Kritis Kaum Muda

Asep Solahuddin/Dok

SITUASI nasional masih belum bisa beranjak dari persoalan ‘hoax’. Kehebohan itu terus-menerus mengguyur negeri ini. Terakhir kali adalah tertangkapnya kelompok saracen yang dianggap menebar ‘hoax’ dan kebencian. Kasus saracen menjadi pintu masuk ke berbagai jejaring lainnya dan mengungkap satu demi satu orang-orang yang terlibat dengan kelompok ini.

Tetapi yang menarik di panggung ILC TV One beberapa hari yang lalu, ‘hoax’ tidak semata-mata didudukkan dalam posisi yang terus-menerus negatif dan dihujat. Salah seorang anggota forum itu, Rocky Gerung, Dosen di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) justru meletakkan ‘hoax’ sebagai batu penguji daya nalar kritis publik. Dia mengupas cerita Alan Sokal seorang Profesor Fisika di Universitas New York.

Pandangan ini tentu saja terus-menerus mengundang perdebatan. Hoax ala Saracen atau Alan Sokal tidaklah bisa begitu saja disamakan. Apa yang diproduksi oleh Saracen bukan sekedar hoax dalam pengertian yang bisa diperoleh dari cerita Alan Sokal. Hoax Saracen membahayakan karena menerbitkan kebencian. Begitulah perdebatan terus mengalir antara yang pro dan yang kontra pendapat Rocky Gerung.
Tapi satu hal yang bisa ditangkap dari Rocky Gerung, dia mengatakan bahwa salah satu upaya untuk mencegah hoax adalah dengan meningkatkan nalar kritis kita. Ungkapan itu dengan tegas meminta publik agar mengaktifkan akal sehat dalam menanggapi berbagai isu atau pemberitaan yang tidak jelas kebenarannya alias hoax.

Nalar kritis memungkinkan seseorang terhindar dari berbagai ‘hoax’ yang diproduksi oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Publik – dengan nalar kritis – tentu berhati-hati menerima segala pemberitaan. Dan apa yang ditawarkan oleh Rocky Gerung adalah langkah yang lebih sederhana: ia hanya meminta kita semua menjadi manusia yang benar-benar menggunakan akal sehat kita. Ia meminta kita untuk benar-benar mengaktifkan kesejatian kita sebagai ‘hewan yang berfikir’. Tawaran ini sangat penting karena justru membuat kita menjadi manusia yang jernih menyaring segala informasi.

Tingkatkan nalar kritis anda. Maka hoax dengan sendirinya kehilangan taringnya.

Kemampuan bernalar secara kritis tentu tidak bisa diharapkan bisa dilakukan  oleh semua orang meskipun itu mungkin. Tetapi kaum muda haruslah memiliki nalar kritis ini. Beberapa pertimbangan. Pertama, kaum muda dalam sejarah bangsa selalu merupakan orang-orang yang penting bagi gerak perubahan dan kemajuan bangsanya. Kaum muda selalu tampil dalam medan-medan yang penting. Pramoedya Ananta Toer mengatakan: “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.”

Di tempat-tempat lain, orang-orang bijak sering menyitir kata-kata ini: “Pemuda adalah harapan hari esok.” Ungkapan ini bukan sekedar kata-kata klise. Tetapi kenyataannya kaum muda dibutuhkan bagi masa depan sebuah bangsa. Untuk itu, dalam kaitannya ‘hoax’ atau berbagai pemberitaan yang sarat kebencian yang berpotensi merusak meretakkan kehidupan bangsa ini di masa kini dan masa depan, seorang pemuda mestilah tampil tidak dalam selimut pengetahuan yang dangkal. Kecenderungan umum sebagai akibat dari pengaruh pemberitaan hoax yang diamini oleh banyak orang mestilah dapat dihindari oleh kaum muda.

Menjadi harapan bangsa masa kini dan masa depan merupakan tanggung jawab dan beban yang mesti dipikul oleh orang-orang yang memiliki kejernihan dan tingkat nalar kritis yang baik. Sekali lagi, mereka tak boleh mengikuti kecenderungan umum yang disebabkan oleh berbagai isu atau pemberitaan hoax. Mereka harus tampil menjernihkan melalui kemampuan bernalar yang kritis. Merekalah yang mesti tampil menjernihkannya, di samping pula orang-orang yang berakal sehat lainnya.

Pertimbangan yang lain: kaum muda rata-rata memiliki kesempatan pendidikan yang jauh lebih banyak ketimbang generasi-generasi tua. Kesempatan ini mestilah digunakan sebaik-baiknya demi menjadi manusia-manusia yang mampu berfikir dan melihat terang masa depan dengan sikap objektif. Kaum muda memiliki kesempatan lebih besar diterangi cerahnya ilmu pengetahuan. Mereka memiliki obor ilmu pengetahuan untuk melewati lorong gelap – sebagai akibat merebaknya ‘hoax’ yang membingungkan – menuju masa depan. Dan karena itulah, kepada mereka, di pundak mereka, harapan-harapan bangsa ini diberikan.

Dan untuk itu, bagaimana menghidupkan nalar kritis?
Kita mempercayai nalar (reason) dapat hidup dan berkembang dalam suasana dimana pikiran diberi ruang dan mau mengakses ilmu pengetahuan. Nalar kritis bisa tumbuh subur dalam suatu ruang lingkup kebudayaan ‘literasi’. Apa itu literasi? Dikutip dari Education for All Global Monitoring Report (2006: 148): dalam sejarahnya di Inggris, kata ‘literate’ itu bermakna ‘akrab dengan literatur’ atau ‘terdidik/terpelajar’. Baru setelah abad ke-19, pengertian itu berkembang: pengertian ‘literasi’ mencakup pula “kemampuan membaca dan menulis” (the ability to read and write). Belakangan, pengertian yang terakhir ini jauh lebih lumrah kita temukan di dalam kamus, semisal Oxford.

Kebudayaan baca-tulis atau disebut pula ‘literasi’ adalah rumah penting bagi bersemainya nalar kritis. Utamanya kaum muda, mereka perlu hidup dalam gelimang cinta yang besar kepada kebudayaan ‘literasi’. Mereka mesti mencintai (membaca) buku-buku atau literatur. Melaluinya, mereka bisa berjumpa dengan sebuah pikiran yang jenius, fakta-fakta yang (terverifikasi) ilmiah, atau pengetahuan lainnya.
Tentu saja sebuah buku bukanlah sebuah firman Tuhan: fakta-fakta atau pikiran-pikiran di dalamnya dapat dibantah. Budaya literasi tidak mempraktikkan perilaku dogmatis: literatur menawarkan bacaan yang tak boleh dibantah dan hanya perlu didengar dan diikuti. Tidak. Ia hanya meminta kita untuk membaca, berdialog dengan bacaan, menggugah pikiran sendiri secara aktif dan pada akhirnya dirangsang untuk mengungkapkan pikiran sendiri, melalui lisan atau (terutama) tulisan. Sebuah keterbukaan pikiran, sebuah dialog antara pembaca dan bacaan, mengalir perlahan.

Para pendiri bangsa adalah orang-orang yang tak segan berdialog dengan tulisan. Kesadaran dan pergerakan nasional tidak terjadi begitu saja tanpa digugah buku-buku bacaan. Mungkin saja kemerdekaan tak pernah bisa diraih. Mungkin saja hingga kini kemerdekaan masih berupa ‘mimpi’ yang letih. Tapi kesadaran literasi telah mengubah segalanya: takdir kemerdekaan benar-benar menjadi kenyataan di tangan-tangan orang-orang yang tercerahkan secara pengetahuan. Maka alangkah disayangkannya bila kaum muda, harapan masa depan, kehilangan gairah membaca sebuah dialog dengan bacaan dan tulisan.[***]


Asep Solahuddin

Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HMI 2016-2018



Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
100%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

, 26 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

, 26 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00