Rita Widyasari

Pengusaha Dukung Penataan Manajemen Perberasan

Kementerian Pertanian  RABU, 13 SEPTEMBER 2017 , 19:18:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

Pengusaha Dukung Penataan Manajemen Perberasan

Net

RMOL. Pemerintah secara efektif akan memberlakukan harga eceran tertinggi (HET) beras mulai 18 September mendatang. Dukungan terhadap kebijakan tersebut datang diantaranya dari Ketua DPD Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) DKI Jakarta Nellys Soekidi.

Menurutnya, kebijakan perlu dilihat sebagai semangat pemerintah untuk menata manajemen perberasan sehingga berkeadilan, baik bagi petani, pedagang, dan konsumen.

"Bicara beras tidak bisa sepotong-potong, harus dari hulu ke hilir. Kalau harga terlalu tinggi kasihan konsumen. Sedangkan kalau harga terlalu rendah kasihan petani. Semua harus ada batasannya. Kalau tidak ada HET bisa dibayangkan berapa harga beras pasaran. Tidak akan ada batasan di langit," jelas Nellys saat jumpa pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta (Rabu, 13/9).

Berdasarkan data di lapangan, Nellys mengungkapkan pasokan ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih dalam kondisi normal, dengan kisaran sekitar 40 ribu ton per hari. Pasokan beras medium ke pasar induk diakuinya memang menurun sekitar 15-20 persen tapi hal ini masih dinilai wajar. Pada masa panen di bulan September hingga November atau sering disebut sebagai masa panen apitan, produksi padi memang cenderung menurun tapi beras yang dihasilkan berkualitas baik. Dengan kondisi seperti ini, dia berharap Bulog bisa menghentikan pengadaan beras dan meningkatkan pemantauan.

"Kalau di masa panen apitan yang produksi beras cenderung turun idealnya Bulog tidak perlu melakukan pengadaan. Biarkan hasil panen mengalir ke pasar sehingga harga pasar tetap normal, baik medium maupun premium. Biarkan HET efektif dengan sendirinya. Tapi Bulog harus terus memantau untuk memastikan bahwa harga masih terkendali. Kalau harga mulai naik, Bulog memiliki tanggung jawab sosial untuk melakukan operasi pasar," jelas pria yang sehari-hari menjadi pelaku usaha di PIBC.

Pergerakan harga beras medium di pasar induk juga dinilai masih dalam kisaran normal. Hingga saat ini harga beras medium berada di kisaran Rp 8.000 - Rp 9.000 per kilogram.

"Sejauh ini masih dalam range stabil. Pedagang beras itu kalau naik 200-300 rupiah masih masuk kategori normal. Tapi kalau ada kenaikan 400-500 secara terus menerus baru bisa disebut ada kenaikan," ujarnya.

Tren harga beras akan berubah jelang masa panen raya. Harga beras diprediksinya akan turun.

"Kalau bulan November hujan, berarti panen raya bisa dipastikan terjadi pada bulan Februari sampai dengan April. Kalau itu yang terjadi, saatnya Bulog masuk pengadaan, dan sebagian masuk ke pasar. Kalau tanah sudah kena hujan, sudah pasti semuanya panen," beber Nellys.

Harga di tingkat eceran juga seharusnya tidak berbeda jauh dengan harga di tingkat grosir.

"Jika saya di grosir jual Rp 10 ribu saja maka harga eceran di Jakarta berarti ditambah Rp 200 jadi Rp 10.200. Kalau antar pulau, Kalimantan misalnya, berarti tambah Rp 500," papar Nellys.

Kemendag menetapkan HET beras berdasarkan zonasi. Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB dan Sulawesi dianggap sebagai wilayah produsen beras. Sehingga di wilayah-wilayah tersebut harga beras medium yang ditetapkan Rp 9.450 per kilogram dan premium Rp 12.800 per kilogram. Sementara untuk wilayah lainnya yang membutuhkan ongkos transportasi lebih, harga tersebut ditambah Rp 500.

Dengan adanya pemberlakuan HET untuk tiga kategori beras yang berbeda, yaitu medium, premium, dan khusus, muncul kekhawatiran beberapa pihak bahwa akan terjadi perembesan dari beras kategori medium ke premium. Tapi Nellys menilai meskipun hal ini mungkin terjadi, tapi akan sangat sulit untuk dilakukan.

"Untuk membuat medium ke premium itu tidak akan mudah, akan butuh peralatan canggih. Karena yang dilihat dari premium itu bukan hanya tingkat broken, tapi juga derajat sosoh," ungkap Nellys.

Pada kesempatan sama, Plt. Kabiro Humas dan Informasi Publik Kementan Suwandi menyebut kebijakan HET ditetapkan atas masukan berbagai pihak, termasuk stakeholder. Kementan turut memberikan masukan, diantaranya dalam hal spesifikasi beras.

"Kemendag intensif berkoordinasinya. Sekarang sudah masuk tahapan sosialisasi ke semua pihak sehingga nanti diharapkan peraturan bisa dipatuhi dengan harapan konsumen bisa menikmati harga yang lebih murah dibandingkan selama ini," jelas Suwandi.

Pria yang juga menjabat kepala Pusdatin Kementan itu menegaskan bahwa kebijakan HET tidak akan berdampak kepada harga di petani karena pemerintah sudah menetapkan Harga Pokok Pembelian (HPP) gabah dan beras di tingkat petani dan produsen, ditambah fleksibiltas harga 10 persen.

"Dengan penetapan kebijakan HPP dan HET beras ini membuktikan pemerintah hadir untuk melindungi petani dan konsumen. Serta menjaga pedagang supaya eksis dengan normal profit," demikian Suwandi. [wah] 

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

BPJS Berpotensi Defisit Rp 9 Triliun

, 26 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

Gatot Dicopot, Ketegangan Politik Meningkat

, 26 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00