Verified

Jadi Lumbung Ternak, Sulsel Diminta Optimalkan Sumber Daya Lokal

Kementerian Pertanian  SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 , 22:30:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

RMOL. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani asal ternak serta meningkatkan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyampaikan, pentingnya pemanfaatan sumberdaya lokal mempercepat peningkatan populasi ternak di dalam negeri.

Hal tersebut disampaikannya pada saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Peternakan III Dies Natalis ke-61 di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar, 18-19 September 2017.

Seminar dengan tema 'Optimalisasi Sumberdaya Lokal pada Peternakan Rakyat Dalam mendukung Program Peternakan Berkelanjutan' dihadiri oleh akademisi, praktisi, pemerintah dan stakeholder peternakan. Peserta seminar terdiri dari pemakalah sebanyak 74 judul yang berasal dari 23 institusi yang tersebar dari seluruh Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Ketut memaparkan materi dengan judul: Kebijakan dan Program Pengelolaan Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) Nasional. I Ketut Diarmita menyampaikan kepada peserta Seminar agar Provinsi Sulawesi Selatan dapat mengembangkan dan melestarikan SDGH (Sumber Daya Genetik Hewan) yang sudah ditetapkan sebagai rumpun galur ternak.

"Saat ini UPT Pusat dan UPTD ada beberapa yang sudah mengembangkan dan melestarikan SDGH yang sudah ditetapkan sebagai rumpun galur ternak," katanya.

Ketut menyampaikan, untuk mengembangkan dan menjaga pelestarian plasma nutfah atau SDGH Menteri Pertanian sampai saat ini sudah menetapkan 20 wilayah sumber bibit.

"Kabupaten Barru di Provinsi Sulsel merupakan salah satu wilayah sumber bibit untuk sapi Bali dan telah ditetapkan melalui Kepmentan Nomor 4437/Kpts/SR 120/7/2013 Tanggal 1 Juli 2013," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, tujuan pewilayahan sumber bibit antara lain untuk membentuk wilayah/daerah pemurnian ternak asli/lokal Indonesia, sehingga ternak asli/lokal Indonesia dapat lestari, mewujudkan dan menjamin ketersediaan bibit ternak baik secara jumlah maupun mutu.

"Pemanfaatan sumberdaya lokal ini penting, terutama untuk mendukung peningkatan populasi dan mutu genetik guna pemenuhan kebutuhan pangan hewani asal ternak, sehingga Indonesia memiliki daya saing dalam menghadapi MEA”, kata I Ketut Diarmita. “Untuk itu, dalam pengembangan usaha peternakan, kita perlu mengoptimalkan ternak lokal dengan memanfaatkan segenap potensi lokal yang ada yaitu lahan, pakan, teknologi, keswan dan kesmavet," beber Ketut.

Dia menyampaikan, kebijakan pengembangan sapi saat ini adalah untuk peningkatan populasi, sehingga share produksi daging lokal meningkat, diiringi dengan meningkatnya kemampuan ekspor dan bertambahnya usaha sapi berskala usaha komersil.

"Untuk itu perlu merubah pola peternakan rakyat dari yang semula hanya sebagai usaha sambilan menjadi usaha pokok," ujar Ketut.

Pondasi untuk menuju swasembada daging sapi tahun 2022 yaitu dengan percepatan peningkatan populasi sapi khususnya jumlah indukan sapi sebagai basis sumber produksi melalui impor indukan, penguatan ternak lokal dengan inseminasi buatan dan kawin alam, penguatan UPT Perbibitan dengan menghasilkan bibit sapi/kerbau yang berkualitas, serta menekan jumlah pemotongan betina produktif. Selain itu juga Pemerintah mendorong investor swasta untuk menginvestasikan modalnya di dunia peternakan dalam skala besar.

"Untuk itu, Provinsi Sulawesi Selatan ke depan diharapkan dapat menjadi lumbung ternak dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki. Kita berharap ke depan Pulau Sulawesi menjadi lumbung ternak lokal baik untuk ternak ruminansia maupun unggas, sehingga bisa menjadi penopang bagi negara-negara tetangga seperti Filipina, Papua Nugini dan Timor Leste," jelas Ketut. 

Menurutnya, sesuai Rencana Kerja 2018 Ditjen PKH akan membuat instalasi  pengembangan ternak seluas 1 juta hektare di berbagai lokasi seperti Sulsel, Sulteng, Sulbar, Kalsel dan Jayapura.

"Untuk itu, diminta kepada masing-masing pemda untuk mempersiapkan 1.200 hektare (1000 hektare pastura dan 200 hektare Hijauan Pakan Ternak untuk rumput dan leguminosa)," imbau Ketut.

"Apabila instalasi pengembangan ternak ini dikembangkangkan menyerupai BPTU HPT Padang Mangatas, dan memperoleh pengawasan dari UPT Pusat maupun UPTD, maka  diharapkan 10 tahun ke depan Indonesia bisa menyaingi negara lain. Kunci keberhasilan dalam usaha peternakan, sedangkan prinsip dalam pengembangan usaha peternakan," tambahnya.

Lanjut Ketut, rencana pemerintah akan mengadakan penambahan indukan impor pada 2018 sebanyak 15 ribu ekor dan akan didistribusikan ke tujuh UPT perbibitan pusat dan UPTD. UPT tersebut diharapkan dapat menggembangkan sapi impor dan hasil anakannya akan didistribusi ke kelompok.

"Saya berharap Sulawesi Selatan bisa berkembang peternakannya dan memiliki UPTD perbibitan seperti BPTU Padang Mangatas. Hal ini tentunya dapat memanfaatkan dari dukungan aspek geografis, budaya dan ekonomi yang dimiliki. Dengan pemanfaatan sumber daya lokal tersebut, kita harapkan akan dapat mendukung percepatan peningkatan pasokan daging sapi di dalam negeri, sehingga Indonesia dapat mengurangi impor dan tidak ketergantungan dengan negara lain," demikian Ketut. [wah]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Panglima TNI Dipermalukan!

Panglima TNI Dipermalukan!

, 23 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Melihat Lebih Luas Konflik Semenanjung Korea
Bahas Wacana Densus Tipikor

Bahas Wacana Densus Tipikor

, 22 OKTOBER 2017 , 00:25:00

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

, 22 OKTOBER 2017 , 01:33:00

Rider Photo Challenge

Rider Photo Challenge

, 22 OKTOBER 2017 , 21:09:00