Hanura

BKP Kementan Dan Pemprov Sulut Gencarkan Gerakan Makan Tanpa Nasi

Kementerian Pertanian  JUM'AT, 22 SEPTEMBER 2017 , 11:44:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

BKP Kementan Dan Pemprov Sulut Gencarkan Gerakan Makan Tanpa Nasi

Foto/Net

RMOL. Potensi pangan lokal yang berlimpah di Sulawesi Utara (Sulut) perlu dikenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pangan sumber karbohidrat. Inilah yang mendasari kerjasama Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian dengan Dinas Pangan Daerah Pemprov Sulut menggelar kembali Gerakan Penganekaragaman Pangan melalui Gerakan Makan Tanpa Nasi (Gentanasi) di Graha Bumi Beringin, Manado, Jumat (22/9).

Gentanasi bukan berarti tidak makan nasi sama sekali melainkan dalam satu minggu mengganti satu kali waktu makan dalam sehari dengan pangan lokal di luar nasi.

Ketua Tim Penggerak PKK Sulut Rita Dondokambey Tamuntuan mengatakan kegiatan Gentanasi diharapkan dapat meningkatkan kreasi menu pangan lokal berbahan dasar selain beras dan terigu seperti pisang, ubi, jagung dan sagu.

"Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya terhadap beras, tetapi menggantinya dengan kearifan lokal yang kita miliki. Untuk itu saya harapkan para ibu dapat mengkreasikan menu pangan lebih beragam dan bergizi," kata Rita.

Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi dalam sambutan yang dibacakan Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Tri Agustin Satriani menyatakan bahwa upaya percepatan diversifikasi pangan sangat penting dilaksanakan, mengingat pola konsumsi pangan penduduk Indonesia belum beragam dari jenis pangan dan keseimbangan gizinya.

"Upaya menurunkan konsumsi beras dan terigu harus diikuti dengan penyediaan pangan karbohidrat dari pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi jalar, sukun, ganyong, pisang dan sebagainya" lanjut Agung.

Menurutnya salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mengembangkan pola konsumsi beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

Sedangkan Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw yang ada dalam acara itu mengatakan Gentanasi merupakan program yang berdampak positif dalam mengurangi ketergantungan masyakat terhadap nasi.

"Melalui Gentanasi, ketergantungan masyarakat terhadap beras bisa dikurangi, karena di Sulawesi Utara  sumber pangan pokoknya berasal dari umbi-umbian. Untuk itu program ini harus terus digencarkan," katanya.

Salah satu kearifan lokal yang sedang dikembangkan adalah pisang Goroho yaitu pisang khas sebagai sumber makanan masyarakat Minahasa sejak jaman dahulu. Selain itu, di Kepulauan Sangihe terdapat Sagu, yang dibiarkan tumbuh tanpa perawatan dan perhatian, ternyata merupakan makanan lezat dengan kandungan gizi cukup tinggi dan dapat dijadikan sebagai makanan bergizi bagi masyarakat.

Sedangkan di Minahasa dan Minahasa Selatan terdapat pangan lokal jagung yang diolah menjadi beras milu (beras jagung) dan sinduka (tepung jagung), yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Untuk diketahui, agar lebih membumikan Gentanasi di masyarakat dilakukan penandatanganan kesepakatan (MoU) dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulut dalam penyediaan menu di hotel dan restoran yang mengoptimalkan bahan baku pangan lokal sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras dan terigu.

Acara Gentanasi ini untuk memperingati HUT Sulut ke 53, dengan mengelar Lomba Festival Pangan Non Beras dan Non Terigu yang diikuti ibu-ibu TP PKK se Sulut. [rus]

Komentar Pembaca
Nongkrong Politik, Semua Bisa Bicara

Nongkrong Politik, Semua Bisa Bicara

, 21 FEBRUARI 2018 , 10:00:00

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

, 20 FEBRUARI 2018 , 15:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

RR Dikawal Cakra Buana

RR Dikawal Cakra Buana

, 16 FEBRUARI 2018 , 13:26:00