Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (112)

Mendalami Sila Kelima: Cara Nabi Memperjuangkan Keadilan Sosial

Tau-Litik  RABU, 29 NOVEMBER 2017 , 09:24:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mendalami Sila Kelima: Cara Nabi Memperjuangkan Keadilan Sosial

Nasaruddin Umar/Net

JIKA yang dimaksud keadi­lan sosial ialah memberikan jatah menurut jasa, maka Nabi sudah lama telah men­erapkannya. Pemberdayaan masyarakat melalui pengua­tan civil society (masyarakat madani) seperti jaminan hak bicara dan memilih anggota masyarakat civil secara luas, maka sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Masyarakat madani (civil society) yang dibangun di Madinah mengesankan para ilmuan modern. Tidak kurang seperti M. Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai The Best di antara 100 tokoh yang pernah lahir di muka bumi ini. Thomas Carlile membatasi hanya 13 tokoh dunia dalam lintasan sejarah dan tetap menempatkan Nabi Muham­mad sebagai ranking teratas. Beberapa lagi tokoh manajmen menempatkan Nabi Muhammad seba­gai The Best Leader & The Best Manager.

Banyak sekali contoh yang ditampilkan para orientalis tersebut di dalam mendukung kesimpulannya. Suatu ketika tawanan Perang Badr da­lam jumlah besar ditahan di Masjid Nabi. Mereka tentu perlu makan dan minum serta memenuhi kebutuhan asasi mereka seperti buang hajat dan lain-lain. Nabi mengundang para sahabatnya ra­pat membicarakan hal ini. Umar berpendapat se­baiknya kita menggunakan hukum perang tradisi Arab, laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak. Abu Bakar tidak setuju kare­na di antara mereka banyak sekali yang memi­liki keahlian dan keterampilan. Abu Bakar men­gusulkan agar mereka tidak perlu dibunuh tetapi diminta mengajarkan keahlian dan keterampi­lan mereka kepada masyarakat Madinah yang masih banyak buta keterampilan.

Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar dan me­minta sahabat Nabi untuk mengidentifikasi tawa­nan perang berdasarkan keahlian dan keterampi­lan yang dimilikinya. Kemudian Nabi meminta dikumpulkan kelompok belajar maksimum 20 orang setiap kelas dari warga Madinah, baik laki-laki maupun perempuan untuk diajar oleh mereka. Tawanan perempuan yang memiliki keahlian salon kecantikan dan tukang samak kulit segera dibe­baskan dengan mengajarkan keterampilan mere­ka kepada kelompok belajar perempuan. Sedan­gkan tawanan laki-laki yang memiliki keterampilan membuat senjata canggih, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan keahlian lainnya, dibebas­kan dengan mengajarkan keterampilan mereka pada kelompok-kelompok belajar laki-laki.

Efeknya ialah masyarakat Madinah laki-laki dan perempuan mendapatkan pembelajaran gratis dan dengan sendirinya SDM Madinah menjadi handal memberikan daya tahan secara ekonomi. Tawa­nan perang yang pintar-pintar itu juga diselamat­kan dari kematian dan perbudakan. Para tawanan perang terperangah dengan keputusan Nabi mau memaafkan mereka dan selalu diperlakukan se­cara manusiawi sepanjang menjalani penahanan. Akhirnya mereka dengan penuh kesadaran dan keikhlasan bersyahadat serta berterimakasih ke­pada Nabi Muhammad Saw. Mereka baru sadar kalau Islam sebagai agama yang diperkenalkan Nabi Muhammad Saw adalah agama kemanu­siaan dan penuh kasih-sayang.

JIKA yang dimaksud keadi­lan sosial ialah memberikan jatah menurut jasa, maka Nabi sudah lama telah men­erapkannya. Pemberdayaan masyarakat melalui pengua­tan civil society (masyarakat madani) seperti jaminan hak bicara dan memilih anggota masyarakat civil secara luas, maka sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Masyarakat madani (civil society) yang dibangun di Madinah mengesankan para ilmuan modern. Tidak kurang seperti M. Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai The Best di antara 100 tokoh yang pernah lahir di muka bumi ini. Thomas Carlile membatasi hanya 13 tokoh dunia dalam lintasan sejarah dan tetap menempatkan Nabi Muham­mad sebagai ranking teratas. Beberapa lagi tokoh manajmen menempatkan Nabi Muhammad seba­gai The Best Leader & The Best Manager.

Banyak sekali contoh yang ditampilkan para orientalis tersebut di dalam mendukung kesimpulannya. Suatu ketika tawanan Perang Badr da­lam jumlah besar ditahan di Masjid Nabi. Mereka tentu perlu makan dan minum serta memenuhi kebutuhan asasi mereka seperti buang hajat dan lain-lain. Nabi mengundang para sahabatnya ra­pat membicarakan hal ini. Umar berpendapat se­baiknya kita menggunakan hukum perang tradisi Arab, laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak. Abu Bakar tidak setuju kare­na di antara mereka banyak sekali yang memi­liki keahlian dan keterampilan. Abu Bakar men­gusulkan agar mereka tidak perlu dibunuh tetapi diminta mengajarkan keahlian dan keterampi­lan mereka kepada masyarakat Madinah yang masih banyak buta keterampilan.

Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar dan me­minta sahabat Nabi untuk mengidentifikasi tawa­nan perang berdasarkan keahlian dan keterampi­lan yang dimilikinya. Kemudian Nabi meminta dikumpulkan kelompok belajar maksimum 20 orang setiap kelas dari warga Madinah, baik laki-laki maupun perempuan untuk diajar oleh mereka. Tawanan perempuan yang memiliki keahlian salon kecantikan dan tukang samak kulit segera dibe­baskan dengan mengajarkan keterampilan mere­ka kepada kelompok belajar perempuan. Sedan­gkan tawanan laki-laki yang memiliki keterampilan membuat senjata canggih, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan keahlian lainnya, dibebas­kan dengan mengajarkan keterampilan mereka pada kelompok-kelompok belajar laki-laki.

Efeknya ialah masyarakat Madinah laki-laki dan perempuan mendapatkan pembelajaran gratis dan dengan sendirinya SDM Madinah menjadi handal memberikan daya tahan secara ekonomi. Tawa­nan perang yang pintar-pintar itu juga diselamat­kan dari kematian dan perbudakan. Para tawanan perang terperangah dengan keputusan Nabi mau memaafkan mereka dan selalu diperlakukan se­cara manusiawi sepanjang menjalani penahanan. Akhirnya mereka dengan penuh kesadaran dan keikhlasan bersyahadat serta berterimakasih ke­pada Nabi Muhammad Saw. Mereka baru sadar kalau Islam sebagai agama yang diperkenalkan Nabi Muhammad Saw adalah agama kemanu­siaan dan penuh kasih-sayang.

Dalam kesempatan lain, Nabi pernah mengajak para petani kurma untuk tidak melakukan teknik okulasi, perkawinan antar jenis kurma. Namun para petani menolak karena dengan cara itu akan lebih produktif. Kemudian Nabi "mengalah" den­gan mengatakan: Antum a'lamu bi umur dunya­kum (Kalian lebih tahu urusan (pertanian) kalian. Bisa dibayangkan, seorang petani rendah menda­patkan hak untuk mengubah perintah orang nomor satu di negerinya. Sebagian muhaddits mencerita­kan Bahasa Nabi yang sama pernah juga disam­paikan ketika pendapatnya disanggah oleh petani dalam kasus pemanfaatan pengairan. Masih ban­yak lagi contoh lain. Namun dengan dua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah figur demokrat, bukat figur otoriter. Meskip­un beliau Nabi, Rasul, dan Kepala Negara atau Pemerintahan tetap tidak pernah memaksakan ke­hendaknya pada masyarakatnya. Allahu a’lam. ***

Komentar Pembaca
Apa Dan Siapa Kelompok Radikal Itu?
Islam & Local Wisdom Nusantara

Islam & Local Wisdom Nusantara

JUM'AT, 13 JULI 2018

Bersahabat Dengan Makhluk Spiritual
Bersahabat Dengan Burung

Bersahabat Dengan Burung

SELASA, 10 JULI 2018

Bersahabat Dengan Api

Bersahabat Dengan Api

SENIN, 09 JULI 2018

Bersahabat Dengan Laut

Bersahabat Dengan Laut

JUM'AT, 06 JULI 2018

PKS: Prabowo-Anies Hanya Sebatas Wacana
Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

, 13 JULI 2018 , 15:00:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Kampanyekan Gatot-Anies

Kampanyekan Gatot-Anies

, 08 JULI 2018 , 03:42:00

Asyik Bergoyang

Asyik Bergoyang

, 08 JULI 2018 , 09:41:00