Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (113)

Mendalami Sila Kelima: Mencari Negarawan Yang Ulama

Tau-Litik  RABU, 29 NOVEMBER 2017 , 10:33:00 WIB

Mendalami Sila Kelima: Mencari Negarawan Yang Ulama

Nasaruddin Umar/Net

FIGUR ideal pemimpin Indo­nesia yang sesuai dengan se­mangat Pancasila ialah orang yang memiliki sikap kenega­rawanan keulamaan. Dari sila pertama sampai sila kelima dilanjutkan dengan pendahu­luan dan batang tubuh UUD 1945, keseluruhannya mengamanatkan pemimpin bang­sa Indonesia ialah figur yang memiliki pandan­gan holistik dan komprehensif. Realitas bangsa dan masyarakat Indonesia yang majemuk mem­butuhkan pemimpin yang arif dan bijaksana serta bisa berdiri di atas semua etnik, agama, dan go­longan. Hampir bisa dipastikan orang itu memi­liki sikap kenegarawanan dan kearifan. Baik kearifan lokal maupun kearifan universal.

Bagi bangsa Indonesia, kriteria ini merujuk ke­pada Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal se­lain pembawa agama terakhir (Islam), ia juga terli­bat langsung dalam upaya mengelola Kota Yatsrib, kemudian diubah menjadi Madinah. Ketika Nabi hi­jrah ke Yatsrib, kota ini diganti namanya oleh Nabi menjadi Madinah, atas undangan dua suku utama yaitu suku Aus dan suku Khazraj, kedua suku ini masing-masing meminta Nabi untuk bermukim ke lingkungan suku mereka. Hampir saja terjadi konflik gara-gara memperebutkan Nabi. Untung­nya Nabi memberikan solusi dengan mengata­kan, kita putuskan berdasarkan unta ini. Di mana unta ini berhenti di situlah saya akan bermukim. Unta yang membawa Nabi dibawa berkeliling Kota Yatsrib dan akhirnya unta Nabi berhenti di suatu tempat yang kini menjadi masjid dan maqam Nabi. Kebetulan tempat itu persis berada di perbatasan geografis kedua etnik itu. Subhanallah, perpecah­an bisa terselesaikan dengan baik.


Beberapa kali Nabi tampil melerai ketegan­gan antar kabilah dan antar suku di kawasan Yatsrib dengan penuh kearifan. Mulai dari perso­alan tanah, oase (wadi) yakni mata air di tengah padang pasir, sengketa perbatasan, sampai ke­pada pencurian atau pengambilalihan binatang ternak oleh para pihak. Fanatisme suku yang sewaktu-waktu menimbulkan perang saudara di samping peperangan yang secara eksternal melawan kaum kafir Quraisy, diselesaikan Nabi dengan mengganti nama Yatsrib menjadi Kota Madinah. Yatsrib dalam salah satu teori diambil dari rumpun suku Atsiris di kawasan Mesir yang menyeberangi laut mati karena tidak tahan den­gan kekejaman Fir’aun, sehingga mereka men­diami suatu wilayah tertentu dan diberi nama Yatsrib, yang mengesankan etnik pelarian, ke­mudian mencaplok tanah orang lain. Nabi memi­lih nama Madinah, yang berarti kota atau tem­pat permanen (madany/sedentary), yang agak mirip atinya dengan hadharah (berperadaban). Dengan demikian, hilanglah nama Yastrib yang memiliki beban sejarah masa lampau yang amat berat dan sewaktu-waktu memicu konflik. Kon­sep dasar berbangsa dan bernegara yang dil­etakkan di Mekkah dan Madinah tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang diterapkan The Founding Father kita ketika merumuskan kon­sep dasar bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 

Komentar Pembaca
Mengidolakan Tokoh Garis Keras

Mengidolakan Tokoh Garis Keras

JUM'AT, 22 JUNI 2018

Lihai Memainkan Emosi Umat

Lihai Memainkan Emosi Umat

KAMIS, 21 JUNI 2018

Membenahi Kurikulum Pelajaran Agama
Bahaya Politisasi Dalil Agama

Bahaya Politisasi Dalil Agama

SENIN, 11 JUNI 2018

Fenomena Max Gabril

Fenomena Max Gabril

MINGGU, 10 JUNI 2018

Menyalahi Filosofi Agama

Menyalahi Filosofi Agama

JUM'AT, 08 JUNI 2018

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00