Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (119)

Mendalami Sila Kelima: Latihan Berkeadilan Melalui Ritual Haji Dan Umrah

Tau-Litik  RABU, 06 DESEMBER 2017 , 09:15:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Mendalami Sila Kelima: Latihan Berkeadilan Melalui Ritual Haji Dan Umrah

Nasaruddin Umar/Net

HAJI dan Umrah adalah iba­dah ritual yang sarat dengan pelatihan keadilan dan keber­samaan. Mulai dari niat yang disusul meninggalkan Tanah Air menuju ke Tanah Suci, se­jak itu tertanam sebuah kesa­daran spiritual untuk berteng­gang rasa dengan sesama. Sejak awal calon jamaah haji dan umrah sudah berniat dan bertekad untuk men­jadi haji mabrur atau umrah yang maqbul. Kita sudah berniat untuk berubah. Dari jalan hidup yang abu-abu ke jalan hidup yang putih, seputih kain ihram. Dari suasana batin yang keruh ke suasana batin yang be­ning sebening air zam-zam. Dari jalan pikiran yang bengkok ke pikiran yang lurus, selurus jalan lurus Safa dan Marwah. Dari perilaku yang keras ke pe­rilaku yang lembut selembut tangan yang menyapa hajar aswad. Dari tutur kata yang kasar ke tutur kata yang halus sehalus bisikan doa kita kepada Tuhan.

Ketika kita sampai di perbatasan Tanah Haram (mikat), kita menanggalkan pakaian kebesaran kita, menggantikannya dengan pakaian ihram. Ini pertan­da bahwa kita berikrar menanggalkan atribut ego­isme dan memarkir rasa keakuan kita lalu melarut­kan diri ke dalam atribut kebersamaan. Kita melebur kelas dan status sosial-budaya kita ke dalam ruang dan waktu egaliter. Tidak ada lagi pembantu di samp­ing tuan dan nyonya. Tidak ada lagi jenderal di samp­ing prajurit. Tidak ada lagi militer di samping sipil. Tidak ada lagi pemimpin, raja, dan presiden di samp­ing rakyat. Tidak ada lagi konglomerat di samping rakyat miskin. Tidak ada lagi pemilik modal di samp­ing buruh. Tidak ada lagi ustaz di samping jamaah. Tidak ada lagi guru dan dosen di samping murid dan mahasiswa. Tidak ada lagi kulit putih di samping kulit hitam. Tidak ada lagi orang tua atau senior di samp­ing anak atau yunior. Tidak ada lagi laki-laki di samp­ing perempuan. Tidak ada lagi malaikat di samping manusia. Seolah-olah yang ada hanya Tuhan dan hamba. Sang hamba pun seolah-olah ingin melebur dengan Tuhannya, sehingga seolah-olah terwujud sang hamba dan Tuhan sedang menyatu, al-'abid wal ma'bud wahid, seperti kata kalangan sufi.


Yang paling penting, sudah berubahkah relasi kita dengan Tuhan kita? Apakah Tuhan kita sudah terasa semakin dekat? Apakah jiwa kita sudah semakin ten­ang? Apakah hati kita sudah semakin cerah? Apakah nafsu kita sudah semakin jinak? Apakah kebencian kita terhadap dosa dan maksiat sudah sedemiki­an besar? Apakah ibadah kita sudah semakin ber­gairah? Apakah pikiran kita sudah sedemikian lurus? Apakah perilaku kita sudah semakin lembut? Apak­ah tutur kata kita sudah semakin santun? Apakah hidup kita semakin terasa optimis? Apakah hubun­gan kita dengan alam sudah sedemikian bersaha­bat? Apakah rasa toleransi kita sudah semakin ter­buka? Kesemuanya ini adalah indikator mabrur atau tidaknya haji kita. Tentu kita tidak ingin hanya menda­patkan haji maqbul (sah) tetapi lebih dari itu kita ingi haji mabrur, berdampak positif pada diri sendiri, ke­luarga, masyarakat, bangsa dan negara, lingkungan alam dan dengan Allah Swt. Haji mabrur diharapkan juga mempertebal rasa kepancasilaan kita. 

Komentar Pembaca
Pianis Muda Indonesia Peraih Penghargaan Internasional
Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

, 21 APRIL 2018 , 11:00:00

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

, 19 APRIL 2018 , 01:12:00

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

, 17 APRIL 2018 , 21:28:00

Sepakati Hak Perangkat Desa

Sepakati Hak Perangkat Desa

, 16 APRIL 2018 , 21:46:00