Hanura

Ada Apa Dubes Rusia Dengan Keluarga Suryo Sulisto?

Catatan Tengah  SABTU, 09 DESEMBER 2017 , 13:44:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

Ada Apa Dubes Rusia Dengan Keluarga Suryo Sulisto?

Foto/Net

BELUM lagi Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin kembali ke Moskow bulan ini, dia sudah berbicara tentang rencana liburannya ke Bali.

Begitu pula Mikhail baru akan menempati posnya yang baru di Tokyo, tahun depan. Tapi kepada Suryo Bambang Sulisto - diplomat Rusia itu sudah berpesan agar kalau bisa Suryo Sulisto datang kelak di ibukota negeri Sakura tersebut, dan Suryo wajib menghubunginya.

Rusia, negara asal Mikhail tergolong sebuah negara adidaya. Sementara Indonesia negara asal Suryo, sebuah negara besar, tetapi jauh panggang dari api kalau disebut sebagai sebuah negara besar apalagi adidaya.

Suryo Sulisto pernah menjadi Duta Besar Keliling (Roving Ambassador) untuk kawasan Amerika. Tapi apapun cerita dan kehebatannya, porto folio 'kedutabesaran' Suryo Sulisto, sudah lama berakhir. Suryo tinggal menjadi seorang mantan Duta Besar.

Suryo juga pernah mendudui kursi Ketua KADIN Indonesia, untuk dua periode. Tapi itu juga sudah menjadi bagian dari cerita masa lalu. Yang kalau status itu digunakan sebagai pembanding terhadap porto folio Mikhail Galuzin, tetap tidak seimbang. Surya Sulisto tetap saja seorang mantan.

Lagi pula perjalanan karir Suryo dan Mikhail, berbeda sekali.

Mikhail Galuzin, dalam hitungan beberapa hari lagi akan dipromosikan menjadi diplomat nomor satu untuk Jepang. Jadi dari segi karir dan status, Mikhail masih terus meroket. Sementara Suryo Sulisto, boleh dibilang, karirnya 'sudah tamat' atau ibarat sebuah perputaran hidup, karir Suryo seperti matahari yang sudah memasuki titik senja.

Selaku Kepala Perwakilan sebuah negara adidaya, Galuzin tak boleh mencampur adukan pekerjaan dinasnya dengan urusan pribadi. Dia pun tak harus dan perlu memperhitungkan peranan Suryo Sulisto. Apalagi tugas negara kenegaraannya di Indonesia sudah usai.

Namun sebagai manusia biasa Mikhail Galuzin yang punya emosi, simpati dan empati, ternyata tak bisa dengan mudah menyingkirkan masalah-masalah pribadi. Khususnya yang berkaitan dengan hubungannya dengan Suryo Bambang Sulisto yang sudah mempribadi.

Galuzin, diplomasi Rusia itu, tak dapat berdiplomasi lagi. Tak mampu menyembunyikan apa yang bergejolak dalam hatinya �" yang sudah mempribadi terhadap Suryo Sulisto, pengusaha Indonesia tersebut.

Suryo Sulisto bagi Mikhail Galuzin nampaknya sudah menjadi sosok orang asing yang telah masuk dalam kehidupan keluarga orang Rusia.

Itulah sebabnya, ketika Suryo Sulisto mewakili keluarga besarnya meminta Mikhail Galuzin menjadi tamu khusus untuk resepsi perpisahan yang dia sponsori sendiri, diplomat Rusia inipun tak bisa menolak.

Dia hadir bersama isterinya Marina Galuzina lengkap dengan semua tamu dan sahabatnya.

Bahkan termasuk para Duta Besar dari negara-negara pecahan eks Uni Sovyet. Negara raksasa yang pernah menjadi induk dari Rusia.

Itulah sepenggal cerita menjelang hari-hari terakhir keberadaan Mikhail Galuzin sebagai utusan pemerintah Rusia di Jakarta.

Setelah hampir lima tahun bertugas di Indonesia, Desember ini, Galuzin kembali ke negaranya. Setelah itu ia pindah ke Jepang.

Sebuah resepsi yang menegaskan tentang pengakuan dan penerimaannya sebagai diplomat asing yang disukai, pada 30 Nopember 2017 digelar oleh Surya Bambang Sulisto.

Resepsi perpisahan itu justru mendahului resepsi Mikhail Galuzin sendiri yang digelar di rumah dinasnya pada 5 Desember 2017.

Resepsi oleh Keluarga Sulisto - untuk melepas seorang diplomat asing, merupakan sebuah contoh nyata. Bahwa persahabatan antar manusia yang berbeda kewargaan negaraan, latar belakang ras, kepercayaan dan status sosial, tak bisa disekat oleh batasan-batasan formal.

Sebuah hubungan persahabatan yang dibangun atas etika dan kepatutan, memiliki genggaman yang relatif sangat erat.

Sebuah pemerintahan dari sebuah negara besar sekalipun, tak dapat melarang anak manusia yang berbeda dalam berbagai hal, boleh berteman dan bersahabat.

Tak ada alasan untuk mengatakan, sejuta perbedaan, mampu mencegah atau menghalangi terbentuknya sebuah persahabatan dan persaudaraan. Apalagi persahabatan dan persaudaraan itu didasarkan pada ketulusan dan kejujuran.

Suryo Bambang Sulisto selama dua periode menduduki kursi Ketua Umum KADIN Indonesia. Di era itulah Suryo dan Mikhail menjalin kontak dan interaksi dalam menjalankan peran masing-masing sebagai profesional. Sebagai duta bangsa masing-masing negara.

Kontak dan interaksi inilah yang melahirkan banyak kesepahaman dan saling pengertian. Persahabatan yang kental pun tercipta. Dalam waktu yang relatif singkat, Suryo dan Mikhail bersahabat dengan saling mempromosikan dunia masing-masing.

Suryo sebagai pengusaha yang boleh dibilang pimpinann dari para pengusaha se-Indonesia, mempromosikan berbagai peluang usaha di Indonesia. Dan di situlah terjadi keterlibatan dan keterkaitan Suryo dan Mikhail.

Dan ketika tiba saatnya diplomat Rusia itu harus meninggalkan Jakarta, di saat itu pula muncul kesadaran bahwa persahabatan mereka tidak boleh terputus dan diputus oleh jarak dan ruang.

Sebagai warga Indonesia yang masa remajanya dihabiskan di Jerman, Eropa Barat, Suryo Sulisto sudah cukup banyak sahabatnya yang berasal dari berbagai negara. Termasuk mereka yang berasal dari negerinya Galuzin dari Eropa Timur.
Tetapi baru dengan Galuzin, diplomat karir Rusia ini, Suryo Sulisto seperti menemukan banyak kesamaan - sisi menarik dan pantas dijadikan contoh bagaimana membangun sebuah persahabatan antar warga yang berbeda kewarga negaraan.

Bagi Suryo yang akrab dipanggil Gembong oleh teman-teman dekatnya, Galuzin merupakan diplomat asing yang cepat paham tentang sifat-sifat bangsa Indonesia. Dengan modal itu, dalam waktu relatif singkat Galuzin bisa masuk dan diterima oleh komunitas Indonesia dari berbagai strata.

Sangat jarang menemukan Duta Besar sekaliber Galuzin yang mewakili sebuah negara "Super Power" di dunia, khususnya dalam bidang teknologi militer dan angkasa, mau membumi di Indonesia - negara yang tergolong tertinggal jauh dengan Rusia.

Galuzin sepertinya sadar betul, tidak mudah melakukan diplomasi di Indonesia - negara dimana banyak elitnya sudah terkooptasi dalam oleh paham dan teori Barat. Kooptasi itu sudah seperti sebuah barikade, hambatan. Untuk menembus barikade itu, memerlukan manuver cerdas yang terukur dan penuh kesabaran.

Namun Mikhail Galuzin berhasil menembus hambatan tersebut.

Oleh keberhasilannya itu, Galuzin secara tidak resmi dijuluki atau mendapat julukan sebagai Diplomat Terbaik Rusia yang pernah ditempatkan di Indonesia.

Julukan itu tentu agak kontras dengan persepsi sementara kalangan di Indonesia tentang Rusia masa kini. Masih ada yang mempersepsikan, Rusia sebagai negara komunis. Berhubung Rusia merupakan kelanjutan dari negara komunis Uni Sovyet.

Ditambah lagi, Presiden Rusia saat ini Vladimir Putin, seorang bekas agen rahasia KGB, badan spionase Sovyet yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara Barat.

Selain itu persepsi yang diciptakan oleh media-media Barat tentang Presiden Vladimir Putin - yang seolah merupakan sosok pemimpin yang harus dijauhi. Latar belakangnya sebagai bekas agen mata-mata atau spionase KGB, dikesankan sebagai sosok yang suka "bermain secara kotor".

Orang lupa, bekas Presiden AS George Bush Senior, sebelum menjadi Orang Nomor Satu di negaranya, justru pernah menduduki posisi Kepala CIA, badan intelijen terkemuka Amerika Serikat. Kalau Presiden Putin malahan cuma sebatas anak buah, jauh di bawah dari Kepala KGB.

Selama berada di Jakarta, Galuzin berhasil menyebarkan perspektif Rusia yang modern. Rusia bukanlah negara terkebelakang, negara miskin yang tertinggal jauh dari negara-negara industri seperti Amerika, Jepang atau Jerman.

Hal itu dibuktikannya dengan keberhasilan Rusia memenangkan tender pembangunan tenaga listrik nuklir. Mengalahkan negara industri lainnya.

Rusia merupakan sebuah kekuatan baru di dunia. Rusia adalah bagian penting dari Kesepakatan BRICS (Brazil, Rusia, India dan South Africa, Afrika Selatan) - badan internasional baru yang ingin menyaingi G-7 (Group of Seven atau Kelompok Tujuh). Kelompokyang dipimpin Amerika Serikat.

Lewat BRICS, Rusia ingin mengubah pola transaksi keuangan internasional yang menetapkan mata uang dolar Amerika, sebagai alat pembayaran yang sah. BRICS adalah pesaing srius G-7. Rusia pun pesaing keras Amerika Serikat.

Penyelenggaran Piala Dunia Juni tahun depan di Rusia, sebuah event akbar yang ikuti oleh 32 negara ahli sepakbola, merupakan bukti bahwa Rusia merupakan negara yang berprestasi dalam cabang sepakbola, olahraga yang peminatnya terbesar di dunia.

Dilakukannya renovasi Stadion Sepakbola Senayan dalam rangka menyambut Asian Games Jakarta-Palembang 2018, kembali mengingatkan peranan Rusia di Indonesia, sewaktu negara itu masih bernama Uni Sovyet.

Sekalipun Indonesia tidak pernah menjuarai kejuaraan sepakbola tingkat Asia, apalagi dunia, namun Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang memiliki stadion sepakbola terbesar di dunia.

Stadion yang mampu menampung hingga 110 ribu penonton tersebut, usianya di tahun 2017 ini sudah melewati angka setengah abad. Stadion yang letaknya di Senayan itu, sekarang diberi nama Gelanggang Bung Karno, dibangun oleh tehnisi Rusia berdasarkan konsep arsitek ketika Rusia masih merupakan induk dari negara Uni Sovyet.

Hasil manuver-manuver diplomasi Galuzin di Indonesia, menghadirkan sebuah perubahan. Di antaranya, saat ini cukup banyak pengusaha Rusia hadir di Indonesia. Dan jumlah mereka dari tahun ke tahun, terus meningkat.

Di Bali, turis Rusia, termasuk yang pemecah rekor. Masa tinggal wisatawan Rusia di Bali termasuk yang terpanjang. Mereka juga rata-rata menginap di hotel berbintang, tidak seperti sejumlah turis dari negara Barat yang dikenal sebagai "backpackers". Turis yang hanya datang dengan modal tas punggung dan sepasang celana jans dan kaos oblong. Turis yang memilih menginap di rumah penduduk atau hotel Melati.

Turis Rusia yang datang ke Bali, bukan yang masuk kategori wisatawan 'cekak'. Turis Rusia di Bali rata-rata yang masuk kategori kelas menengah yang siap membelanjakan uang yang cukup banyak.

Mereka menikmati alam tropis Bali, sesuatu yang tidak bisa mereka temukan di negara mereka termasuk negara Eropa Barat dan Eropa Timur lainnya.

Saat Indonesia diguncang oleh ancaman bom teroris, Rusia tidak seperti Amerika Serikat, Australia atau negara Barat lainnya yang langsung mengeluarkan "Travel Warning". Menyiarkan kepada dunia bahwa perjalanan ke Indoneesia, sesuatu yang penuh resiko.

Cara Rusia yang TIDAK mengeluarkan "Travel Warning" setidaknya telah menolong citra Indonesia dan industri pariwisatanya. Indonesia bukanlah negara yang penuh terorisme. Ketika sebuah bom meledak di sebuah titik, itu tak berarti semua wilayah Indonesia, berada dalam jangkaun ledakan bom tersebut.

"Galuzin tipe diplomat yang sangat bersahabat dan fleksibel", ujar Pri Sulisto, adik kandung Suryo Sulisto yang mantan Ketua KADIN Komite Rusia serta bekas Asisten Menteri Pertahanan era Purnomo Yusgiantoro.

Keluarga Sulisto sendiri yang menggelar acara perpisahan dengan Galuzin, tergolong keluarga mapan.

Suryo Sulisto, sebagai pengusaha, boleh jadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki "Chateau" di sebuah kota yang terletak di Prancis Selatan dekat perbatasan dengan Spanyol.

"Chateau" yang luasnya ratusan hektar, di mana di dalamnya terdapat perkebunan anggur dan pabrikannya - milik Suryo Sulisto itu, sekaligus menunjukkan kemamapanan keluarga mapan yang selalu tampil secara terukur ini.

Sekedar ilustrasi tambahan. Almarhum ayah Suryo Sulisto bukan seorang diplomat. Namun dia menghabiskan waktu yang cukup lama di Eropa Barat, khususnya Jerman Barat - saat negara ini masih terbelah dua.

Sulisto senior, seorang sahabat Presiden Soekarno. Tapi karena perbedaan prinsip, Sulisto senior memutuskan hijrah ke Jerman (Barat).

Soekarno sebagai Presiden sekaligus sahabat, terus meminta ayah mereka untuk kembali ke Indonesia. Atau boleh menetap di Jerman asalkan mau memimpin perwakilan dagang Indonesia di Eropa Barat.

Namun ayah Suryo Sulisto yang memiliki prinsip, tidak tergiur dengan tawaran Soekarno. Sebab yang membuat ayah Suryo Sulisto kurang sepaham dengan Soekarno, sejumlah kebijakan politiknya yang condong merugikan kaum nasionalis sendiri.

Sulisto senior bersama anak-anaknya baru kembali ke Jakarta, setelah yang berkuasa di Indonesia rezim baru pimpinan Jenderal Soeharto.

Kakak tertua perempuan Suryo Sulisto, menikah dengan Arifin Siregar, mantan Gubernur Bank Indonesia, Menteri Perdagangan dan Dubes RI untuk Amerika Serikat.

Siregar mulai tertarik kepada kakaknya Suryo Sulisto sewaktu pemuda Arifin Siregar berlibur ke Jerman dari tempatnya bertugas di Beirut, Libanon selaku Kepala Perwakilan IMF - Dana Moneter Internasional.

Di malam perpisahan itu dengan Dubes Rusia itu, Arifin Siregar ikut hadir.

Resepsi pelepasan Mikhail Galuzin oleh Keluarga Besar Sulisto akhirnya menyisakan banyak kesan yang sulit dilupakan. Antara lain karena di tengah-tengah acara tersebut, Mikhail, menghadiahkan lagu - Barat, "Yellow Ribbon" sebagai simbol perpisahan dengan keluarga bangsa Indonesia yang diwakili oleh Keluarga Sulisto.

Tampilnya Mikhail di depan undangan eksklusif - membawakan sebuah tembang berbahasa Inggeris, mengingatkan sebuah peristiwa, dimana Presiden Vladimir Putin, tiba-tiba menyanyi "Blue Barry Hill" dalam irama jazz, di sebuah Pub di kota Amerika Serikat.

Galuzin sendiri meruapakan diplomat Rusia yang ditunjuk langsung oleh Vladimir Putin. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Komentar Pembaca
Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

, 19 JUNI 2018 , 11:00:00

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00