Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (125)

Mendalami Sila Kelima: Belajar Dari Konsep Pasca Panen Nabi Yusuf

Tau-Litik  KAMIS, 14 DESEMBER 2017 , 10:12:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Mendalami Sila Kelima: Belajar Dari Konsep Pasca Panen Nabi Yusuf

Nasaruddin Umar/Net

KEBERHASILAN pemerin­tah Mesir di bawah mana­jemen Nabi Yusuf sebagai seorang profesional leb­ih ditentukan oleh konsep program pasca panen Nabi Yusuf. Yang menarik untuk dikaji ialah konsep pasca panen para petani dianjur­kan menyimpan padi-padian mereka berasa­ma bulir atau bagian dari jeraminya di dalam gudang. "Yusuf berkata: 'Supaya kamu ber­tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan". (Q.S. Yusuf/12:49).

Penelitian ahli pergudangan di bulog me­nemukan, penyimpanan padi atau gabah di gudang maksimum akan bertahan sampai tiga tahun, itupun jika suhu gudang dikontrol sedemikian rupa. Akan tetapi jika padi disim­pan bersama bulirnya, maka daya tahan padi itu bisa sangat lama. Ini mengingatkan kita waktu masyarakat petani tradisional menyim­pan padi bersama bulirnya dan terbukti bisa bertahan lama. Dahulu kala masyarakat kita memotong padi dengan menggunakan ani-ani lalu diikat, kemudian disimpan di penyim­panan padi, ternyata bisa bertahan sampai tu­juh tahun.

Nabi Yusuf juga tidak menganjurkan masyarakat untuk pelit berbagi kepada masyarakat luar negeri yang membutuhkan padi-padian itu karena prediksi Nabi Yusuf sesudah sik­lus tujuh tahunan paceklik berakhir, cuaca akan kembali normal seperti biasa dan para petani pun juga akan mampu memenuhi ke­butuhannya masing-masing. Ini juga terung­kap dalam ayat: "Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur". (Q.S. Yusuf/12:49). Jika padi-padian masyarakat ditahan maka ten­tu akan terancam rusak dan surplus berlebi­han, karena iklim kembali akan normal. Begitu cadangan gudang masyarakat menipis maka panen berikutnya normal kembali. Sejak itu Mesir terkenal sebagai negara yang makmur berkat kehadiran orang cerdas yang diberi ke­wenangan oleh raja.

Nabi Yusuf adalah sosok manusia cerdas profesional, dan penuh percaya diri. Ia berani mengemukakan pendapatnya sekalipun di hadapan raja. "Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Q.S. Yusuf/12:55). Pernyataan ini menandakan adanya kon­fidensi yang tangguh dari Nabi Yusuf. Kisah ini juga memberikan pesan penting bahwa sistem promosi karier yang dijalankan Raja saat itu berdasarkan sistem meritokrasi dan profesionalisme. Nabi Yusuf dipromosi men­jadi pejabat negara bukan karena keluarga Raja, tetapi kemampuan profesional yang dimilikinya.

Point yang menarik dari Nabi Yusuf dalam kisah ini ialah: 1) Keberhasilannya menggen­jot produktivitas hasil-hasil pertanian disertai dengan penghematan petani, 2) Kemampuan memanaj stok surplus pangan yang tersim­pan rapi di gudang, 3) Kemampuan teknologi pasca panen yang memungkinkan padi/gabah mampu bertahan lama selama tujuh tahun.


Komentar Pembaca
Pianis Muda Indonesia Peraih Penghargaan Internasional
Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

, 21 APRIL 2018 , 11:00:00

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

, 19 APRIL 2018 , 01:12:00

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

, 17 APRIL 2018 , 21:28:00

Sepakati Hak Perangkat Desa

Sepakati Hak Perangkat Desa

, 16 APRIL 2018 , 21:46:00