Hanura

Indonesia Perlu Fokus: Besarkan ASEAN, Kuatkan GNB

Spanyol, ex-Penjajah, Makmur Dan Sukses Urus Sepakbola

Catatan Tengah  KAMIS, 14 DESEMBER 2017 , 18:51:00 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

Indonesia Perlu Fokus: Besarkan ASEAN, Kuatkan GNB

GNB/net

KEBIJAKAN Spanyol, agaknya, perlu dijadikan model dan rujukan. Spanyol tetap menjadi salah satu negara mapan di Eropa, tanpa harus melakukan kebijakan “outreach”, menjadi negara yang mampu berkiprah di wilayah lain seantero dunia.

Tanpa menjadi negara industri seperti tetangganya, Prancis, Spanyol tak merasa “tertinggal”. Termasuk dengan Inggris sekalipun, negara yang juga ex-penjajah di berbagai negara belahan dunia

Keputusan untuk tidak “bersaing” dengan Inggeris dan Prancis ini, merupakan pilihan. Dan pilihan itu pasti dilakukan atas pertimbangan  yang sehat. Didasarkan pada perhitungan realistis. Spanyol sadar atas soal kemampuan SDM-nya yang tidak bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Spanyol tidak memaksakan diri untuk mencapai sesuatu, karena sadar atas kekurang mampuan. Spanyol mungkin berpikir: “Untuk apa memaksa. Kalau hanya nafsunya saja yang besar sementara tenaganya kurang?”.

Namun hal ini tidak berarti Spanyol hanya menerima nasib. Tak kuat bersaing untuk menjadi negara industri, negeri matador ini tetap berupaya untuk tetap eksis. Dan pilihan untuk eksis itu, yakni memacu masyarakatnya agar berusaha menjadi yang terbaik di bidang seni dan olahraga.

Hasilnya, Spanyol melahirkan sejumlah artis dan atlit kelas dunia. Di bidang seni lukis, Spanyol misalnya punya Pablo Picaso (25 Oktober 1881 – 8 April 1973), di bidang musik pop punya Julio Iglesias. Penyanyi playboy yang terkenal dengan ungkapan arogannya, sudah meniduri lebih dari 1000 wanita dari berbagai suku bangsa dan warna kulit.

Di bidang olahraga, termasuk yang paling sukses. Olahraga sepakbola khususnya sudah menjadi sebuah industri. Bukan sekedar sebuah hobi. Spanyol merupakan satu dari sedikit di antara puluhan negara di Eropa yang dalam satu putaran kompetisi FIFA bisa menjuarai sekaligus Piala Dunia dan Piala Eropa.
 
Spanyol merupakan negara yang memiliki dua buah klub terkuat di dunia : Real Madrid dan Barcelona. Kedua klub, saking suksesnya, bisa menjadi kaya raya dan menjadi magnit bagi semua pesepakbola berkelas.

Saking banyak uang yang dimiliki klub, perkumpulan ini  masing-masing bisa memberi gaji sampai lima milyar rupiah per minggu untuk seorang pesepakbolanya. Dan pesepakbola itu, tidak harus berkewarga negaraan Spanyol.

Itu sebabnya, Barcelona punya Lionel Messi (Argentina) dan Christiano Ronaldo (Portugal). Dua pemain ini terkenal sebagai peraih “Bola Emas” FIFA.

Sementara yang harus digaji pada setiap klub tersebut, lebih dari 30 orang. Mulai dari pemain inti, cadangan, pelatih, dokter sampai dengan Presiden atau Ketua – pihak yang diberi tugas bagaimana klub mampu menghasilkan uang puluhan triliun rupiah per satu musim kompetisi.

Madrid dan Barcelona, juga memiliki Sekolah Sepakbola. Yang kadar kualitasnya mungkin bisa disetarakan dengan Harvard John Kennedy School (Amerika) untuk bidang ilmu politik atau London School of Economic (Inggeris) untuk bidang ekonomi.

Di luar dua klub itu, masih ada belasan klub yang juga berkompetisi dan wajib menghasilkan uang triliunan rupiah per tahun. Pendek kata, klub-klub sepakbola Spanyol dari segi bisnis, jauh lebih produktif bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan BUMN di Indonesia, yang rata-rata terus merugi.

Di luar sepakbola, Spanyol juga cukup berjaya di cabang olahraga seperti Formula One, Balap Sepeda, Golf dan Tennis Lapangan. Atlit-atlit dari cabang di atas, termasuk yang menghasilkan devisa bagi negara.

Hasilnya, nama baik dan pamor Spanyol lebih berkibar dan martabatnya sebagai sebuah bangsa mendapat tempat yang cukup terhormat di pergaulan masyarakat internasional.

Citra Spanyol sebagai sebuah negara, menjadi positif. Citra ini merupakan modal dalam pergaulan internasional. Dengan citra ini, Spanyol menjadi salah satu negara tujuan wisata terfavorit di Eropa Barat. Dan status itu berarti sebuah kekuatan ekonomi. Sebab wisatawan asing yang masuk ke Spanyol sama dengan orang asing yang membawa devisa ke negara tersebut.

Disini terlihat sebuah dampak positif dari citra sebagai negara terkemuka di dunia sepakbola.  Turis, tidak melulu ingin melihat pemandangan. Tetapi ingin tahu bagaimana detak jantungnya ketika berada di Stadion milik Real Madrid atau  Barcelona.

Sebagai salah satu satu negara bekas penjajah, seharusnya, Spanyol tetap mempertahankan pengaruhnya. Apalagi di bagian Selatan benua Amerika, Spanyol memiliki pengaruh yang cukup besar.

Hampir semua negara di Amerika Latin menggunakan Spanyol sebagai bahasa resmi.

Akan tetapi disinilah letak “kejeniusan” pemimpin Spanyol. Yang tidak mau memaksakan diri, untuk tetap menjadi negara besar. Apalagi hanya untuk sebuah gengsi.

Spanyol membuat pilihan dan pilihan itu bukanlah harus menjadi negara ‘adidaya’. Karena tanpa harus menjadi adidaya pun, martabat bangsa masih tetap baik, sepanjang memiliki keunggulan tersendiri di berbagai bidang yang menjadi area persaingan.

Agak kontras dengan pilihan Indonesia. Negara yang masih memiliki banyak kekurangan dan sebetulnya masih memerlukan bantuan, obsesinya melampaui batas kemampuan.

Indonesia melakukan “outreach” yang terkesan terlalu dipaksakan.

Kepedulian kita terhadap konflik Timur Tengah, merupakan sebuah contoh klasik.

Sekelompok elit kita beranggapan bahwa Indonesia mampu menyelesaikan konflik Israel–Palestina, dan hal ini tercermin dari “outreach” yang dilakukan dalam KTT Luar Biasa OKI, di Turki pekan ini.

Padahal semua pihak yang lebih paham tentang persoalan mendasar atas konflik ini, sudah tidak peduli, jenuh dan kehabisan akal.
 
Lihat saja Mesir, yang memutuskan tidak hadir di Istanbul. Padahal Mesir merupakan negara terdekat dengan wilayah berkonflik dan sekaligus merupakan salah satu pendiri OKI.

Bukanah Mesir lebih berkepentingan dibanding dengan Indonesia?

Lalu wajarkah Indonesia menjadi negara yang lebih peduli dibanding Mesir?

Politik luar negeri Indonesia seperti sudah terlanjur tidak fokus, terlalu melebar.  Tanpa memperhitungkan kemampuan kita berdiplomasi yang membutuhkan biaya besar, terbatas.

Hasilnya, postur Indonesia di dunia internasional, untuk sementara tak “menggigit” ataupun tidak “menendang”. Jangankan “menggigit” di dunia internasional, “menendang” di kawasan regional saja, Indonesia tidak lagi menjadi negara yang diperhitungkan.

Ditambah keterpurukan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika, kemampuan pemerintah membiaya kegiatan diplomasi, berkurang. Sementara diplomasi itu membutuhkan biaya yang tidak kecil.

Dalam keadaan seperti ini, Indonesia semestinya membuat pilihan. Yaitu fokus pada forum, dimana Indonesia memiliki peran besar dan hasilnya bisa konkrit untuk kepentingan nasional.

Dua forum itu adalah ASEAN dan Gerakan Non Blok (GNB).

ASEAN saat ini menjadi organisasi kerjasama regional yang kurang diperhatikan Indonesia. Sikap atau pilihan seperti itu, sebuah kekeliruan besar. Sebab Indonesia merupakan pendiri ASEAN.  Markas Besar ASEAN sendiri berkedudukan di Jakarta.

ASEAN juga memiliki persoalan yang tidak kalah peliknya dibanding dengan krisis Timur Tengah, khususnya konflik Israel–Palestina.

Apa yang akan terjadi di Laut Cina Selatan, bila konflik Amerika–RRT bereskalasi di sana?. Apa konsekwensi dari dibangunnya “Terusan Kra di semenanjung Malaysia?.  Terusan mana ada kemiripan dengan Terusan Panama dan Terusan Suez.

Sudahkah kita mengkaji problem-problem yang bakal muncul dari sana?. Karena sudah pasti efektif negatifnya akan berdampak ke Singapura. Lantas apa diplomasi kita untuk meredam kemungkinan terjadinya konflik di terusan baru tersebut?

Di ASEAN, Indonesia seharusnya tidak boleh pasif. Menunggu sampai perbedaan-perbedaan yang mulai mengemuka di antara sesama anggota ASEAN, menjadi sebuah konflik. 

Jangan tunggu sampai konlik sudah membara, baru kita memanggil pemadan kebakaran. Sebab begitu menjadi konflik, upaya untuk meredahkannya, menjadi soal yang sangat sulit.

Indonesia juga perlu memperkuat Gerakan Non-Blok (GNB). Sebab cikal bakal dari organisasi atau gerakan ini, berawal dari Indonesia. Penggeraknya Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia.

Kalau tokh saat ini, GNB sudah seperti mati suri, justru Indonesia harus turun tangan menghidupkanny kembali. Indonesia berkewajiban menyelamatkannya. Mencari tuan rumah KTT GNB seperti mencari kesepakatan di antara Israel-Palestina.

Lantas mengapa tidak kita putuskan saja, Markas Besar GNB di Bandung, dan setiap tiga tahun atau lima tahun KTT GNB digelar di sana.  Jadi GNB ini, tidak bernasib seperti sekarang.

Indonesia jangan terlalu sibuk di organisasi kerja sama seperti APEC dan G-20. Sebab manfaat dari keanggotaan di dua forum itu, sampai sekarang, belum terasa. Bila perlu Indonesia keluar dari dua forum itu.

Lain halnya kalau di kedua forum itu, kita menjadi negara yang paling penting.

Kita mungkin menjadi penting di APEC dan G-20, bukan karena kepentingan kita sendiri. Melainkan karena kita dimanfatkan pihak lain untuk kepentingan negara lain.

Indonesia bila perlu meniru Amerika Serikat. Yang tegas membuat pilihan, apapun resikonya.

Sesuai catatan sejarah, Amerika Serikat membekukan sejumlah kerja sama regionalnya, manakala forum itu tidak memberi manfaat yang jelas.

Misalnya Pakta Militernya dengan Australia dan Selandia Baru atau dikenal dengan sebutan ANZUS (Australia News Zealand United States) Treaty ataupun SEATO (South East Asia Treaty Organization).

Akibat ambisi kita yang melakukan “outreach”, sementara kemampuan kita masih terbatas, yang terjadi justru kita tertinggal dalam persaingan di kawan terdekat.

Singapura dan Malaysia, merupakan dua negara tetangga yang begitu jelas telah meninggalkan atau  “melewati” Indonesia. Padahal Singapura, negara yang terbatas segala-galanya. Mulai dari sumber daya alam, sumber daya manusia sampai dengan “sumber inspirasi”.

Singapura boleh lebih makmur seperti negara liliput Monaco, yang terletak di perbatasan Prancis dan Itali. Tapi sebaiknya Singapura juga seperti Monaco saja. Yang tidak melewati “kebesaran” Prancis, tetangga terdekatnya. Bukan Prancis yang berkiblat ke Monaco. Tapi sebaliknya.

Begitu juga bukan Indonesia yang diatur kiblatnya oleh Singapura. Tapi harus dibalik.

Malaysia, juga kurang lebih sama. Negara ini tanpa kita sadari sudah banyak mengalahkan kita. Baik secara intelektual maupun secara “preman/bajingan”.

Malaysia mengalahkan kita di sengketa Sipadan Ligitan, karena kita tidak punya ahli hukum yang menguasai Bahasa Inggeris sefasih ahli hukum Malaysia. Itulah kemenangan intelektualnya.

Malaysia juga mengalakan kita seperti halnya prilaku “bajingan/preman”. Misalnya melakukan tindakan curang dalam Pesta Olahrag Asia Tenggara (SEA Games).

Nah menetralisir dua negara tetangga ini, tidak ada cara lain kecuali “membesarkan” postur Indonesia di kerja sama regional, ASEAN.

Kesadaran ini harus ada pada Presiden dan pengatur kebijakan dan pelaksana politik luar negeri.

Tanpa niat yang sungguh-sungguh merubah pola dan sistem operasi politik luar negeri, pengaruh Indonesia di percaturan politik dunia, akan tergerus sampai akhirnya generasi penerus bangsa berikutnya, hanya akan menjadi ‘pesuruh’ bangsa lain. [***]


Komentar Pembaca
Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

, 19 JUNI 2018 , 11:00:00

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00