Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (129)

Mendalami Sila Kelima: Tidak Menafikan Pengecualian Kasus

Tau-Litik  SENIN, 18 DESEMBER 2017 , 09:37:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mendalami Sila Kelima: Tidak Menafikan Pengecualian Kasus

Nasaruddin Umar/Net

DALAM suasana normal, setiap pelanggaran hukum harus dapat dijatuhkan sank­si. Namun dalam hal-hal khusus, sanksi peristiwa pelanggaran hukum tidak bisa dijatuhkan sanksi. Ada sejumlah kasus di dalam Al- Qur’an yang dapat dijadikan contoh. Di antaranya ialah kasus Khidhir yang diabadikan di dalam Q.S. Al-Kahfi (18) yang intinya Khdhir melubangi perahu-perahu orang yang tidak berdosa: Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. (18:71). Kasus berikutnya, Khidhir membunuh anak-anak kecil yang tidak berdosa: Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". (18:74). Kasus berikutnya Khidhir memugar dan membangun bangunan orang yang bukan miliknya: Maka keduanya ber­jalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemu­dian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". (18:77).

Perbuatan Khidhir yang melubangi perahu orang tak berdosa, apalagi perahu-perahu itu milik dari orang-orang miskin yang tak berdaya, dapat dilihat sebagai pelanggaran berat. Sama juga dengan membunuh anak kecil tak berdosa, betul-betul perbuatan yang tak dapat dimaafkan secara hukum. Kasus lainnya, mengambil alih bangunan orang lain adalah nyata-nyata per­buatan melawan hukum.

Perbuatan Nabi Ibrahim yang menyembelih anak kandungnya sendiri juga tidak bisa difa­hami di dalam dunia hukum positif. Keseluruhan unsur pidana dari perbuatan-perbuatan tersebut sudah cukup.

Namun demikian, pengungkapan kisah-kisah di atas ditonjolkan sudut-sudut positifnya oleh Allah Swt.

Perahu yang dilubangi betul-betul menyela­matkan pemiliknya. Perahunya tidak dirampas oleh pasukan raja dhalim yang berkenduri mer­ayakan ulangtahun rajanya di pantai. Dengan menutupi lubang kecil perahu itu maka pemi­liknya bisa digunakan untuk melaut lagi. Anak yang dibunuh ternyata kelak akan menjadi anak nakal dan jahat, termasuk akan mengkafirkan orang tuanya sendiri. Lebih baik dibunuh agar ia terpelihara dari dosa sementara kedua orang tuanya masih akan dikarunia anak-anak yang shaleh. Bangunan tua yang dipugar ternyata menyimpan harta karun. Kalau bangunan itu roboh maka harta karun itu akan tersingkap, se­mentara ahli warisnya masih kecil. Bangunan itu roboh setelah anak itu sudah dewasa dan sudah mampu mendayagunakan harta karun itu.

Namun demikian, kasus Khidhir tidak bisa dijadikan dalil untuk kasus-kasus umum yang terjadi di dalam masyarakat. Tidak bisa atas dasar surah Al-Kahfi seorang merusak barang orang lain, dengan alasan untuk menyelamatkan harta itu untuk tidak digunakan berdosa atau bermaksiyat oleh pemiliknya. Tidak bisa juga dibenarkan membunuh seseorang hanya demi orang itu tidak melakukan kejahatan kelak. Lalu tidak bisa menyerobot bangunan orang lain dengan alasan apapun di luar alasan yang dibenarka oleh hukum. Namun demikian dalam batas-batas tertentu, spirit hikmah di belakang kasus-kasus di atas dapat dijadikan pertimbangan hukum oleh hakim. (Allahu a'lam).


Komentar Pembaca
Mengidolakan Tokoh Garis Keras

Mengidolakan Tokoh Garis Keras

JUM'AT, 22 JUNI 2018

Lihai Memainkan Emosi Umat

Lihai Memainkan Emosi Umat

KAMIS, 21 JUNI 2018

Membenahi Kurikulum Pelajaran Agama
Bahaya Politisasi Dalil Agama

Bahaya Politisasi Dalil Agama

SENIN, 11 JUNI 2018

Fenomena Max Gabril

Fenomena Max Gabril

MINGGU, 10 JUNI 2018

Menyalahi Filosofi Agama

Menyalahi Filosofi Agama

JUM'AT, 08 JUNI 2018

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00