Ibu Kota Juga Ikut Panen Raya

Kementerian Pertanian  JUM'AT, 22 DESEMBER 2017 , 19:38:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

Ibu Kota Juga Ikut Panen Raya

RMOL

RMOL. Gairah panen raya padi di akhir tahun 2017 tidak hanya dirasakan di daerah pedesaan. Area perkotaan yang dihiasi gedung bertingkat pun tidak mau ketinggalan merayakan panen raya kali ini.

"Di sela-sela pertumbuhan gedung-gedung bertingkat di sebagian wilayah DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Surabaya, Kota Medan, dan Kota Bengkulu ternyata masih ada lahan sawah yang masih produktif," ujar Kepala BBP2TP Kementerian Pertanian Haris Syahbuddin di Jakarta, Jumat (22/12).

Menurutnya, keberhasilan panen padi di perkotaan tidak lepas dari dorongan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang secara gigih mengupayakan pemanfaatan lahan tidur dan lahan terlantar atau absentee land.

Haris menyebutkan bila di wilayah DKI ada sekitar 500 hektare pertanaman padi yang dapat dipanen selama Desember 2017 hingga Januari 2018. Produktivitas yang dicapai relatif tinggi berkisar 4-8 ton per hektare dan sebagian besar menggunakan jenis bibit padi unggulan Inpari 32.

"Menurut petani setempat mereka menyukai varietas Inpari 32 karena produktivitasnya tinggi dan rasa nasinya enak," paparnya.

Selain itu, di Kota Semarang, Surabaya, dan Medan panen padi yang dilakukan saat ini berhasil mencapai produktivitas sekitar 7 ton per hektare, sementara di Kota Bengkulu sekitar 5 ton per hektare. Capaian produktivitas panen padi di daerah perkotaan yang relatif tinggi tidak terlepas dari kontribusi Balitbangtan dalam penyediaan bibit padi unggul dan pendampingan teknis budidaya.

Eksistensi pertanian lahan sawah di perkotaan dinilai Haris mempunyai fungsi yang tidak dapat dianggap remeh. Hasil kajian valuasi ekonomi multifungsi pertanian sawah menunjukkan fungsi lingkungan seperti pengendali erosi, pendaur ulang sumber daya air, mitigasi banjir, penyejuk udara, penjaga keasrian, dan media untuk mengurangi penumpukan sampah organik, Nilai ekonominya mencapai 51 persen dari nilai beras yang dihasilkan.

"Apabila fungsi lain seperti ketahanan pangan, penyedia lapangan kerja, pemeliharan keanekaragaman hayati, dan pelestari nilai sosial budaya diperhitungkan. Nilai ekonomi multi fungsi pertanian sawah tentu lebih dari 51 persen," jelas Haris.

Ditambahkan Haris, multifungsi pertanian yang sangat nyata nilainya merupakan sumbangan cuma-cuma dari petani kepada masyarakat sekitar, dan masih diperlakukan sebagai eksternalitas atau di luar sistem pasar dan kebijakan. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah secara bertahap untuk menginternalisasikan multi fungsi pertanian dalam sistem pasar dan kebijakan pembangunan. Agar sektor pertanian mempunyai daya tarik, utamanya bagi generasi muda. [wah]


Komentar Pembaca
JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

, 19 JANUARI 2018 , 21:00:00

Sri Mulyani Bikin Indonesia Rugi Ratusan Triliun
Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

, 18 JANUARI 2018 , 16:05:00

Desak Bamsoet Mundur

Desak Bamsoet Mundur

, 18 JANUARI 2018 , 21:29:00

Pelantikan KSAU Baru

Pelantikan KSAU Baru

, 18 JANUARI 2018 , 01:04:00