Pergantian Varietas Tahan Hama Dongkrak Produksi Padi

Kementerian Pertanian  MINGGU, 31 DESEMBER 2017 , 01:34:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

Pergantian Varietas Tahan Hama Dongkrak Produksi Padi

Produksi Padi/Kementan

RMOL. Percepatan tanam di bulan Agustus/September 2017 dan penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi yang tahan terhadap berbagai cekaman menjadi salah satu faktor keberhasilan panen raya di penghujung tahun ini.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menyuplai VUB padi yang disesuaikan dengan lingkungan dan preferensi petani setempat.  “Kami memberikan bantuan ke petani berupa benih berpotensi hasil tinggi dan mampu mengantisipasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),” ujar Kepala BPTP Balitbangtan Yogyakarta, Joko Pramono, Sabtu (30/12).

Bantuan VUB  sebanyak 30 ton dimaksudkan sebagai alternatif  bagi para petani untuk mengganti varietas lama yang semakin rentan terhadap berbagai gangguan OPT.  Penggunaan varietas Ciherang dan Mekongga yang terus menerus di berbagai daerah berpotensi menurunkan tingkat produksi karena semakin kurang ketahanannya terhadap serangan OPT.

Sebagai contoh keberhasilan panen raya di daerahnya, Joko mengambil sampel kinerja para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sido Kumpul di desa Sido Agung, Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta. Diketahui petani mampu menghasilkan 7,5 ton gabah kering per hektar.

“Panen raya ini akan mampu memberikan keuntungan yang lebih besar kepada petani” katanya.

Joko menambahkan, faktor lain pendorong keberhasilan panen raya kali ini menurutnya adalah adanya pengawalan ketat jajaran Kementerian Pertanian yang bersinergi dengan Pemerintah Daerah.

“Kami melakukan pendampingan penerapan inovasi teknologi budidaya kepada petani di beberapa wilayah seperti Gunung Kidul, Bantul,  Kulonprogo dan Sleman,” pungkas Joko.

Diwawancara terpisah, Kepala BPTP Balitbangtan Banten, Amir Pohan mengatakan harapan petani juga digantungkan pada penggunaan varietas tahan hama seperti Inpari 13.  Karena di daerahnya petani mampu menghasilkan 6,6 - 8 ton gabah kering per hektar dengan menggunakan bibit Inpari 13.

“Petani yang tergabung ke dalam Poktan Sugih Karya Desa Mandalasari Kec. Kaduhejo melakukan panen padi Inpari 13.  Potensi hasil dari Varietas Inpari 13 adalah 8 ton/ha, namun rata-rata hasil adalah 6.6 ton/ha. Inpari 13 jadi preferensi petani salah satunya karena tekstur nasi pulen,” kata Amir.

Amir menambahkan meskipun Inpari 13 memiliki karakteristik sulit dirontokkan namun hal tersebut tidak menjadi kendala bagi petani karena dibantu alat perontok seperti power threser.

Inpari 13 adalah salah satu VUB padi yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2010. Varietas ini tahan terhadap hama Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 1, 2, dan 3 sehingga varietas ini menjadi harapan untuk memperoleh produktivitas tinggi saat WBC banyak menyerang. Varietas  ini cocok ditanam pada ekosistem sawah tadah hujan dataran rendah hingga ketinggian 600 meter dari permukaan laut.

Sebagai informasi, di hari yang sama juga dilaksanakan panen varietas Tahan Serangan OPT, Inpari 32  di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Batang.  Pada hamparan sawah 75 hektare bibit padi jenis Inpari 32 berhasil di panen dengan produktivitas rata-rata 6.5 ton per hektar. Hal yang sama juga terjadi di Desa Simpang Yul Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. 100 hektar padi jenis Inpari 30 berhasil dipanen dari wilayah ini. Varietas ini diketahui jadi kegemaran petani Bngka karena mampu menghasilkaan 7,3 ton gabah kering per hektar. [san]

Komentar Pembaca
Jokowi Gagal Bangun Politik Kebangsaan

Jokowi Gagal Bangun Politik Kebangsaan

, 18 JANUARI 2018 , 19:00:00

KPU Tetap Lakukan Verifikasi Faktual

KPU Tetap Lakukan Verifikasi Faktual

, 18 JANUARI 2018 , 17:00:00

Sabam Sirait Dilantik

Sabam Sirait Dilantik

, 15 JANUARI 2018 , 16:34:00

Pelantikan KSAU Baru

Pelantikan KSAU Baru

, 18 JANUARI 2018 , 01:04:00

Minta OSO Pidato Di HPN

Minta OSO Pidato Di HPN

, 16 JANUARI 2018 , 18:15:00