Hanura

Membelah Kekuatan Ummat di Jawa Barat

Suara Publik  SELASA, 02 JANUARI 2018 , 23:14:00 WIB

Membelah Kekuatan Ummat di Jawa Barat

Ilustrasi kekuatan umat. (Net)

AKHIRNYA terungkap mengapa koalisi Gerindra, PKS dan PAN meninggalkan Deddy Mizwar dalam pencalonan Pemilihan Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat (Jabar).

Melalui Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid, PKS menyebut koalisi dengan Gerindra dan PAN adalah komitmen menuju 2019.

Hidayat menyampaikan alasan membatalkan dukungan kepada Deddy Mizwar dan lebih memilih Sudrajat yang diusung Gerindra.

Deddy Mizwar diduga telah melakukan kontrak politik akan mendukung calon presiden yang diusung Demokrat pada 2019, dimana hal tersebut belum dibicarakan dengan PKS.

Lalu apakah koalisi Gerindra, PKS dan PAN untuk mendukung calon yang sama di Pilkada daerah-daerah strategis tidak dalam rangka mendukung Prabowo pada 2019? Bagaimana deal politiknya?

Hal yang menjadi pertanyaan publik karena seolah PKS selalu mengikuti apa kata Gerindra. Otonomi sebagai partai yang mandiri tergerus dan menjadi sasaran ketidakpuasan publik bahkan oleh kader PKS sendiri.

Beberapa jam setelah dukungan PKS kepada Sudrajat – Syaikhu, beredar banyak informasi yang justru menyudutkan Deddy Mizwar (Demiz).

Uniknya PKS membiarkan hal ini terjadi bahkan terkesan memfasilitasi beredarnya informasi negatif tentang Deddy Mizwar.

Kasihan Demiz, sudah ditinggal dibully pula.

Padahal Demiz sudah terlanjur menjadi "pilihan" ummat, dari berbagai sikap dan karakternya yang cukup mewakili.

Agak terlambat bagi koalisi ini meninggalkan Demiz sekaligus memunculkan Sudrajat. Entah apa yang terjadi di balik panggung. Beberapa hal yang menjadi perhatian terkait drama Pilkada Jabar ini.

Pertama, PKS sebelumnya memfasilitasi pertemuan pimpinan partai (Gerindra, PAN, PKS) yang berkomitmen membangun koalisi menuju 2019.

Nampak dalam pernyataan koalisi ini sudah bersepakat meninggalkan Deddy Mizwar sebagai cagub. Karena akan mengusung pilihan Gerindra. PKS dan PAN juga secara implisit telah mengikuti apa kata Gerindra.

Mungkin termasuk pancalonan Prabowo Subianto di 2019 atau apapun posisi Prabowo, sebagai presiden atau wakil presiden. Prabowo adalah semacam ketua kelas dan PAN sebagai wakilnya. Sedangkan PKS terkesan sebagai pekerja dalam koalisi ini.

Kedua, skema politik istana nampaknya sukses untuk Pilkada Jabar. Yaitu memecah kekuatan ummat atau koalisi 212.

Demiz yang dikesankan sebagai perwakilan ummat yang mendukung aksi 212 dan menolak proyek Meikarta berhasil dipisahkan dari partai pengusungnya yang seharusnya, yakni Gerindra dan PKS.

Memecah belah kekuatan ummat di Pilkada Jabar sangat terasa, media-media mainstream berkali-kali mengarahkan agar Pilkada DKI jangan sampai terulang di Jabar (antara kekuatan ummat dan pilihan penguasa). Dan nampaknya Prabowo juga memahami skema ini.

Ketiga, ada empat pasang calon yang akan bertarung di Pilkada Jabar, dimana kekuatan ummat akan terpecah.

Kemungkinan pasangan Sudrajat – Syaikhu diusung Gerindra – PKS – PAN, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi diusung Golkar – Demokrat, Ridwan Kamil – Uu Rusdiana diusung PPP – Nasdem – PKB – Hanura, dan tersisa cagub pilihan PDIP.

Deddy Mizwar dan Syaikhu adalah tokoh yang cukup dekat dan cukup mewakili kepentingan ummat. Masing-masing mempunyai kapasitas membangun Jawa Barat. Ironisnya, mereka dipecah dan diadu dalam gelanggang.

Keempat, dengan suara minimal 30 persen tidak terlalu berat bagi penguasa untuk meraih dukungan dan kemenangan dengan segala fasilitas yang dimiliki. Demiz – Demul bisa disebut incumbent dalam kontestasi Pilkada Jabar ini secara lokal.

Tetapi keterlibatan penguasa pusat nampak terasa dengan banyaknya drama sejak proses pencalonan. Uniknya, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan tidak memiliki peran berarti dalam prosesi Pilkada ini, dimana seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh PKS.

Terasa ketidaksinambungan dalam Pilkada Jabar ini yang membingungkan ummat. Kebingungan yang akan membuat kocar kacir dan saling beradu di lapangan.

Kelima, prosesi Pilkada hingga hari H akan terus memanas. Drama saling sikut, saling khianat dan fitnah bertebaran. Kekuatan ummat dijebak untuk beradu dan saling mematikan.

Tidak akan ada putaran kedua dan akan muncul kejutan. Kekuatan ummat yang seharusnya bersatu dan seiring, dipecah belah demi kemenangan calon lain.

Semoga yang terpilih dapat memberi manfaat sebesarnya kepada masyarakat Jabar. Dari setiap krisis tersembunyi peruntungan dan akan lahir kesempatan yang tidak terduga. (***)

Taufiq Amrullah

Penulis adala Direktur Progres Indonesia



Komentar Pembaca
PKS: Prabowo-Anies Hanya Sebatas Wacana
Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

, 13 JULI 2018 , 15:00:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Kampanyekan Gatot-Anies

Kampanyekan Gatot-Anies

, 08 JULI 2018 , 03:42:00

Asyik Bergoyang

Asyik Bergoyang

, 08 JULI 2018 , 09:41:00